Scroll untuk baca artikel
Head Line

Mengenal Aghori Sekte Kontroversi di India

×

Mengenal Aghori Sekte Kontroversi di India

Sebarkan artikel ini

“Kemampuan intelektual mereka beragam. Sebagian kecil sangat tajam, bahkan ada seroang Aghori yang pernah menjadi penasehat raja Nepal,” kata Mallinson.

Manoj Thakkar, penulis buku Aghori: A Biographcal Novel, mengatakan mereka adalah kelompok yang banyak disalah-pahami. Bagi orang Aghori, pakaian bukan keharusan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Orang Aghori adalah orang sederhana yang hidup dengan alam. Mereka tak menuntut apa pun,” ungkap dia.

“Mereka melihat semua sebagai manifestasi sesuatu yang agung. Mereka tak menolak atau membenci seseorang atau sesuatu. Itulah mengapa tak membedakan antara daging dari hewan yang disembelih atau daging manusia. Mereka makan apa yang mereka dapat,” lanjutnya.

BACA JUGA :  Wali Murid SD di Waway Karya Lamtim Protes Terkait Arahan Beli Buku LKS

“Mereka menghisap mariyuana dan mencoba untuk tetap sadar diri bahkan dalam kondisi sangat mabuk,”

Baik Mallinson dan Thakkar mengatakan hanya ada sedikit yang benar-benar menjalankan ritual dengan sistem Agori.

Mereka mengatakan banyak yang datang ke festival mandi hanya anggota sekte yang tak pernah menjalani inisiasi.

Mereka mengatakan sebagian berperilaku sebagai orang Aghori untuk mendapat uang dari turis dan peserta yang hadir.

Peserta festival ini memberikan makan dan uang kepada mereka, padahal, kata Thakkar, orang Aghori tak tertarik dengan uang.

“Mereka berdoa untuk kesejahteraan semua. Mereka tak peduli apakah orang minta didoakan agar mendapat anak atau bisa membangun rumah.”

Aghoris memuja Siwa – dewa perusak dalam Hindu, serta pasangannya Shakthi. Di India utara, hanya pria yang boleh masuk sekte Aghori.

BACA JUGA :  Zonasi TN Way Kambas Dirombak: Lindungi Gajah, Buka Jalan Ekowisata dan Karbon

Namun di Bengal, ada perempuan pemuka Aghori yang tinggal di dekat tempat pembakaran jenazah. Namun berbeda dengan kaum lelakinya yang telanjang, kaum perempuan Aghori memakai baju.

“Sebagian besar orang takut mati. Tempat pembakaran jenazah menyimbolkan kematian. Itulah titik keberangkatan kaum Aghori. Mereka ingin menantang moral dan nilai-nilai manusia,” kata Thakkar.

Namun tak semua praktik orang Aghori itu menyeramkan. Sebagian besar pemeluk Hindu tidak melakukan ritual Aghori.

Dalam beberapa puluh tahun terakhir, tradisi Aghori mulai bersentuhan dengan gerakan atus utama, dan mereka mulai melakukan layanan penyembuhan kepada pasien lepra.

BACA JUGA :  Tabrakan Beruntun di Jalinbar, Sembilan Orang Terluka

“Orang Aghori bekerja dengan mereka yang dianggap paling hina di kalangan bangsa manusia,” kata Ron Barrett, seorang pakar antropologi budaya dan medis dari Minnesota.

“Klinik lepra misalnya ada di tempat pembakaran mayat, dan mereka tak takut kematian. Dan orang Aghori justru melampaui ketakutan akan penyakit,” katanya dalam wawancara dengan Emory Report.

Orang Aghori biasanya berada di seputar tempat pembakaran mayat. Pasien lepra, banyak yang ditelantarkan keluarga mereka, mendapat perawatan di rumah sakit yang dikelola orang Aghori di kota Varanasi.

Pasien menerima berbagai macam terapi, mulai dari metoda pengobatan alternatif Ayurveda, sampai mandi ritual modern.

Pengobatan dan Pemberkatan