TANGGAMUS — Aroma menyengat yang sejak beberapa hari terakhir mengambang di Dusun Tanjung Senang, Pekon Gedung, Kecamatan Cukuh Balak, Tanggamus, Lampung, akhirnya menguak sebuah misteri kematian yang sunyi.
Pada Jumat malam (28/11/2025), jajaran Polsek Cukuh Balak bersama Unit Inafis Polres Tanggamus menemukan kerangka manusia di rumah seorang lansia yang selama ini hidup seorang diri.
Penemuan itu berawal dari laporan warga yang mengira bau tak sedap tersebut berasal dari bangkai hewan.
Tidak ada yang menyangka bahwa di balik dinding rumah tua milik Usman (80), seorang petani sepuh yang dikenal pendiam, tersimpan tragedi kematian yang telah berlangsung berminggu-minggu tanpa seorang pun menyadarinya.
Mat Zen bin Azhari (40), adalah petani sekaligus tetangga dekat, yang pertama kali merasa ada yang janggal. Sebagai orang yang paling sering didatangi Usman sekadar mengobrol atau meminta bantuan kecil, ia heran karena hampir dua minggu lelaki renta itu tak lagi muncul.
Sore itu, sekitar pukul 17.30 WIB, Mat Zen memberanikan diri menuju rumah Usman. Namun sebelum mencapai pintu, aroma busuk yang menusuk menyergapnya. Naluri mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi.
Ia mundur dan segera melaporkan temuannya kepada Kepala Dusun Tanjung Senang, Mirsanto (42), yang lalu meneruskannya ke Kepala Pekon Gedung. Dari sanalah laporan resmi masuk ke Polsek Cukuh Balak.
Medan yang sulit ditembus membuat petugas baru tiba sekitar pukul 20.30 WIB. Gelap malam, udara lembab, dan bau menyengat yang menguar dari sekitar rumah kayu itu menjadi perpaduan mengerikan yang mengantar tim menuju sumber aroma.
“Setibanya di lokasi, dilakukan penyisiran di sekitar rumah korban hingga kemudian ditemukan kerangka manusia yang diperkirakan adalah korban,” kata Kapolsek Cukuh Balak, Ipda Ma’ruf Nurochim.
Kerangka itu ditemukan di sisi rumah, dalam kondisi tidak utuh. Polisi langsung memasang garis polisi, mengamankan area, dan memulai serangkaian langkah identifikasi bersama tenaga kesehatan dari Puskesmas Putih Doh.
Dari keterangan keluarga dan warga, Usman memang telah lama hidup sendirian. Rumahnya sepi, tetapi ia tetap menjalani rutinitas sederhana seperti belanja kebutuhan di warung sekitar.
Ketika rutinitas itu terhenti selama dua minggu, tidak ada yang menyangka bahwa kesepian itu telah menyimpan kematian.
“Diperkirakan korban sudah meninggal sekitar dua minggu sebelum ditemukan,” jelas Sulistiono, tenaga kesehatan yang ikut memeriksa kondisi kerangka.
Kematian tanpa saksi ini menambah lapisan misteri, bagaimana ia meninggal, kapan tepatnya, dan apa yang terjadi di hari-hari terakhirnya?
Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada bagian kerangka yang tersisa, namun tim Inafis tetap melakukan identifikasi lanjutan di RSUD Batin Mangungan, Kota Agung.
Emosi sempat menghangat ketika keluarga awalnya menolak pemeriksaan lebih jauh dan ingin memakamkan kerangka di samping rumah Usman. Namun setelah diberi pemahaman mengenai pentingnya identifikasi, mereka akhirnya setuju. Kerangka kemudian dievakuasi untuk pemeriksaan medis lebih lengkap.
Kapolsek Cukuh Balak menyampaikan belasungkawa sekaligus apresiasi kepada warga yang sigap melaporkan tanda-tanda mencurigakan.
“Atas nama jajaran Polsek Cukuh Balak, kami turut berduka atas kejadian ini. Kami menghargai kepedulian masyarakat yang segera melaporkan situasi mencurigakan,” ujarnya.
Meski penyebab kematian diduga alami, kasus ini meninggalkan banyak tanda tanya yang menggantung di udara Dusun Tanjung Senang.
Bagaimana hari-hari terakhir Usman? Apa yang ia hadapi sendirian di rumah tua itu? Dan berapa lama ia menunggu dalam kesunyian hingga akhirnya dunia baru menyadarainya melalui aroma kematian?
Yang pasti, tragedi ini menjadi pengingat pahit betapa rapuhnya kehidupan warga lansia yang hidup sendiri, jauh dari sorotan dan perhatian. ***













