Bagi Jokowi tentu saja lebih mengerikan. Sebab, reputasi Jokowi sebagai pemimpin sebuah negara yang akan menggelar perhelatan G20, yang bulan depan akan dilangsungkan di Indonesia, dapat dipertanyakan dunia.
Bagaimana mungkin mengamankan sebuah event raksasa jika pengamanan dilakukan oleh polisi yang kini justru perlu diamankan?
Baca juga: Buku Yusuf Blegur ‘Jokowi Pahlawan atau Penghianat’ Diapresiasi
Revolusi Mental Yang Gagal
Dalam tulisan saya dua bulan lalu berjudul “Rektor Koruptor dan Gagalnya Revolusi Mental”, saya telah membahas kegagalan revolusi mental ini.
Kembali pada kesempatan ini saya mengutip makna revolusi mental yang dimaksud Jokowi, yakni “suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala” (sumber situs Keminfo) dan “Revolusi mental Jokowi ditandai dengan prinsip integritas, etos kerja dan gotong royong. (situs Kemendikbud).
Melihat pengertian di atas sudah sepantasnya Jokowi bercermin bahwa revolusi mental itu sudah jauh dari harapan.
Baca juga: BBM Meroket dari Gorong-Gorong
Keinginan Jokowi yang disampaikan pada polisi di istana kemarin, yakni jangan bermewah-mewah diantara penderitaan rakyat saat ini, seperti pepatah mendulang air ke muka sendiri.
Sebab, dengan besarnya kekuasaan polisi dalam naungan Jokowi, tentu artinya itu cermin diri Jokowi sendiri, sebagai sebuah kesatuan.







