TANGGAMUS – Dana Desa (DD) di Pekon (desa-ed) Way Panas Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, Lampung, terindikasi digerogoti oleh oknum kepala pekon setempat, Hadibarto.
Hal itu terendus oleh Ketua Dewan Pimpinan Perkumpulan (DPP) Solidaritas Pemuda Peduli Pembangunan (SP3) Supriansyah saat melakukan kroscek di lapangan terkait penggunaan dana desa di pekon Way Panas berdasarkan laporan warga setempat pekan lalu.
Dugaan praktik korupsi oleh oknum Kepala Pekon Way Panas bernama Hadibarto terjadi di beberapa bidang kegiatan. Adapun indikasinya adalah kegaiatan di mark-up dan fiktif.
“Jadi begini, terkait dengan dugaan praktik korupsi yang dilakukan oleh oknum Kepala Pekon Way Panas ini, kami temukan kejanggalan ada dugaan mark-up, pada kegiatan,” ungkap Supriansyah kepada Wawai News, Senin 2 September 2024.
Dia menjelaskan, pada kegiatan pembangunan rabat beton yang menggunakan dana desa pada tahun 2023 lalu terjadi pengurangan kapasitas atau ukuran dalam pembangunan fisik.
“Selain itu ada indikasi penggelembungan anggaran dalam pembelian material serta penggelebungan anggaran dalam belanja modal sarana dan prasarana atau barang,” jelas Supriyan.
Supriyansyah memberikan contoh pembangunan fisik yang kapasitasnya diduga dikurangi dan anggaran belanja bahan baku atau materialnya di mark-up oleh oknum Kepala Pekon Way Panas, Hadibarto.
“Ya berdasarkan informasi berupa data dan keterangan dari warga, bahwa pada tahun 2023 ada pembangunan rabat beton sepanjang 300 meter dan labar 3 meter dengan ketebalan 0,15 meter menelan anggaran ratusan juta rupiah,”papar Suprian.
Pembangunan rabat beton tersebut lanjut Suprian, semestinya dapat digunakan oleh masyarakat dalam jangka panjang, namun diduga rabat beton tersebut dikerjakan asal-asalan, sehingga baru seumur jagung sudah rusak.
Hal itu memunculkan spekulasi miring terkait pelaksanaan pekerjaan proyek itu oleh oknum Kakon Way Panas. Kerusakan bangunan yang baru selesai mengindikasikan pekerjaan rabat beton ini tidak sesuai spek ukuran yang semestinya dengan lebar 3 meter malah dibangun hanya 2,5 meter.
“Bukan hanya itu saja, bahan baku atau material juga di mark-up atau di gelembungkan oleh oknum Kakon Way Panas,”kata Supriyan yang enggan merincikan kegiatan lain yang terindikasi digrogoti sang Kakon.
“Bukan Enggan, tapi belum waktunya karena semua akan kita cross chek dulu,” tutup Supriyan.
Hingga berita ini terbit, Kepala Pekon (desa) Way Panas, Hadi Barto belum berhasil dikonfirmasi.
Sementara masyarakat pekon setempat mengungkap bahwa Kepala Pekon Way Panas susah untuk dihubungi maupun ditemui.
“Kakonnya susah ditemui” ungkap warga Pekon Way Panas.***