Scroll untuk baca artikel
Wisata

Longsor 200 Meter Hantam Hutan Bambu Bekasi, Ikon Wisata Ambruk dalam Semalam

×

Longsor 200 Meter Hantam Hutan Bambu Bekasi, Ikon Wisata Ambruk dalam Semalam

Sebarkan artikel ini
Destinasi wisata alam Hutan Bambu Margahayu yang selama ini menjadi ruang hijau kebanggaan Kota Bekasi, resmi ditutup sementara. Bukan karena sepi pengunjung, melainkan karena longsor sepanjang lebih dari 200 meter dengan kedalaman gerusan tanah mencapai 10 meter yang terjadi Rabu (11/2/2026) malam.

KOTA BEKASI – Destinasi wisata alam Hutan Bambu Margahayu yang selama ini menjadi ruang hijau kebanggaan Kota Bekasi, resmi ditutup sementara. Bukan karena sepi pengunjung, melainkan karena longsor sepanjang lebih dari 200 meter dengan kedalaman gerusan tanah mencapai 10 meter yang terjadi Rabu (11/2/2026) malam.

Dalam hitungan jam, kawasan yang dibangun swadaya warga selama tujuh tahun itu berubah dari tempat swafoto bernuansa alam menjadi lanskap retakan tanah dan aliran sungai yang menggila.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kepala Bidang Kepariwisataan Disparbud Kota Bekasi, Budiman, memastikan operasional wisata ditutup sementara guna menghindari risiko longsor susulan.

“Kita tutup dulu wisatanya. Karena kita belum tahu akan datang air lagi. Kalau ada air kiriman dan pintu air dibuka, ini masih bisa sliding lagi,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).

BACA JUGA :  Libur Lebaran, Wahana Flying Fox Jadi Incaran Anak-Anak

Istilah sliding itu kini bukan sekadar teori geoteknik. Jalan utama wisata dilaporkan terputus total, empat saung hanyut terbawa arus, dan satu saung lainnya menggantung di bibir longsoran menunggu nasib.

Spot-spot foto yang biasanya ramai unggahan media sosial, kini berganti panorama tebing tergerus. Bangku, meja santai, hingga akses jalan sepanjang 30 meter dengan lebar 1,2 meter ikut hilang tersapu.

Longsor diduga dipicu tingginya debit air kiriman dari hulu Kali Bekasi, menyusul pembukaan pintu bendungan secara ekstrem. Karena pengelolaan Kali Bekasi berada di bawah kewenangan Kementerian PUPR, Pemkot Bekasi menyatakan akan segera berkoordinasi dengan pemerintah pusat.

BACA JUGA :  Kunjungan di Pantai Mutun Membludak, Bupati Turun ke Lokasi

“Hutan Bambu ini ikon Kota Bekasi. Kami akan hitung kerugiannya dan mengusulkan rekonstruksi,” tegas Budiman.

Namun di lapangan, warga tak hanya menunggu hitung-hitungan. Mereka menunggu kepastian.

Ketua Zona 1 Pengurus Hutan Bambu, Emar Maryasi, yang juga menjabat Ketua RT setempat, menggambarkan kerusakan dengan nada prihatin.

“Satu saung sudah menggantung, bangku meja dan tempat duduk santai longsor terbawa arus,” katanya.

Beberapa rumah warga nyaris ikut terseret. Tempat pemotongan kambing di sekitar lokasi pun sebagian tergerus. Beruntung, tidak ada korban jiwa.

Hutan Bambu Zona 1 sendiri merupakan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) pertama di Bekasi, berdiri di jantung kota sebagai bukti bahwa ruang hijau bisa tumbuh dari inisiatif warga, bukan sekadar proyek di atas kertas.

BACA JUGA :  Danau Kemuning Sribhawono yang Jadi Buruan Pemudik Idulfitri

Tujuh tahun menanam bambu dan pandan untuk menahan abrasi, satu malam diterjang air kiriman.

Hutan Bambu Margahayu selama ini dikenal sebagai alternatif wisata murah meriah di tengah padatnya Kota Bekasi. Tempat warga berolahraga, bersantai, dan menikmati hijaunya bambu di tepi Kali Bekasi.

Kini, yang tersisa adalah pekerjaan rumah besar: rekonstruksi fisik dan evaluasi pengelolaan sungai.

Karena ikon kota tak cukup hanya disebut kebanggaan ia harus dilindungi.

Dan bagi warga Bekasi, Hutan Bambu bukan sekadar tempat berfoto. Ia adalah simbol gotong royong yang berharap bisa berdiri kembali, lebih kokoh dari sebelumnya.***