LAMPUNG TENGAH – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi pemenuhan gizi anak sekolah kembali memantik tanda tanya besar. Di SDN 1 Sukajaya, Kecamatan Anak Ratu Aji, Kabupaten Lampung Tengah, menu MBG penutup tahun 2025 justru tampil lebih mirip paket undian berhadiah ketimbang sajian makanan bergizi.
Pada Senin, 29 Desember 2025, siswa menerima dua buah jeruk, dua butir telur rebus, dua kotak susu ukuran 125 ml, serta satu bungkus biskuit Marie susu. Namun yang paling menyita perhatian bukan kandungan gizinya, melainkan tulisan mencolok di kemasan biskuit: “Temukan Hadiah”, mulai dari uang tunai Rp10 ribu hingga Rp100 ribu, logam mulia 1 gram, bahkan iPhone 16 Pro Max.
Alih-alih fokus pada protein, karbohidrat, dan kebutuhan nutrisi anak usia sekolah, MBG hari itu justru sukses mengalihkan perhatian ke mimpi dadakan jadi jutawan cilik.
“Itu MBG terakhir di tahun 2025. Katanya jatah dari Senin sampai Rabu digabung. Dapat telur, jeruk, susu, sama biskuit. Tapi… letak makanan bergizinya di mana?” ujar salah satu murid polos, dengan pertanyaan yang justru terdengar lebih dewasa dari para perancang program.
Pertanyaan itu menampar keras narasi besar pemerintah. Apakah gizi kini diukur dari jumlah kemasan, bukan kandungan? Atau jangan-jangan, anak-anak diajari sejak dini bahwa harapan hidup lebih baik datang dari undian, bukan dari nutrisi seimbang?
Dua telur dan dua jeruk tentu bukan musuh gizi. Namun saat disajikan tanpa nasi, tanpa lauk matang, tanpa sayur, dan ditutup dengan biskuit beraroma hadiah, MBG terasa kehilangan makna. Makan bergizi berubah jadi camilan berbungkus mimpi.
Ironisnya, ini terjadi di tengah gembar-gembor negara soal investasi sumber daya manusia dan generasi emas. Jika standar gizi anak sekolah direduksi menjadi susu mini, telur rebus, dan biskuit promosi, maka yang sedang dibangun bukan generasi unggul, melainkan generasi yang terbiasa diberi ilusi.
Program MBG seharusnya memberi energi untuk belajar, bukan sekadar mengenyangkan perut sementara atau memancing harapan menang iPhone. Ketika anak SD mulai mempertanyakan sendiri di mana letak gizinya, mungkin yang perlu dievaluasi bukan anak-anaknya, tapi dapur kebijakannya.
Karena pada akhirnya, gizi bukan soal gratis, melainkan soal keseriusan negara memberi yang layak. Hal itupun sempat dikeluhkan oleh orang tua murid ke pihak sekolah, namun tidak ada tanggapan yang berarti.
Hingga berita ini tayang, Kepala SDN 1 Sukajaya, Kasrun belum memberikan tanggapan meski telah diminta konfirmasi melalui pesan WhatsApp serta pihak dapur MBG belum berhasil dikonfirmasi. ***











