JAKARTA — Presiden ke-7 RI Joko Widodo alias Jokowi dinilai tengah mengerahkan sisa tenaga politiknya. Kaesang Pangarep pun disebut “memeras darah” demi satu tujuan, memastikan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tetap hidup dan relevan sebagai kendaraan politik keluarga menjelang peta kekuasaan pasca-2029.
Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, menilai langkah tersebut bukan tanpa alasan. PSI disebut sebagai satu-satunya partai yang masih memungkinkan mengakomodasi hasrat Jokowi: mendorong duet Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka berlanjut ke periode kedua.
“Sangat wajar Jokowi bekerja mati-matian dan Kaesang menguras tenaga. Sebab, hanya PSI yang memang tersisa,” kata Erizal dalam keterangannya, Selasa (10/2/2026).
Menurut Erizal, sejak tahun lalu hampir dapat dipastikan tidak ada partai besar yang bersedia secara terbuka mengusung Prabowo–Gibran dua periode sebagaimana keinginan Jokowi. Harapan itu awalnya ditambatkan ke PAN dan Golkar. Namun, realitas politik berkata lain.
Gerindra, kata Erizal, sudah tertutup rapat karena Prabowo adalah pemilik partai sekaligus pusat orbit kekuasaan. PKB memang mendukung Prabowo dua periode, tetapi tanpa menyebut nama Gibran. PAN pun sempat bicara soal kelanjutan kekuasaan, namun justru memunculkan nama Zulkifli Hasan bukan Gibran.
“PAN sudah menyebut dua periode, tapi yang dipromosikan malah Zulkifli Hasan, bukan Gibran,” ujar Erizal.
Sementara itu, Demokrat, NasDem, PKS, dan terutama PDIP dinilai nyaris mustahil mengusung Gibran. PDIP bahkan disebut konsisten berada di garis berseberangan setiap kali nama Gibran mencuat dalam wacana politik nasional.
“Di mana ada nama Gibran, di situ PDIP hampir pasti jadi oposisi,” kata Erizal.
Golkar pun belum memberi angin segar. Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia baru menegaskan dukungan terhadap pemerintahan Prabowo–Gibran sebatas hingga 2029. Urusan setelah itu, kata Bahlil, harus melalui mekanisme internal partai lewat Mukernas.
Keputusan Golkar, tegas Erizal, tidak sepenuhnya berada di tangan ketua umum. Bahkan relasi personal dan politik antara Jokowi dan Bahlil belum tentu cukup kuat untuk meloloskan Gibran sebagai pendamping Prabowo di periode berikutnya.
“Artinya, meski Ketum Bahlil sudah banyak ‘makan budi’ Jokowi, urusan mengusung Gibran itu tidak sesederhana membalas jasa,” ujar Erizal.
Dalam situasi inilah PSI tampil bak panggung terakhir. Partai muda yang dipimpin Kaesang itu dinilai bukan sekadar alat politik, melainkan simbol perlawanan terakhir Jokowi terhadap realitas politik yang kian menjauh dari lingkar keluarganya.
Satirnya, di tengah sistem multipartai yang gemuk dan penuh elite, justru partai paling kurus yang kini memikul ambisi paling besar.
PSI bukan sekadar partai ia adalah harapan terakhir. Dan dalam politik, harapan terakhir sering kali bertarung bukan dengan lawan, melainkan dengan waktu.***












