LAMPUNG TIMUR – Di saat umat Muslim tengah menjalani Ramadan dengan penuh kekhusyukan, warga Desa Gunung Sugih Besar, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, justru harus menghadapi “tamunya yang tak diundang”: wabah lalat.
Serbuan lalat yang diduga berasal dari aktivitas peternakan ayam di wilayah tersebut membuat kehidupan warga terganggu. Ironisnya kondisi itu terus berulang bertahun-tahun, mulai dari aktivitas makan, istirahat, hingga ibadah. Wabah ini bukan cerita baru melainkan “drama tahunan” yang terus berulang tanpa solusi nyata.
Warga bahkan khawatir wabah lalat ini akan terus berlangsung hingga Idulfitri 1447 H yang tinggal menghitung hari.
Keluhan Warga Meledak di Media Sosial
Keresahan warga memuncak setelah salah satu warga menuliskan keluhannya di grup Facebook Desa Gunung Sugih Besar.
Dalam unggahan tersebut, ia meminta perhatian aparat desa agar segera mencari solusi atas persoalan lalat yang semakin meresahkan.
“Assalamualaikum, saya pribadi minta maaf kalau status ini menyinggung warga Gunung Sugih Besar. Saya minta solusi kepada RT, RW, Kadus, dan aparat desa agar lalat ini bisa dimusnahkan dari Gunung Sugih Besar. Sangat mengganggu,” tulisnya.
Unggahan itu langsung memicu respons warga lain yang mengaku mengalami hal serupa.
“Betul sekali, lalatnya bikin resah. Mau tidur siang saja susah betul,” tulis anggota grup lainnya.
Di dunia maya, keluhan warga tampak ramai. Namun di dunia nyata, solusi masih terasa sunyi bahkan lebih sunyi dari ruang rapat yang seharusnya membahas masalah ini.
Diduga Bersumber dari Peternakan Ayam
Di desa tersebut terdapat perusahaan peternakan ayam petelur milik PT Central Avian Pertiwi (CAP). Warga menduga kuat populasi lalat yang melonjak setiap tahun berasal dari aktivitas peternakan tersebut.
Menurut warga, persoalan ini sebenarnya sudah berkali-kali diprotes. Namun hingga kini belum ada solusi konkret, baik dari pihak perusahaan maupun pemerintah desa dan dinas terkait.
Masalah ini bahkan disebut sudah berlangsung bertahun-tahun dan menjadi “tradisi tahunan yang tak pernah diundang, tapi selalu datang tepat waktu.”
Warga Sindir Aparat Desa
Kekecewaan warga tidak hanya ditujukan pada perusahaan, tetapi juga kepada aparat desa yang dinilai lamban merespons keluhan masyarakat.
Seorang warga dengan nada satir menyampaikan bahwa respons aparat desa terkadang terasa mirip perilaku lalat itu sendiri.
“Kalau warga mengadu, aparat desa kadang seperti lalat juga, datang, hinggap sebentar, lalu menghilang,” ujarnya sambil mengibas-ngibaskan sapu lidi ke udara.
Sindiran itu juga memunculkan dugaan di kalangan warga mengenai adanya “hubungan khusus” antara perusahaan dan oknum kepala desa sendiri dari informasi beredar diduga mendapat jatah limbah tahi ayam dari aktivitas perusahaan peternakan tersebut.
Meski dugaan tersebut belum terbukti, kecurigaan masyarakat muncul karena keluhan yang terus berulang seolah tidak pernah benar-benar ditindaklanjuti.
Bagi warga Gunung Sugih Besar, lalat bukan sekadar serangga kecil yang mengganggu. Ia telah berubah menjadi simbol masalah lingkungan yang tak kunjung diselesaikan. Ironisnya warga belum bisa berdamai dengan lalat itu sendiri.
Di tengah bulan Ramadan yang seharusnya menjadi waktu ketenangan dan kebersihan, warga justru harus menghadapi pemandangan lalat beterbangan di rumah, dapur, hingga tempat ibadah.
Dan bagi sebagian warga, persoalan ini bukan sekadar soal lalat, melainkan soal kepedulian yang terasa makin jarang hinggap di desa mereka.***












