BANDUNG – Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat kembali mengukuhkan siapa saja desa dan kelurahan yang dianggap paling pinunjul bukan sekadar rajin administrasi, tapi juga piawai membuktikan bahwa pembangunan tidak selalu berhenti di spanduk dan baliho.
Melalui Anugerah Gapura Sri Baduga (AGSB) Desa dan Kelurahan Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2025, Pemdaprov Jabar resmi mengumumkan para juara yang berhasil lolos dari seleksi panjang, ketat, dan yang terpenting bukan seleksi berbasis “asal dekat”.
Prosesi penganugerahan dikemas megah dalam balutan Drama Musikal Rahvayana di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Kota Bandung, Selasa malam (30/12/2025). Sebuah pesan simbolik: membangun desa dan kelurahan bukan sekadar soal angka, tapi juga soal rasa dan makna.
Penetapan pemenang tertuang dalam Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor Kep.043/PMD.01.02-BINDES/2025, hasil dari rangkaian seleksi berjenjang mulai dari paparan lima besar hingga klarifikasi lapangan. Singkatnya, bukan juara dadakan, apalagi juara karbitan.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan, kemenangan ini tidak berhenti pada piagam dan tepuk tangan. Para juara akan memperoleh apresiasi nyata berupa alokasi anggaran pembangunan tahun 2026.
“Anggarannya tidak turun dari langit dan tidak pula berdiri sendiri. Perencanaannya kolaboratif—provinsi, kabupaten/kota, sampai desa dan kelurahan,” ujar KDM, sapaan akrab Gubernur yang dikenal gemar berbicara lugas tanpa metafora berlebihan.
Pesan KDM jelas dan tanpa basa-basi. Tahun 2026 bukan lagi zamannya laporan indah tapi realita pahit.
“Tidak boleh lagi ada rumah rakyat miskin yang tidak layak huni. Tidak boleh ada jalan rusak yang dibiarkan jadi wisata kubangan. Semua warga harus punya listrik, air bersih, dan toilet yang manusiawi,” tegasnya.
Gotong Royong: Modal yang Tidak Masuk APBD
Kebanggaan pun datang dari akar rumput. Kepala Desa Pangauban, Asep Peri Herdiana, mengaku penghargaan Pinunjul Kahiji bukan hasil kerja kepala desa semata, melainkan akumulasi gotong royong warga.
“Ini bukan garis finis, tapi pintu masuk. Kami ingin memastikan kemenangan ini berbuah kesejahteraan nyata, bukan sekadar cerita saat lomba,” ujar Asep sebuah pernyataan yang terdengar sederhana, tapi justru langka.
Nada serupa disampaikan Lurah Sindangrasa, Derry Yusman, yang tak menampik keterbatasan fasilitas. Namun, ia menegaskan bahwa semangat kolektif sering kali lebih mahal nilainya daripada sekadar angka anggaran.
“Kami bekerja dengan apa yang ada, tapi dengan siapa yang mau bersama. Itu kuncinya,” katanya.
Sebagai catatan, AGSB 2025 bukan kompetisi kecil-kecilan. Sebanyak 5.311 desa dan 646 kelurahan dari 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat ikut dievaluasi. Penilaian menitikberatkan pada tata kelola pemerintahan, inovasi pelayanan publik, serta efektivitas pemberdayaan masyarakat bukan sekadar keindahan presentasi.
Pemdaprov Jabar berharap para juara ini tak hanya puas berpose, tetapi menjadi role model bagi wilayah lain: bahwa pelayanan publik yang baik itu terasa langsung, bukan sekadar tertulis di laporan akhir tahun.
Daftar Pinunjul AGSB Jawa Barat 2025
Kategori Desa
- Pinunjul Kahiji: Desa Pangauban, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut
- Pinunjul Kadua: Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung
- Pinunjul Katilu: Desa Gunung Putri, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor
Kategori Kelurahan
- Pinunjul Kahiji: Kelurahan Sindangrasa, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis
- Pinunjul Kadua: Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi
- Pinunjul Katilu: Kelurahan Pasawahan, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. ***













