Scroll untuk baca artikel
Nasional

Prabowo Bongkar “Akal-Akal” BUMN, Danantara Pegang Aset Rp16 Ribu T

×

Prabowo Bongkar “Akal-Akal” BUMN, Danantara Pegang Aset Rp16 Ribu T

Sebarkan artikel ini
Presiden Prabowo Subianto hadir di HUT Golkar ke-60 dengan mengenakan dasi warna kuning, Kamis malam 12 Desember 2024
Presiden Prabowo Subianto

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto akhirnya membuka kotak hitam pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selama bertahun-tahun dinilainya tidak efisien, tidak terkoordinasi, dan dalam istilahnya sendiri penuh “akal-akalan”.

Di hadapan para kepala daerah dalam Rakornas 2026 di SICC Sentul, Prabowo menyampaikan bahwa pemerintahannya kini mengambil alih kendali penuh atas kekayaan negara melalui pembentukan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Prabowo mengungkapkan, seluruh aset negara yang sebelumnya tersebar kini dihimpun dalam satu manajemen terpadu dengan nilai fantastis mencapai US$ 1.040 miliar atau sekitar Rp16 ribu triliun aset dalam pengelolaan (asset under management).

BACA JUGA :  Tambah Satu Dari Lampung, Total Pasien Positif Covid-19 Jadi 227 Kasus

“Saya sudah menghimpun semua kekuatan milik negara dalam satu manajemen. Nilainya US$ 1 triliun lebih,” ujar Prabowo, Senin (2/2/2026).

Menurut Prabowo, selama ini pengelolaan BUMN ibarat kapal besar tanpa nahkoda. Aset negara dikelola secara terpisah di lebih dari 1.040 perusahaan, masing-masing berjalan sendiri dengan kepentingannya masing-masing.

Situasi tersebut, kata dia, bukan hanya tidak masuk akal, tetapi membuka ruang lebar bagi pemborosan hingga penyimpangan.

“Tadinya terpecah-pecah di 1.040 perusahaan. Bayangkan, siapa yang bisa manage seribu perusahaan? Ini bukan manajemen, ini akal-akalan,” tegasnya.

BACA JUGA :  Burung Hantu, Bisa Jadi Solusi Alami Petani untuk Basmi Hama Tikus

Dengan nada tegas bercampur sindiran, Prabowo menegaskan bahwa Danantara dibentuk untuk mengakhiri pola lama pengelolaan BUMN yang dinilai lebih sibuk mengurus laporan dan jabatan ketimbang menciptakan nilai bagi negara. Ia menekankan bahwa era “enak-enak jadi bos BUMN” telah berakhir.

Peringatan keras pun dilontarkan. Prabowo menegaskan pimpinan-pimpinan BUMN lama yang terbukti bermain-main dengan aset negara harus siap mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.

“Pimpinan-pimpinan BUMN yang dulu, jangan enak-enak saja. Siap-siap dipanggil Kejaksaan,” ujarnya lugas.

Presiden bahkan menepis anggapan bahwa pernyataannya hanyalah retorika podium. Dengan gaya khasnya yang blak-blakan, Prabowo menegaskan dirinya tidak gentar menghadapi tekanan siapa pun.

BACA JUGA :  Sepucuk Surat dari Sekolah Rakyat: Ketika Daffa Menulis, Prabowo Membaca Harapan Bangsa

“Mereka bilang Prabowo cuma bisa ngomong di podium. Oh ya? Tunggu saja panggilannya. Jangan nantang-nantang,” ucapnya, disambut riuh hadirin.

Prabowo menutup dengan penegasan politik sekaligus moral: ia mengaku tidak takut kepada kekuatan apa pun, kecuali kepada rakyat Indonesia dan Tuhan Yang Maha Esa.

Sebuah pesan yang tak hanya ditujukan kepada elite BUMN, tetapi juga kepada seluruh birokrasi negara bahwa pengelolaan kekayaan publik kini berada di bawah sorotan langsung Istana.***