Scroll untuk baca artikel
Opini

Lebaran Journey

×

Lebaran Journey

Sebarkan artikel ini
foto Ilustrasi
foto Ilustrasi

Pada hari lebaran ke 5-6-7, biasanya dilanjutkan silaturahmi kepada keluarga jauh yang dituakan dan teman-teman dekat. Guru, kyai, tokoh masyarakat.

Maupun teman-teman sekolah dan sepermainan. Terkadang juga diselenggarakan reuni sekolah. Hari ke- 8 merupakan acara puncak lebaran ketupat. Lebaran “laku papat”.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Silaturahmi terkadang masih berlanjut setelah kupatan/lebaran ketupat. Khususnya para orang-orang yang dituakan yang tidak memiliki waktu keluar rumah selama 8 hari lebaran. Ia sibuk menerima tamu dalam rentang waktu itu. Kini ia ganti mengunjungungi kolega-koleganya yang masih hidup.

Jurnal lebaran tidak sama pada masing-masing keluarga. Akan tetapi pada prinsipnya hampir mirip. Biasanya juga diselingi acara lain. Seperti menghadiri openhouse, atau undangan-undangan reuni.

BACA JUGA :  Sang Arsitek 6-10-15: Ahmed Zaki Iskandar dan Jalan Panjang Golkar DKI Menuju 2029

Lebaran di Trenggalek masih padat content silaturahmi. Menjalaninya seperti membaca buku jurnal perjalanan. Setiap kegiatan mirip lembaran-lembaran buku.

Banyak cerita, pengalaman, maupun kisah-kisah baru. Bisa menjadi healing tahunan di tengah dunia modern yang semakin mekanis dan individualis.

Daerah-daerah tertentu tradisinya sudah bergeser. Lebaran kilat. Hari pertama saja silaturahmi. Selebihnya meramaikan “tourism package”.

Daerah-daerah itu sepertinya perlu mengevaluasi lagi. Bahwa healing yang efektif itu ialah silaturahmi tanpa henti.

BACA JUGA :  Akhirnya, Pemprov Lampung Izinkan Takbiran di Masjid dan Salat Ied Berjemaah

Bagaimana jurnal lebaran kalian?

ARS (rohmanfth@gmail.com), Jaksel 20-04-2024