TANGGAMUS — Upaya pelestarian budaya dan penguatan mitigasi bencana kembali mendapat ruang tersendiri di Kabupaten Tanggamus. Selama dua hari, 20–21 November 2025, sebanyak 30 peserta yang terdiri dari mulli-mekhanai, mahasiswa, pelajar, hingga pemerhati budaya mengikuti Lokakarya “Identitas Budaya dalam Arsitektur Lamban Langgakh sebagai Upaya Mitigasi Bencana Banjir”.
Kegiatan berlangsung di Lamban Langgakh Batin Alfian gelar Mastukhai, Pekon Pardawaras, Kecamatan Semaka, dan didukung Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2025 bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanggamus.
Ketua Pelaksana, Marlian Adi Saputra, dalam laporannya menegaskan bahwa Lamban Langgakh bukan sekadar warisan arsitektur masyarakat Lampung Pesisir, melainkan sistem pengetahuan lokal yang sarat nilai kearifan ekologis.
Struktur rumah panggung tradisional ini terbukti memiliki konsep adaptif terhadap lingkungan, khususnya dalam mengantisipasi banjir.
“Harapan kami, generasi muda mampu memahami peran penting Lamban Langgakh sebagai identitas lokal sekaligus inspirasi mitigasi bencana dalam tata ruang masa kini,” ujar Marlian.
Lokakarya ini turut dihadiri berbagai pemangku kepentingan, di antaranya perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tanggamus, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, BPK Wilayah VII Bengkulu-Lampung Haroni, tokoh adat Lampung Pesisir Pekon Pardawaras, Camat Semaka, kepala pekon setempat, serta Tim MGMP Sejarah Kabupaten Tanggamus.
Kehadiran mereka mempertegas bahwa pelestarian arsitektur tradisional merupakan agenda strategis lintas sektor.
Rangkaian kegiatan di hari pertama dengan pembukaan yang berlangsung meriah dengan penyambutan tamu agung dan penampilan Tari Sigeh Penguten. Selanjutnya, peserta dibekali tiga materi utama:
- Sejarah dan Filosofi Lamban Langgakh oleh tokoh adat Lampung Pesisir.
- Fungsi Arsitektur Tradisional dan Makna Lamban Langgakh dari akademisi budaya.
- Peran Generasi Muda dalam Pelestarian Warisan Budaya, disampaikan unsur Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Pengetahuan tersebut menjadi landasan peserta untuk memahami nilai-nilai yang tersemat pada arsitektur tradisional sebagai identitas sekaligus instrumen adaptasi lingkungan.
Kegiatan ini digelar oleh panitia yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, dan pemuda Tanggamus.
Susunan panitia meliputi:
- Penanggung Jawab: Marlian Adi Saputra
- Sekretaris: Selvia
- Bendahara: Agil Septa Priambodo
- Perlengkapan: Ferdi Andoni, Aldo, Mahesa
- Humas: Erik Tri Sanjaya
Pada kesempatan itu lebih dari 15 media partner turut mendukung, termasuk BPK Wilayah VII, Forum Genre Tanggamus, Museum Kekhatuan Semaka, komunitas budaya, hingga media lokal.
Dalam kegiatan lokakarya itu, sebanyak 30 peserta berasal dari beragam latar, antara lain:
- Mulli Mekhanai Bandar Agung dan Pardawaras
- Mahasiswa IKAM BNS dan STEBI Tanggamus
- Pelajar SMA/SMK
- Pemerhati budaya
- Masyarakat umum
Keragaman ini memperkaya perspektif diskusi serta mendorong kolaborasi lintas komunitas.
Lokakarya menghasilkan sejumlah luaran berupa dokumentasi audiovisual, materi edukasi, serta rekomendasi resmi pelestarian Lamban Langgakh untuk pemerintah daerah. Secara jangka panjang, kegiatan ini diharapkan dapat:
- Meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap arsitektur tradisional sebagai identitas kultural.
- Menjadikan Lamban Langgakh sebagai ikon wisata edukatif di Tanggamus.
- Memperkuat kerja sama pemerintah, masyarakat adat, akademisi, dan komunitas budaya dalam pemajuan kebudayaan.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pendidikan budaya, tetapi juga momentum penting untuk mengembalikan Lamban Langgakh sebagai referensi arsitektur adaptif yang relevan bagi pembangunan daerah di era modern. ***













