Scroll untuk baca artikel
Nasional

MBG Tetap Jalan Saat Ramadan: Makan Siang Jadi Menu Buka Puasa

×

MBG Tetap Jalan Saat Ramadan: Makan Siang Jadi Menu Buka Puasa

Sebarkan artikel ini
Foto: Ilustrasi, Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

JAKARTA — Menjelang Bulan Suci Ramadan 2026, satu pertanyaan klasik kembali menyeruak di tengah masyarakat apakah program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut berpuasa atau tetap berjalan? Pemerintah memastikan jawabannya tegas: MBG tidak libur, hanya ganti jam makan.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan empat skema distribusi MBG selama Ramadan, yang disesuaikan dengan karakteristik penerima manfaat, mulai dari pelajar sekolah umum hingga santri pesantren.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Prinsipnya program tetap jalan. Yang berubah hanya cara dan waktu konsumsi,” ujar Dadan usai kegiatan di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2).

Untuk sekolah di wilayah dengan mayoritas pelajar berpuasa, SPPG tetap mengirim MBG, namun dalam bentuk menu tahan lama. Makanan tidak dikonsumsi di sekolah, melainkan dibawa pulang sebagai bekal berbuka puasa.

BACA JUGA :  Pencanangan Program Percepatan Konektivitas Digital 2021

“Bisa dibawa ke rumah dan dikonsumsi saat buka,” jelas Dadan.

Dengan skema ini, makan siang resmi negara berubah fungsi, dari kantin sekolah ke meja buka puasa rumah tangga.

Di sekolah yang mayoritas siswanya tidak berpuasa, distribusi MBG tetap normal dan dikonsumsi di sekolah seperti hari biasa. Negara, kata BGN, menyesuaikan diri dengan realitas sosial, bukan sebaliknya.

Untuk kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, layanan MBG tetap berjalan tanpa perubahan skema. Artinya, urusan gizi kelompok rentan ini tidak ikut berpuasa.

Bagi pesantren yang memiliki SPPG di dalam lingkungan mereka, menu MBG tetap disiapkan, namun dimasak sejak siang hari dan dikonsumsi saat waktu berbuka.

BACA JUGA :  Fidyah Ramadan 2026: Besaran Rp65.000 per Hari, Cara Bayar, Niat, dan Batas Waktu Lengkap

“Masaknya siang, makannya saat buka,” kata Dadan.

Disampaikan bahwa, hingga 29 Januari 2026, BGN mencatat jumlah penerima manfaat MBG telah mencapai 60 juta orang. Sementara itu, jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah menembus 22.091 unit, dengan total pegawai mencapai 924.424 orang.

Angka tersebut menjadikan MBG bukan sekadar program gizi, tetapi juga industri negara baru berbasis dapur dan piring makan.

Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan menyebut program MBG sebagai bagian dari agenda besar Asta Cita, yang berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja.

Menurutnya, saat ini terdapat sekitar 32 ribu staf SPPG yang sedang diproses menjadi PPPK, serta 21.413 mitra MBG yang melibatkan 68.551 UMKM pemasok.

BACA JUGA :  Kelemahan Kritik MBG

“Satu supplier itu UMKM. Paling enggak 20 sampai 30 orang kerja di situ,” ujar Zulhas.

Jika dikalkulasi, MBG tak hanya memberi makan puluhan juta warga, tetapi juga menghidupi ratusan ribu pekerja dari dapur sekolah hingga rantai pasok bahan pangan.

Jika dikalkulasi, MBG tak hanya memberi makan puluhan juta warga, tetapi juga menghidupi ratusan ribu pekerja dari dapur sekolah hingga rantai pasok bahan pangan.

“Kalau PBB bilang 1 dolar bisa jadi 23 dolar, ini bisa lebih besar dampaknya,” tuturnya.

Dengan kata lain, satu porsi makan gratis bukan sekadar urusan perut, melainkan juga mesin ekonomi, lapangan kerja, dan stabilitas sosial bahkan saat Ramadan.***