Scroll untuk baca artikel
Opini

KUD, Pangan dan Bencana De-Soehartoisasi

×

KUD, Pangan dan Bencana De-Soehartoisasi

Sebarkan artikel ini
Abdul Rohman Sukardi
Abdul Rohman Sukardi

Korporasi tidak boleh bermain ritel hingga tingkat desa. Cukup di pusat Kabupaten/Kota.

Usaha korporasi bermain grosir pada pusat kabupaten. Selebihnya menjadi ladang perekonomian rakyat. Melalui Koperasi dan UKM.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Itulah kisah KUD sebagai sarana pertahanan. Sekaligus percepatan kemajuan ekonomi masyarakat pedesaan. Pada era Presiden Soeharto.

BACA JUGA :  Catatan Akhir Tahun Dr. Syahganda Nainggolan (Sabang Merauke Circle)

Pada era reformasi, mengikuti arus de-Soehartoisasi, KUD diabaikan dan terbengkalai. Lini-lini perekonomian strategis dikuasai korporasi hingga desa-desa.

Kini (pada era reformasi) sering terjadi gejolak pangan. Khususnya harga-harga. Tanpa KUD, pemerintah relatif tidak memiliki tools membela petani.

Saprotan dan alsintan mahal. Keuntungannya dinikmati oleh rantai distribusi yang panjang.

Hasil produksi terkadang dihargai dengan murah. Khususnya ketika masa panen. Dimainkan mafia pangan.

BACA JUGA :  Sukses Pimpin SU 1 Maret 1949, Soeharto Dikagumi Belanda

Itulah bahayanya de-Soehartoisasi secara serampangan. Infrastruktur kedaulatan pangan yang dibutuhkan rakyat pun dibabat.

Harusnya KUD dihidupkan kembali. Bahkan dikembangkan lebih maju.

Sebagai alat pertahanan kedaulatan pangan. Juga pertahanan ekonomi masyarakat desa.

Bukankah begitu?

ARS (rohmanfth@gmail.com), 27-02-2024