JAKARTA – Polisi mengungkap modus licin yang digunakan tersangka berinisial NW dalam melancarkan aksinya. Bukan dengan tampang mencurigakan, melainkan justru sebaliknya: rapi, sopan, dan “terlihat resmi”.
Menurut keterangan aparat, NW kerap menyasar kegiatan seminar, workshop, maupun pertemuan di hotel berbintang. Lokasi yang identik dengan presentasi serius, kopi panas, dan tas kerja mahal itu justru menjadi ladang empuk bagi pelaku.
“Pelaku diduga menyasar kegiatan seminar atau pertemuan di hotel berbintang. Ia masuk dengan penampilan rapi layaknya pekerja kantoran, mengenakan batik dan lanyard, serta membawa tas, sehingga leluasa mengambil barang korban yang ditinggal tanpa pengawasan,” ujar Budi.
Batik yang seharusnya identik dengan profesionalisme dan identitas formal, dalam kasus ini justru menjadi “kostum penyamaran”. Lanyard yang biasa menggantung kartu identitas peserta seminar berubah fungsi menjadi tiket masuk tak resmi ke area acara.
Dengan tampilan tersebut, pelaku diduga mudah membaur di antara peserta. Di tengah suasana registrasi, sesi foto, atau jeda coffee break saat perhatian terpecah antara materi dan notifikasi ponsel barang-barang seperti tas, laptop, hingga ponsel menjadi sasaran.
Modus ini memanfaatkan satu hal yang sering luput: rasa aman berlebihan di ruang formal. Banyak peserta merasa cukup aman meninggalkan barang di kursi saat ke toilet atau mengambil konsumsi, tanpa menyadari ada “peserta dadakan” yang justru fokus pada barang, bukan materi seminar.
Polisi mengimbau penyelenggara dan peserta kegiatan di hotel untuk meningkatkan kewaspadaan. Pemeriksaan identitas peserta, penggunaan tanda pengenal resmi, serta pengawasan area acara perlu diperketat.
Karena di era sekarang, tak semua yang berbatik dan ber-lanyard datang untuk menambah wawasan. Ada juga yang datang untuk “menambah inventaris” dari kelengahan orang lain.***











