Scroll untuk baca artikel
Opini

Jenderal Dagang Narkoba, Catatan Delapan Tahun Revolusi Mental Jokowi

×

Jenderal Dagang Narkoba, Catatan Delapan Tahun Revolusi Mental Jokowi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi, Narkoba jenis sabu
Ilustrasi, Narkotika jenis Sabu

Bagi Jokowi tentu saja lebih mengerikan. Sebab, reputasi Jokowi sebagai pemimpin sebuah negara yang akan menggelar perhelatan G20, yang bulan depan akan dilangsungkan di Indonesia, dapat dipertanyakan dunia.

Bagaimana mungkin mengamankan sebuah event raksasa jika pengamanan dilakukan oleh polisi yang kini justru perlu diamankan?

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Baca juga: Buku Yusuf Blegur ‘Jokowi Pahlawan atau Penghianat’ Diapresiasi

Revolusi Mental Yang Gagal

Dalam tulisan saya dua bulan lalu berjudul “Rektor Koruptor dan Gagalnya Revolusi Mental”, saya telah membahas kegagalan revolusi mental ini.

Kembali pada kesempatan ini saya mengutip makna revolusi mental yang dimaksud Jokowi, yakni “suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala” (sumber situs Keminfo) dan “Revolusi mental Jokowi ditandai dengan prinsip integritas, etos kerja dan gotong royong. (situs Kemendikbud).

BACA JUGA :  Tambang, Ormas dan Pasal 33 UUD 1945

Melihat pengertian di atas sudah sepantasnya Jokowi bercermin bahwa revolusi mental itu sudah jauh dari harapan.

Baca juga: BBM Meroket dari Gorong-Gorong

Keinginan Jokowi yang disampaikan pada polisi di istana kemarin, yakni jangan bermewah-mewah diantara penderitaan rakyat saat ini, seperti pepatah mendulang air ke muka sendiri.

Sebab, dengan besarnya kekuasaan polisi dalam naungan Jokowi, tentu artinya itu cermin diri Jokowi sendiri, sebagai sebuah kesatuan.