WawaiNEWS.ID – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memanas. Presiden Vladimir Putin melakukan percakapan telepon dengan Presiden Masoud Pezeshkian di tengah eskalasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pembicaraan tersebut, Rusia menyerukan agar konflik yang semakin panas itu segera diredakan. Moskow menegaskan kembali sikapnya yang mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi dan perundingan politik.
Menurut pernyataan resmi Kremlin, Putin menekankan pentingnya de-eskalasi konflik sebelum situasi berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas.
“Presiden Rusia menegaskan kembali posisi prinsipnya yang mendukung de-eskalasi konflik yang cepat dan penyelesaiannya melalui cara-cara politik,” demikian pernyataan Kremlin.
Pihak Kremlin juga menyebut percakapan kedua pemimpin berlangsung dalam suasana hangat.
Dalam kesempatan itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan terima kasih kepada Rusia atas dukungan yang diberikan, termasuk bantuan kemanusiaan yang dikirimkan Moskow ke Teheran.
“Pezeshkian berterima kasih kepada Rusia atas dukungannya, khususnya atas bantuan kemanusiaan yang diberikan kepada Iran,” tambah pernyataan tersebut.
Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel pecah pada 28 Februari 2026, ketika pasukan gabungan AS dan Israel melancarkan serangan ke Teheran.
Iran kemudian membalas dengan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Konflik ini bahkan menelan korban besar di tingkat kepemimpinan Iran. Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, dilaporkan meninggal dunia akibat serangan yang terjadi dalam eskalasi konflik tersebut.
Iran Luncurkan Gelombang Serangan Rudal
Hampir dua pekan sejak perang dimulai, belum ada tanda-tanda konflik akan mereda.
Pasukan elit Iran, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), kembali meluncurkan gelombang serangan terbaru yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat dan instalasi militer Israel.
Dalam pernyataan yang dikutip Al Jazeera, IRGC mengklaim telah melancarkan gelombang serangan ke-34 menggunakan berbagai jenis rudal, termasuk rudal hipersonik.
Serangan tersebut menargetkan beberapa lokasi strategis, antara lain:
- pangkalan udara Al Dhafra Air Base di dekat Abu Dhabi
- pangkalan udara Naval Support Activity Bahrain di Bahrain
- pangkalan udara Ramat David Airbase di Israel
- area sekitar Haifa
IRGC juga mengklaim telah menghantam peluncur rudal Israel di kawasan Bnei Brak, di timur Tel Aviv.
Militer Israel menyatakan telah mendeteksi sejumlah rudal yang diluncurkan dari Iran menuju wilayahnya.
Dalam pernyataan resmi, militer Israel mengatakan sistem pertahanan udara sedang berupaya mencegat ancaman tersebut.
Selain itu, Israel juga melaporkan adanya serangan roket dari wilayah Lebanon yang menghantam Israel bagian tengah.
Beberapa warga dilaporkan mengalami luka ringan setelah dua proyektil jatuh di area berbeda tanpa peringatan. Investigasi gabungan antara Komando Pertahanan Dalam Negeri dan angkatan udara Israel menemukan bahwa roket sebenarnya telah terdeteksi, namun tidak berhasil dicegat tepat waktu.
Dengan terus berlanjutnya serangan balasan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, kawasan Timur Tengah kini berada di ambang konflik yang lebih luas.
Di tengah situasi tersebut, seruan Rusia untuk de-eskalasi menjadi salah satu suara diplomasi yang mencoba menahan laju konflik.
Namun dalam realitas geopolitik, perdamaian sering kali bergerak jauh lebih lambat daripada rudal terutama ketika setiap pihak merasa berada di sisi yang paling benar dalam medan perang.***













