Scroll untuk baca artikel
InfrastrukturLampung

Jembatan Mangkrak Kali Pasir: Anak Sekolah Mendayung, Janji Politik Berlayar

×

Jembatan Mangkrak Kali Pasir: Anak Sekolah Mendayung, Janji Politik Berlayar

Sebarkan artikel ini
Penampakan warga Desa Kali Pasir, harus menyebrang dengan getek ke Desa Tanjung Tirto saat air sungai tinggi , sementara jembatan yang dibuat hanya tinggal tiang bukti kegagalan proyek - foto doc ist

Jembatan Beton, Janji Beton, Nasib Rakyat Tetap Mengapung

LAMPUNG TIMUR – Di Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur, waktu seolah berhenti. Bukan karena keindahan alamnya, melainkan karena sebuah jembatan beton yang berdiri setengah hati tak selesai, tak berfungsi, tapi sangat rajin mengingatkan warga pada janji politik yang ikut menguap bersama musim kampanye.

Setiap pagi, pemandangan yang sama berulang, anak-anak sekolah berseragam rapi, guru-guru dengan tas mengajar, dan sebuah perahu geteng dayung yang menjadi “angkutan resmi” penyeberangan sungai. Bukan wisata edukasi, bukan kegiatan pramuka ini rutinitas wajib demi menjemput pendidikan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Ironisnya, tepat di hadapan mereka, berdiri megah rangka jembatan mangkrak. Tiang beton dan besi berkarat menjulang gagah, seolah monumen peringatan bahwa pembangunan bisa berhenti, tapi penderitaan rakyat harus tetap jalan.

BACA JUGA :  Harga Singkong Anjlok, Petani di Lamtim Merana

Jika air sungai sedang bersahabat, penyeberangan masih bisa dilakukan. Namun saat hujan turun dan arus mengganas, kecemasan ikut mendayung bersama. Anak-anak bisa terlambat, pulang lebih larut, bahkan terancam keselamatan.

“Kalau arus deras, kami waswas. Anak-anak bisa tidak sekolah,” ujar seorang warga dalam video yang kini viral, mengkritisi Gubernur Lampung dan Bupati Lampung Timur.

Sementara itu, di tempat lain, roda pemerintahan tetap berputar mulus di balik kantor ber-AC, mobil dinas mewah, dan rapat-rapat yang membahas “prioritas pembangunan”. Sayangnya, prioritas itu tampaknya belum sempat menyeberang ke Kali Pasir.

Warga menyebut proyek jembatan ini telah menyerap anggaran hingga puluhan miliar rupiah. Angka yang fantastis, jika dibandingkan dengan kenyataan di lapangan: jembatan tak bisa dilewati, ekonomi tersendat, dan pendidikan harus dibayar dengan keberanian mendayung.

BACA JUGA :  Lampion dan Miniatur Masjid, Meriahkan Malam Takbir di Sekampungudik

Tak sedikit warga yang mulai curiga, jangan-jangan jembatan ini sengaja dibiarkan mangkrak. Bukan karena kendala teknis, melainkan karena lebih menguntungkan jika dijadikan “stok janji” untuk pemilu berikutnya.

“Musim politik sudah lewat, tapi janji masih nyangkut di tiang jembatan,” celetuk warga, dengan nada getir bercampur humor pahit.

Kritik warga pun makin tajam. Mereka merasa telah menjalankan kewajiban sebagai warga negara—membayar pajak, menggaji wakil rakyat namun balasannya adalah ketidakpastian yang menahun.

“Kalau mau mikir, pakai otak, jangan pakai dengkul,” ucap seorang warga dalam video yang beredar. Kalimat sederhana, tapi cukup mewakili frustrasi panjang masyarakat Kali Pasir.

BACA JUGA :  Gubernur Janjikan Bonus Atlet Lampung Peraih Medali di PON XX Papua 2021

Sampai sekarang akhir Januari 2026 belum ada pernyataan resmi yang benar-benar memberi kepastian kapan jembatan tersebut akan diselesaikan. Yang pasti, setiap hari, anak-anak Kali Pasir tetap berangkat sekolah dengan dayung, bukan di atas jembatan yang dijanjikan.

Di sini, jembatan beton bukan lagi sekadar infrastruktur. Ia telah berubah menjadi simbol: tentang janji yang mangkrak, tentang pembangunan yang tertinggal, dan tentang rakyat kecil yang terus diminta bersabar sambil mendayung melawan arus.

Para siswa harus menaiki getek untuk menyeberang ke Desa Tanjung Tirto saat air sungai tinggi karena diguyur hujan deras. Mirisnya, terdapat jembatan yang pembangunannya terbengkalai sejak dua tahun lalu di dekat tempat para siswa mengantre untuk naik getek.***