Majunya Saleh Asnawi dalam kontestasi, memberikan shock therapy bagi kandidat lainnya, khususnya kandidat petahana Dewi Handajani.
Meskipun PDI-P menjadi partai pemenang pemilu legislatif dan dapat mengusung sendiri kandidatnya, Dewi Handajani dan PDI-P mau tidak mau harus menggandeng parpol lainnya, mengingat rival yang akan dihadapi bukan kaleng-kaleng.
Dewi Handajani awalnya mendapatkan dukungan Partai NasDem yang telah merekomendasikan Dewi Handajani dan Kurnain S.IP (Ketua DPD Partai NasDem Tanggamus) sebagai bakal calon (bacalon) Bupati dan Wakil Bupati.
Dukungan selanjutnya datang dari PKS dan partai Golkar. Sayang, koalisi dengan Partai Nasdem tidaklah berjalan mulus.
Manuver NasDem
Partai NasDem menarik dukungan kepada Dewi Handajani dan beralih ke pasangan Saleh Asnawi-Agus Suranto, setelah Dewi Handajani memutuskan untuk menggandeng Ammar Sirajuddin sebagai paslon wakil bupati (wabup).
Saat Mahkamah Konstitusi (MK) melahirkan Putusan No.60/PUU-XII/2024, muncul rumor akan terbentuk poros ketiga.
Hal itu ditandai dengan komunikasi yang dilakukan Ketua DPD Partai NasDem, Kurnain S.IP, bersama Samsul Hadi (mantan Bupati 2017-2018 dan konstestan Pilkada 2018), dan koalisi parpol non parlemen.
Kurnain S.IP saat itu masih menjadi bacalon Wakil Bupati bersama Dewi Handajani. Berhembus kabar juga, jika PKS dan Partai NasDem kemungkinan akan bersama dalam Poros Ketiga tersebut. Partai Golkar santer didesuskan akan berlayar bersama koalisi Jalan Lurus.
Kurnain S.IP dan Partai NasDem, Sorotan terbesar dalam percaturan politik Pilkada Tanggamus Sorotan terbesar adalah peran Kurnain S.IP dan Partai NasDem.
Politisi muda dengan pengalaman sebagai anggota DPRD Tanggamus 2 (dua) periode (2014-2024), sekaligus Ketua DPD Partai NasDem, telah memberikan warna tersendiri dalam percaturan politik jelang Pilkada Tanggamus 2024.
Kemunculan Kurnain di dalam kontestasi Pilkada Tanggamus, menjelaskan sebuah fakta bahwa politisi lokal juga sanggup melahirkan calon pemimpin daerah.
Kedua, masuknya nama Kurnain dalam bursa pencalonan, menunjukkan bahwa Partai NasDem memiliki kemampuan melahirkan kader-kader muda yang siap “bertempur” dalam demokrasi elektoral.
Kelihaian Kurnain dan Partai NasDem dalam menjalin komunikasi politik antar parpol, disertai beberapa manuver jelang waktu pendaftaran paslon, menandakan adanya kecakapan melihat dan merespon situasi politik guna menentukan langkah partai selanjutnya.
Kurnain dan Partai NasDem telah memberikan pelajaran tentang “etika dan rasionalitas politik” dalam mengusung misi partai.
Kurnain dan DPD Partai NasDem sangat konsisten mengawal rekomendasi dari DPP Partai NasDem yang mengsung Dewi-Kurnain sebagai sepasang bacalon Bupati dan Wabup.
Walau fakta di lapangan, Dewi cenderung lebih mengedepankan kampanye atas dirinya sendiri. Inilah etika politik yang dimaksudkan tersebut.













