LAMPUNG TIMUR – Warga Desa Sribhawono, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur, sempat dibuat naik darah sekaligus naik pohon. Sebabnya, jejak kaki yang diduga milik Harimau Sumatera mendadak muncul di area perladangan dan langsung memicu kepanikan massal.
Namun, setelah dianalisis oleh pihak berwenang, “harimau” yang menghebohkan warga itu terancam turun kasta dari raja rimba menjadi sekadar jejak anjing atau kucing liar berukuran besar.
Hal tersebut disampaikan Irhamuddin, Ahli Pertama Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah (SKSDAW) III Lampung, melalui rilis tertulis yang diterima media ini, Kamis (8/1/2026).
“Berdasarkan perbandingan ukuran tapak, bentuk bantalan kaki, dan pola jejak, sementara ini tidak mengarah pada Harimau Sumatera,” tulis Irham.
“Karakteristiknya lebih mendekati jejak anjing, atau kemungkinan lain satwa golongan kucing liar seperti macan dahan atau kucing emas.”
Dengan kata lain, sang “harimau” masih dalam status, tersangka belum tentu terdakwa.
Irham menegaskan, selama 25 tahun terakhir tidak pernah ada laporan resmi keberadaan Harimau Sumatera di wilayah tersebut. Ditambah lagi, secara ekologis lokasi temuan jejak tidak terhubung dengan kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK).
“Tidak ada koridor satwa yang menghubungkan lokasi temuan dengan TNWK,” tambahnya, seolah menegaskan bahwa harimau juga butuh jalan tol ekologi, bukan muncul tiba-tiba di ladang warga.
Meski begitu, pihak BKSDA menegaskan analisis ini masih bersifat sementara dan akan diperkuat dengan observasi lanjutan di lapangan.
Di tengah simpang siur informasi, Irham juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada namun tidak panik berlebihan. Terutama, kata dia, tidak perlu menyambut jejak satwa dengan senapan angin seperti yang tampak dalam video viral di media sosial.
“Macan dahan Sumatera (Neofelis diardi diardi) bukan satwa yang menyerang manusia,” tegas Irham.
“Mohon tetap tenang, jangan mengganggu, dan laporkan jika ada indikasi keberadaan satwa liar ke Call Center kami di 08117997070.”
Pesan tersiratnya jelas, jangan semua yang bercakar empat langsung dianggap ancaman nasional.
Sementara itu, versi lapangan dari warga menyajikan cerita yang jauh lebih dramatis. Kepala Desa Sribhawono, Buih Wisnu Prabowo, membenarkan adanya laporan warga yang mengaku melihat langsung harimau di perladangan Dusun 2, Kamis pagi sekitar pukul 09.00 WIB.
“Saksi kami, Pak Pujiono, langsung memanjat pohon karena melihat dua ekor harimau dewasa dan seekor anaknya,” ujar Wisnu.
Dari atas pohon, kata Wisnu, warga tersebut menyaksikan aktivitas satwa yang jaraknya sekitar 30 meter. Setelah beberapa jam menunggu dan satwa itu menghilang, barulah laporan disampaikan ke aparat desa.
Aparat gabungan dari desa, kecamatan, kepolisian, dan Koramil kemudian turun ke lokasi. Di sana, menurut Wisnu, jejak kaki yang diduga harimau terlihat cukup jelas.
“Dari kesaksian warga, itu Harimau Sumatera,” katanya, menegaskan keyakinan warga yang belum sepenuhnya sejalan dengan analisis ahli.
Camat Bandar Sribhawono, Deki Ismirawansyah, menyatakan pihaknya langsung berkoordinasi dengan TNWK dan BKSDA setempat. Ia mengimbau warga agar meningkatkan kewaspadaan, terutama saat menuju perladangan.
“Kalau mau ke kebun, jangan sendirian dan tetap hati-hati,” ujarnya.
Hingga kini, “harimau” Sribhawono masih berada di persimpangan antara fakta ilmiah dan cerita lapangan. Apakah benar Harimau Sumatera, macan dahan, kucing emas, atau sekadar anjing besar yang salah paham semua masih menunggu kepastian.
Yang jelas, satu pelajaran penting muncul dari kejadian ini, di era video viral dan kepanikan kolektif, tidak semua yang bercorak belang harus langsung diberi mahkota raja rimba. Kadang, yang dibutuhkan bukan panik massal, melainkan senter, penggaris jejak, dan sedikit kesabaran.***













