PRINGSEWU – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 2 Pringsewu mendadak jadi bahan obrolan panas orang tua. Paket yang dibagikan pada 25 Februari 2026 itu dipertanyakan nilainya. Secara kasat mata, kata sejumlah wali murid, jika diuangkan “kok rasanya belum sampai Rp10 ribu”.
Pihak Satuan Pelayan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pringsewu Utara lewat Nandar menegaskan paket tersebut sudah sesuai standar Rp10 ribu. Alasannya klasik tapi realistis, harga bahan baku naik. “Sudah sesuai nilainya memang Rp10.000,” ujarnya saat ditemui wartawan, Senin (2/3/2026).
Masalahnya, publik keburu menghitung. Paket yang dikirim sebelumnya 23 Februari 2026 berisi singkong keju, telur rebus, lima butir kurma, dan abon sapi. Ketika ditanya apakah komposisi itu benar-benar setara Rp10 ribu, jawabannya tetap sama: “Sudah cukup nilainya.”
Di sinilah drama dimulai. Orang tua siswa tak tinggal diam. Mereka mengaku bukan generasi yang bisa diyakinkan hanya dengan kalimat “sudah sesuai”.
Salah satu wali murid, sebut saja SG, menegaskan masyarakat kini sudah melek harga. “Kami ini bukan tidak tahu hitung-hitungan. Zaman sudah maju, teknologi ada. Jangan lagi bodohi penerima manfaat,” tegasnya.
Era aplikasi belanja online dan perbandingan harga real-time, nilai Rp10 ribu bisa dihitung dalam 30 detik. Publik pun bertanya-tanya ini soal persepsi, selisih margin, atau sekadar beda sudut pandang antara dapur penyedia dan dapur rumah tangga?
Terlepas dari polemik harga, isu utamanya tetap serius, transparansi. Jika memang nilainya pas Rp10 ribu, rincian komponen dan harga satuan mestinya bisa dibuka terang-benderang. Karena yang dipertaruhkan bukan cuma angka, tapi kepercayaan.
Program makan bergizi seharusnya jadi investasi masa depan, bukan bahan tebak-tebakan nominal. Kalau komunikasi jernih dan data dibuka, polemik bisa reda. Kalau tidak, paket singkong bisa berubah jadi paket panjang perdebatan.***













