Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Ketimpangan Skill Menjadi Problem Dasar Lapangan Kerja

×

Ketimpangan Skill Menjadi Problem Dasar Lapangan Kerja

Sebarkan artikel ini
Menteri Tenaga kerja M. Hanif Dhakhiri, usai membuka Job Fair Nasional di Bekasi (f-kamelia)

wawainews.ID, Bekasi – Masalah mendasar lapangan kerja di Indonesia ada pada ketimpangan skill atau keahlian. Ketersediaan lapangan kerja cukup banyak, tetapi terjadi meet match diatas 50 persen dari angkatan kerja tersedia.

“Problem dasar kita, bukan lapangan kerja, tetapi ketimpangan skill, ada lapangan kerja, tetapi angkatan kerjanya tidak punya skill, ada lapangan kerja tetapi skill-nya tidak nyambung,” ungkap Menteri Ketenaga Kerjaan, M. Hanif Dhakhiri,, usai membuka Job Fair di Bekasi, Rabu (4/4/2019).

Example 300x600
Scroll untuk baca artikel

Baca Juga : Ribuan Lowongan Kerja Tersedia di Job Fair Nasional di Bekasi

Jumlah lapangan kerja yang tersedia banyak, akan menimbulkan pertanyaan ketika masih banyak angkatan kerja yang nganggur. Ternyata, 58 persen dari 121 juta angkatan kerja di Indonesia adalah lulusan SD dan SMP. Ssisanya, sebanyak 42 persen lulusan SMA, SMK, Diploma dan Sarjana.

“Contohnya, ada 10 orang angkatan kerja kita, enam orang lulusan SD, SMP. Tersisa empat orang, yaitu lulusan SMA, Diploma dan sarjana. Sementara meet match, kita diatas 50 persen, maka yang terjadi dari 10 angkatan kerja sisa empat. Dan dari empat orang ini, hanya dua yang memiliki skill sesuai dengan dunia kerja. Duanya lainnya, hanya sekedar lulusan saja, tetapi skill tidak sesuai kebutuhan kerja,” tukasnya.

Target penciptaan lapangan kerja, sesuai janji pemerintah sudah terlampaui. Sesuai data dan fakta, di lapangan pekerjaan Indonesia ada 10.540.000 lapangan kerja.  Pemerintah, di 2019 ini akan terus melakukan perbaikan angkatan kerja, agar bisa memenuhi permintaan lapangan pekerjaan. Sehingga penciptaan lapangan pekerjaan bisa tercapai 2 juta ditahun ini.

Berbicara mengenai tenaga kerja, yang pertama mengenai kualitas. Kendalanya, kualitas bagus tapi tidak banyak. Kemudian yang kedua berbicara kuantitas. Permasalahannya, ada di jumlah masih relatif terbatas. Kemudian persoalan ketiga adalah persebaran. “Ketiganya akan diselesaikan melalui penguatan akses pendidikan dan pelatihan vokasi baik pelatihan pekerja di pemerintah ataupun swasta. Semua kapasitas akan digenjot agar warga banyak memiliki skill yang baik dan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Dan ini adalah tugas negara,” pungkasnya. (M. Amin/CDN)