Scroll untuk baca artikel
Internasional

Mojtaba Khamenei Ancam Balas Serangan AS–Israel: Iran Siap Tutup Selat Hormuz dan Sita Aset Musuh

×

Mojtaba Khamenei Ancam Balas Serangan AS–Israel: Iran Siap Tutup Selat Hormuz dan Sita Aset Musuh

Sebarkan artikel ini
Rudal balistik Kheibar (Foto: Iran's Ministry of Defence/WANA (West Asia News Agency)/Handout via REUTERS)

WawaiNEWS.ID – Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyampaikan pesan pertamanya kepada rakyat Iran dengan nada tegas, Teheran tidak akan berhenti membalas serangan Amerika Serikat dan Israel yang menurutnya telah menumpahkan banyak darah warga Iran.

Dalam pesan yang dikutip kantor berita Tasnim News Agency, Mojtaba menegaskan bahwa setiap korban dalam serangan tersebut akan menjadi bagian dari tuntutan pembalasan Iran.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Saya meyakinkan semua orang bahwa kami tidak akan mengabaikan pembalasan atas darah para syuhada,” ujar Mojtaba dalam pernyataan resminya.

Ia menegaskan bahwa pembalasan Iran tidak hanya terkait dengan kematian tokoh penting dalam kepemimpinan negara, tetapi juga setiap warga Iran yang gugur akibat serangan musuh.

Mojtaba secara khusus menyoroti serangan yang disebut dilakukan oleh Amerika Serikat menggunakan rudal Tomahawk cruise missile terhadap sebuah sekolah dasar di kota Minab.

BACA JUGA :  Ali Khamenei Wafat Dalam Serangan AS-Israel, Iran Siap Luncurkan Operasi Militer Terbesar

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan setidaknya 175 orang, dengan banyak korban di antaranya adalah anak-anak.

Menurut Mojtaba, tragedi tersebut menjadi alasan kuat bagi Iran untuk melanjutkan perlawanan.

“Kami akan sangat peka terhadap darah anak-anak kami,” katanya.

Salah satu pernyataan paling keras dari Mojtaba adalah terkait kemungkinan memblokir jalur energi paling strategis di dunia, yakni Selat Hormuz.

Selat ini merupakan jalur utama distribusi minyak global. Penutupan jalur tersebut telah memicu kekhawatiran di pasar energi dunia dan disebut berdampak pada lonjakan harga bahan bakar di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat.

“Upaya memblokir Selat Hormuz tidak diragukan lagi harus terus digunakan,” tegasnya.

Jika langkah itu benar-benar diterapkan secara penuh, dunia bisa menghadapi guncangan ekonomi global, karena sebagian besar ekspor minyak Timur Tengah melewati jalur tersebut.

Selain ancaman militer, Iran juga membuka kemungkinan langkah ekonomi balasan.

Mojtaba mengatakan Iran akan menuntut ganti rugi atas perang yang terjadi. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, Iran tidak menutup kemungkinan menyita aset milik Amerika Serikat dan Israel.

BACA JUGA :  Joe Biden Kalahkan Trump di Pilpres AS

“Jika mereka menolak, kita akan menyita aset mereka sebanyak yang kita anggap pantas. Jika itu tidak memungkinkan, kita akan menghancurkan aset mereka dalam jumlah yang setara,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menandakan bahwa konflik ini berpotensi melebar dari medan militer menuju konfrontasi ekonomi dan geopolitik yang lebih luas.

Mojtaba juga memberikan peringatan kepada negara-negara di kawasan yang wilayahnya digunakan sebagai pangkalan militer oleh Amerika Serikat.

Ia menyatakan bahwa Iran hanya menargetkan pangkalan militer tersebut, bukan negara tuan rumahnya.

Namun ia menyarankan negara-negara tersebut segera menutup pangkalan militer AS jika tidak ingin terseret lebih jauh ke dalam konflik.

“Mereka pasti sudah memahami sekarang bahwa klaim Amerika tentang membangun keamanan dan perdamaian hanyalah kebohongan,” kata Mojtaba.

Dalam pesan emosionalnya, Mojtaba juga mengungkap bahwa konflik ini membawa kehilangan besar bagi keluarganya sendiri.

BACA JUGA :  6 WNI Meninggal Kecelakaan Bus di Saudi Sudah Dimakamkan, Asuransi Diurus Negara

Ia menyebut ayahnya, Ali Khamenei, serta sejumlah anggota keluarga lain turut gugur dalam agresi yang terjadi pada bulan Ramadan tahun ini.

“Saya telah mempercayakan istri saya yang setia, saudara perempuan saya, anak kecilnya, dan kerabat lain kepada kafilah para martir,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa konflik ini bukan hanya persoalan geopolitik bagi Iran, tetapi juga tragedi personal bagi pemimpin barunya.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan yang berbeda nada.

Dalam keterangannya kepada wartawan yang dikutip Associated Press, Trump mengatakan operasi tersebut tidak membuat AS semakin terlibat dalam perang besar.

“Bagi mereka ini perang. Bagi kita, ternyata lebih mudah dari yang kita duga,” kata Trump.

Pernyataan itu memicu kritik dari berbagai kalangan internasional karena dianggap meremehkan dampak kemanusiaan dari konflik yang sedang berlangsung.***