Pada hari lebaran ke 5-6-7, biasanya dilanjutkan silaturahmi kepada keluarga jauh yang dituakan dan teman-teman dekat. Guru, kyai, tokoh masyarakat.
Maupun teman-teman sekolah dan sepermainan. Terkadang juga diselenggarakan reuni sekolah. Hari ke- 8 merupakan acara puncak lebaran ketupat. Lebaran “laku papat”.
Silaturahmi terkadang masih berlanjut setelah kupatan/lebaran ketupat. Khususnya para orang-orang yang dituakan yang tidak memiliki waktu keluar rumah selama 8 hari lebaran. Ia sibuk menerima tamu dalam rentang waktu itu. Kini ia ganti mengunjungungi kolega-koleganya yang masih hidup.
Jurnal lebaran tidak sama pada masing-masing keluarga. Akan tetapi pada prinsipnya hampir mirip. Biasanya juga diselingi acara lain. Seperti menghadiri openhouse, atau undangan-undangan reuni.
Lebaran di Trenggalek masih padat content silaturahmi. Menjalaninya seperti membaca buku jurnal perjalanan. Setiap kegiatan mirip lembaran-lembaran buku.
Banyak cerita, pengalaman, maupun kisah-kisah baru. Bisa menjadi healing tahunan di tengah dunia modern yang semakin mekanis dan individualis.
Daerah-daerah tertentu tradisinya sudah bergeser. Lebaran kilat. Hari pertama saja silaturahmi. Selebihnya meramaikan “tourism package”.
Daerah-daerah itu sepertinya perlu mengevaluasi lagi. Bahwa healing yang efektif itu ialah silaturahmi tanpa henti.
Bagaimana jurnal lebaran kalian?
ARS (rohmanfth@gmail.com), Jaksel 20-04-2024










