WAWAINEWS.ID — Di tengah ladang dan sunyi peladangan Desa Gunung Sugih Besar, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, tersembunyi sebuah nama tua yang masih hidup dalam ingatan kolektif warganya: Negeri Ider Budi, atau yang kini lebih akrab disebut Tiyuh Tuho kampung tua, kampung pertama, sekaligus kampung yang tak pernah benar-benar pergi.
Bagi warga setempat, Tiyuh Tuho bukan sekadar lokasi geografis. Ia adalah ruang ingatan, tempat sejarah, kepercayaan, dan kisah mistis bertemu tanpa pernah sepenuhnya meminta pembuktian ilmiah. Di sanalah, menurut cerita turun-temurun, cikal bakal Desa Gunung Sugih Besar bermula jauh sebelum nama administratif dikenal, jauh sebelum peta modern dibuat.
Nama Tiyuh Tuho sendiri seolah menjadi penanda usia. “Tua” bukan hanya soal waktu, tetapi juga soal cerita. Hingga kini, lokasi yang dipercaya sebagai Negeri Ider Budi dikelilingi lahan peladangan. Sepintas tampak biasa, namun bagi mereka yang tumbuh dengan cerita nenek moyang, menyebut nama Tiyuh Tuho saja sudah cukup membuat suasana terasa berbeda lebih sunyi, lebih khidmat, dan sedikit merinding.
Menurut kisah tutur masyarakat, Negeri Ider Budi diyakini telah ada sejak sekitar tahun 1100 Masehi. Pada masa itu, penduduknya masih menganut kepercayaan Budha dan animisme, jauh sebelum Islam masuk ke wilayah tersebut. Jejak keyakinan lama itu, konon, masih dapat diraba melalui punden berundak dan beberapa lokasi yang dipercaya sebagai tempat pemujaan masa lampau meski kini sebagian besar tak terawat dan nyaris luput dari perhatian.
Menukil catatan PN Jayo Kesumo, mantan Kepala Desa Gunung Sugih Besar era Orde Baru, Negeri Ider Budi memiliki makna filosofis: memancarkan segala kebaikan. Sebuah nama yang agung, meski kini lebih sering disebut dalam bisik-bisik cerita ketimbang dalam buku pelajaran.
Dalam legenda lokal, Negeri Ider Budi dipimpin oleh seorang tokoh sakti mandraguna bernama Datuk Binjai, didampingi sosok misterius Ketanggai Bidang digambarkan bertubuh besar dengan kuku jari yang panjang. Sosok-sosok ini hidup bukan dalam arsip negara, tetapi dalam cerita lisan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Perubahan besar datang dengan kehadiran Tuan Rajo Belunguh, tokoh yang dipercaya sebagai penyebar Islam di Negeri Ider Budi. Makamnya hingga kini dikeramatkan di wilayah Gunung Sugih Besar, meski detail riwayat hidupnya tetap kabur lebih banyak hidup dalam tutur ketimbang teks. Seperti banyak tokoh dalam sejarah lisan, Tuan Rajo Belunguh dikenal lewat pengaruhnya, bukan lewat silsilah tertulis.
Kehadiran Islam tidak serta-merta diterima seluruh warga. Negeri Ider Budi pun, menurut cerita, terbelah. Sebagian menerima ajaran baru, sebagian lain bertahan pada keyakinan lama. Dari titik inilah kisah menjadi semakin simbolik bahkan filosofis.
Dikisahkan, Datuk Binjai memilih mengasingkan diri ke wilayah Lebung Pengubuan, yang kini dikenal sebagai Kertosari, Lampung Selatan. Ada pula cerita lain yang lebih metaforis: mereka yang menolak Islam memilih “mokso”, menghilang dari pandangan manusia biasa, namun tetap “menghuni” Negeri Ider Budi.
Sebuah konsep yang, jika ditarik ke hari ini, mungkin lebih dekat dengan dunia spiritual ketimbang logika modern.
Jejak-jejak fisik pun masih dipercaya ada. Batu Penamparan, yang konon menyimpan bekas tangan Datuk Binjai. Batu Peminuman, batu berlubang yang mampu menampung air dan tak pernah kering meski kemarau panjang setidaknya menurut cerita yang terus hidup.
Di sinilah humor halus sering muncul, alam seolah punya logikanya sendiri, dan manusia cukup percaya tanpa harus bertanya terlalu jauh.
Pada masa lalu, hingga sekitar tahun 1970-an, warga kerap bercerita tentang suara ramai, bunyi tarian, atau orang-orang yang seolah “beraktivitas” di kawasan Negeri Ider Budi.
Bahkan ada kisah orang-orang sakti yang bisa “meminjam” pernak-pernik dari sana. Benar atau tidak, cerita-cerita itu kini menjadi bagian dari folklore tak diuji, tapi juga tak dibantah.
Warga yang memeluk Islam kemudian diajak berpindah oleh Ketanggai Bidang ke wilayah Ketanggai Nyapah, daerah rendah di sekitar aliran Way Sekampung, yang kini menjadi Dusun III Sugih Harapan.
Tokoh-tokoh awal Islam di wilayah ini disebut antara lain Tuan Sigarit dan Puanan Balak, yang kemudian memperkuat ikatan sosial melalui pernikahan keluarga.
Karena kerap dilanda banjir, wilayah Ketanggai Nyapah akhirnya dipindahkan ke daerah yang lebih tinggi. Sebuah keputusan yang menunjukkan bahwa di balik kisah mistis dan legenda, masyarakat tetap berpikir sangat praktis selamat dari banjir lebih penting daripada romantika lokasi.
Catatan ini bukan untuk menentukan benar atau salah. Ia tidak mengklaim kebenaran historis mutlak, melainkan merekam ingatan budaya sesuatu yang sering kali lebih jujur dalam menjelaskan identitas sebuah masyarakat dibanding data statistik.
Negeri Ider Budi mungkin kini sunyi, bahkan nyaris terlupakan. Namun selama cerita masih dituturkan, selama batu-batu masih disebut namanya, dan selama warga masih percaya bahwa tempat itu pernah menjadi awal segalanya, Tiyuh Tuho akan tetap hidup setidaknya dalam ingatan.
Catatan Budaya Redaksi Wawai News: ditulis dari kisah tutur dan catatan lama, sebagai upaya merawat ingatan, bukan mengadili sejarah.












