Scroll untuk baca artikel
Lampung

Ketika Dapur Terbakar, “Rumah” Itu Ikut Hangus: Kisah Ibu Sarah, Janda Tangguh yang Menunggu Uluran Hati Negeri

×

Ketika Dapur Terbakar, “Rumah” Itu Ikut Hangus: Kisah Ibu Sarah, Janda Tangguh yang Menunggu Uluran Hati Negeri

Sebarkan artikel ini
Kondisi bagian dapur rumah Ibu Sarah (57) sisa kebakaran ludes dilahap si Jago Merah, Jumat (5/12) - Foto Jali

SEKAMPUNG UDIK Asap menggantung rendah di Dusun III, Desa Gunung Sugih Besar, Jumat siang itu. Bau kayu hangus bercampur aroma santan gosong jejak terakhir dari dapur yang selama bertahun-tahun menjadi saksi perjuangan seorang perempuan bernama Ibu Sarah (58). Seorang janda, seorang nenek, seorang pejuang garis depan kehidupan yang kali ini kalah oleh api, tapi belum tentu oleh nasib.

Peristiwa itu terjadi cepat, jauh lebih cepat daripada proses warga kecil meminta bantuan ke pemerintah. Pukul 11.25 WIB, seorang warga bernama Karim melapor soal kobaran api. Tujuh menit kemudian, satu armada Damkar Zona Sekampung Udik tiba. Mereka gesit, sigap, dan jelas bekerja lebih cepat daripada birokrasi yang kadang gemar menunda sambil rapat.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Dipimpin Danru Benny Prastya, empat personel itu berjibaku hingga 12.26 WIB, mematikan amukan api sebelum ia berubah menjadi tragedi satu RT.

BACA JUGA :  Kampanye di Way Bungur, Ketua Tim Relawam DAI Pastikan Dawam Bukan Calon 'Boneka'

Tidak ada korban jiwa. Yang terluka hanya ingatan dan harapan miliki Ibu Sarah, janda berusia setengah abad lebih yang kini berdiri di antara puing dapur yang selama ini menjadi wilayah perjuangannya merawat cucu, menghidupi rumah, dan menakar masa depan.

Kerugian ditaksir Rp50 juta. Jumlah yang, bagi pejabat daerah, mungkin tak lebih mahal dari sekali perjalanan dinas. Tapi bagi seorang janda di desa, angka itu setara dengan runtuhnya sebuah pondasi hidup.

Rumah Retak, Ekonomi Seret, Namun Hidup Harus Terus Diseret

Sejak api padam, Ibu Sarah dan cucunya tak lagi punya tempat aman untuk duduk beristirahat. Dapur habis, bagian rumah rusak, sementara musim hujan tak tahu diri datang tanpa peduli siapa yang punya atap dan siapa yang tak lagi punya.

Beberapa warga menyampaikan empati, menawarkan bantuan seadanya. Ada yang membawa air mineral, ada yang membawa tikar. Ada juga yang membawa doa meski doa jarang bisa mengganti seng yang hangus.

BACA JUGA :  Marindo Kurniawan Resmi Jadi Pj Bupati Pringsewu, Gantikan Posisi Adi Erlansyah

Di sela puing itu, seorang warga berkata lirih:“Yang begini nih, harusnya ibu-ibu pejabat turun lihat. Biar tahu kalau rakyat itu bukan cuma data di kertas laporan.”

Kalimat itu menggantung seperti asap sisa kebakaran perih, tapi jujur.

Dari Dusun yang Sunyi, Terselip Harapan Berbunyi

Warga kini berharap pemerintah desa maupun kabupaten tidak sekadar mengirim “perhatian standar” jenis perhatian yang biasanya hanya berupa kalimat simpati dan foto untuk dokumentasi.

Yang dibutuhkan Ibu Sarah adalah solusi darurat, tempat tinggal sementara, bantuan dasar, dan kalau mau sedikit idealis kehadiran pejabat yang benar-benar melihat warga bukan sebagai objek seremonial.

Sebab di desa kecil seperti ini, menjadi janda berarti dua kali berjuang: melawan hidup, dan melawan kenyataan bahwa bantuan sering datang lambat kecuali saat musim kampanye.

BACA JUGA :  Tri Adhianto Ngamuk Lagi! Galian Fiber Optik Rusak Jalan Pondok Gede, Pemkot Bekasi Ancam Lapor Polisi

Namun, meski dunia tak selalu ramah, warga Dusun III masih memilih berdiri bersama.

“Ayo kita gotong royong bersama,” ujar seorang warga.

“Karena menunggu bantuan resmi itu suka lama, tapi membantu sesama tak perlu izin.”imbuhnya.

Ketika Api Menguji, Kemanusiaan Harus Muncul dari Abu

Kisah kebakaran ini bukan sekadar soal dapur yang hangus, melainkan tentang seorang janda yang terus berdiri, meski hidup berkali-kali mencoba membuatnya jatuh.

Di tengah semua ironi, ada satu pesan yang lahir di antara bara dan puing:

Bahwa negara ini mungkin besar, pejabatnya mungkin banyak, tapi kekuatan sesungguhnya sering justru datang dari warga yang saling merangkul bukan dari kursi yang tinggi, melainkan dari hati yang peduli.

Dan selama warga seperti Ibu Sarah masih ada, perjuangan manusia kecil akan selalu menyala, bahkan setelah api padam.***