Scroll untuk baca artikel
Opini

Melawan Penjajahan Narasi

×

Melawan Penjajahan Narasi

Sebarkan artikel ini

Kedua, memperkuat tradisi literasi. Wawasan dan pengetahuan luas didapat melalui tradisi literasi yang kuat. Keluasan wawasan dan pengetahuan merupakan instrumen proteksi dari gempuran narasi yang menyesatkan itu.

Era digital memanjakan manusia melalui kemudahan search engine dan database digital dalam menemukan informasi.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Namun merupakan kesalahan ketika menganggap narasi yang tersimpan dalam database digital, media online, media sosial, sebagai narasi yang selalu akurat dan otentik.

BACA JUGA :  Kyai Achmad Shiddiq dan Niat Ketika di TPS

Tradisi literasi diperlukan untuk membekali diri dengan beragam pengetahuan. Agar mampu segera mendeteksi narasi yang menyesatkan dan narasi yang mencerahkan.

Ketiga, mengasah diri sebagai content creator. Cara ketiga melawan penjajahan narasi adalah dengan aktif sebagai content creator.

Terutama untuk kontra narasi dari narasi-narasi yang menyesatkan. Baik melalui tulisan, video, maupun beragam flatform media lainnya.

BACA JUGA :  Kita dalam Era Perang Tanpa Bentuk

Menjadi content creator berbeda dengan buzzer. Concern buzzer adalah amplify narasi dari sebuah content untuk tujuan agenda tertentu. Tanpa tanggung jawab atas value yang didelivery. Buzzer merupakan budak agenda pragmatis.

Kenapa harus content creator?.

Ketika lalulintas informasi digital dipenuhi content creator yang berwawasan dan bertanggung jawab, dialektika publik akan menjadi relatif sehat.

BACA JUGA :  Idiologi Jakarta: Perubahan dan Kemajuan

Jadi pilih mana?. Menjadi obyek penjajahan narasi. Atau sebagai pemecah ombak dari gelombang ganas penjajahan narasi?.

ARS (rohmanfth@gmail,com), Bangka-Jaksel, 19 Januari 2024***