Scroll untuk baca artikel
TANGGAMUS

Jalan Rusak Bertahun-tahun, Akses Wisata Pantai Soumil di Tanggamus Jadi Monumen Omon-Omon Pembangunan

×

Jalan Rusak Bertahun-tahun, Akses Wisata Pantai Soumil di Tanggamus Jadi Monumen Omon-Omon Pembangunan

Sebarkan artikel ini
Foto: Jalan poros Pekon Karang Anyar menuju Pantai Soumil, akses vital masyarakat sekaligus satu-satunya jalur menuju destinasi wisata unggulan lokal telah bertahun-tahun dibiarkan hancur tanpa rasa bersalah, (foto_sus)

TANGGAMUS – Satu ruas jalan di Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, Lampung, menjadi bukti paling jujur bahwa janji pembangunan sering kali terdengar lebih mulus dibanding aspal yang benar-benar dikerjakan pemerintah.

Jalan poros Pekon Karang Anyar menuju Pantai Soumil, akses vital masyarakat sekaligus satu-satunya jalur menuju destinasi wisata unggulan lokal telah bertahun-tahun dibiarkan hancur tanpa rasa bersalah. Lubang-lubang menganga, badan jalan rusak berat, genangan air yang seolah menjadi “ornamen resmi” yang diwariskan dari satu periode kepemimpinan ke periode berikutnya.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Sebagaimana rilis yang diterima Wawai News menyebutkan bahwa pantauan di lapangan pada Jumat, 1 Januari 2026, dimana para wisatawan akan melepas penat di hari libur itu, namun keadaan menunjukkan kondisi jalan yang bahkan sulit disebut sebagai infrastruktur.

Ironisnya, di atas meja rapat pemerintah daerah, ruas jalan ini seolah tak pernah ada. Mungkin karena lokasinya tak masuk jalur foto seremonial, atau dianggap kurang strategis bagi kepentingan pencitraan.

BACA JUGA :  BLT Dana Desa Tiba di Pekon Dadirejo: 10 Warga Bernapas Lega di Tengah Harga yang “Bikin Sesak”

Padahal, jalan ini merupakan satu-satunya akses menuju Pantai Soumil, destinasi yang kerap dielu-elukan sebagai aset pariwisata daerah. Ribuan pohon cemara yang kini tumbuh di kawasan pantai seolah sedang mempertaruhkan hidup dan mati, bukan karena cuaca, melainkan karena akses yang tak pernah layak.

Pemerintah daerah rajin berbicara soal potensi wisata, peningkatan kunjungan, hingga wacana mendatangkan investor asing. Namun satu hal tampaknya luput dari perhitungan, wisatawan tidak datang menggunakan helikopter.

Supriyadi, warga Pekon Kalirejo, salah satu wilayah penyangga Pantai Soumil menyampaikan ironi itu dengan lugas.

“Pantainya bagus, tapi jalannya rusak parah. Banyak orang kapok datang,” ujarnya, sebuah evaluasi jujur yang tampaknya belum pernah benar-benar masuk laporan dinas terkait.

Keluhan serupa disampaikan Topari, warga Pekon Karang Anyar. Menurutnya, kondisi jalan bukan lagi sekadar rusak, melainkan membahayakan.

BACA JUGA :  Buaya Raksasa 4,5 Meter Pemangsa Manusia di Sungai Way Semaka Tanggamus Akhirnya Ditangkap!

“Ini bukan sekadar rusak, tapi mengancam keselamatan. Salah ambil jalur bisa jatuh,” tegasnya.

Dampak paling memilukan dirasakan anak-anak sekolah. Setiap pagi dan sore, mereka harus melintasi jalan rusak ini, seolah mengikuti pelajaran tambahan bertajuk bertahan hidup di negeri sendiri.

Solihin, warga setempat, mengatakan kecelakaan kecil sudah menjadi rutinitas.
“Kalau hujan, kubangan di mana-mana. Anak-anak sering jatuh, baju basah, kotor, bahkan luka. Tapi jalannya tetap dibiarkan,” ungkapnya.

“Entah pemerintah menunggu viral lebih dulu, atau memang sudah kebal terhadap keluhan rakyat kecil” sindir Solihin.

Lebih jauh, jalan Karang Anyar menuju Pantai Soumil juga menjadi akses utama warga Dusun Umbul Kalong yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan tambak. Saat panen, distribusi hasil tambak kerap terhambat akibat kondisi jalan.

“Jalan rusak selalu dijadikan alasan tengkulak menekan harga. Kami yang rugi,” keluh seorang petambak. Di titik ini, jalan rusak tak lagi sekadar persoalan infrastruktur, melainkan berubah menjadi alat pemiskinan struktural.

BACA JUGA :  Semangat Lingkungan! Sekdes Burgandi Pimpin Aksi Bersih-Bersih di Pekon Tanjung Agung

Warga menilai pembiaran ini sebagai cermin buruknya kinerja pemerintah daerah dan dinas teknis terkait. Janji perbaikan hanya terdengar saat kampanye atau forum resmi, lalu menghilang bersamaan dengan padamnya mikrofon.

Pemerintah boleh terus berbicara tentang pembangunan berkelanjutan, pariwisata unggulan, dan ekonomi kerakyatan. Namun selama jalan menuju Pantai Soumil masih berupa kubangan, semua itu tak lebih dari jargon kosong, keras di spanduk, rapuh di lapangan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, Pantai Soumil akan tetap menjadi simbol ironi, indah dari kejauhan, menyakitkan saat didekati. Dan pemerintah daerah akan dikenang bukan karena prestasi, melainkan karena kepiawaian merawat kerusakan sambil terus berbicara tentang kemajuan. ***