Scroll untuk baca artikel
Opini

Prabowo dalam Pusaran Elit Global

×

Prabowo dalam Pusaran Elit Global

Sebarkan artikel ini
Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskow, Rusia pada Rabu, 10 Desember 2025. Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi

WawaiNEWS.ID – Nama Prabowo Subianto hari ini tak lagi semata dibicarakan dalam lanskap politik domestik. Ia telah masuk ke orbit yang lebih luas, pusaran elit global. Intensitas diplomasi yang dijalankannya dari forum ekonomi hingga isu keamanan menempatkan Indonesia bukan sekadar pengamat, tetapi partisipan aktif dalam dinamika geopolitik yang kian kompleks.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Dari Forum Global ke Medan Rivalitas

Dalam beberapa tahun terakhir, hampir tak ada forum besar tanpa kehadiran Indonesia. Keterlibatan dalam G20 dan ASEAN memperlihatkan konsistensi peran tersebut. Namun yang lebih signifikan adalah upaya Indonesia masuk ke isu-isu sensitif seperti konflik Gaza melalui inisiatif diplomatik yang mendorong gencatan senjata dan solusi kemanusiaan.

Di tengah rivalitas terbuka antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta eskalasi konflik yang melibatkan Israel dan Iran, pendekatan yang ditempuh Prabowo relatif jelas: menjaga jarak dari blok mana pun, tetapi mendekat pada semua pihak. Strategi “berteman dengan semua, bermusuhan dengan tidak satu pun” menjadi instrumen untuk memperluas ruang tawar Indonesia.

BACA JUGA :  Bapanas Harus Dievaluasi: Harga Beras Indonesia Termahal, Petani Tak Sejatera

Langkah ini bukan tanpa risiko. Diplomasi yang terlalu condong dapat menyeret Indonesia ke pusaran kepentingan besar. Sebaliknya, terlalu netral bisa dianggap tidak relevan. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan tanpa kehilangan posisi tawar.

Modal Militer, Gaya Proaktif

Latar belakang Prabowo sebagai mantan komandan militer membentuk gaya kepemimpinan yang lugas dan berbasis kalkulasi kekuatan. Ia terbiasa membaca peta, mengukur risiko, dan mengambil keputusan dalam tekanan. Di panggung global, karakter ini menjadi modal tersendiri.

Diplomasi yang dijalankan tidak bersifat simbolik. Ia mendatangi pusat-pusat kekuatan dunia, membuka pembicaraan kerja sama pertahanan, perdagangan, dan investasi. Sejumlah komitmen investasi yang masuk ke Indonesia menjadi indikator bahwa diplomasi tidak berhenti pada retorika, tetapi diterjemahkan dalam kepentingan ekonomi nasional.

Namun efektivitas diplomasi luar negeri tetap akan diuji pada konsistensi implementasi di dalam negeri: reformasi birokrasi, kepastian hukum, dan stabilitas politik. Tanpa itu, hasil diplomasi berisiko menjadi angka di atas kertas.

BACA JUGA :  Sisi Lain Dunia Jurnalistik, Membantah Opini Melawan Stigma Negatif Profesi Jurnalis

Paradoks Eksternal–Internal

Jika di luar negeri Prabowo tampil percaya diri dan ofensif secara diplomatik, di dalam negeri ia cenderung lebih berhati-hati. Dalam isu tudingan pelanggaran HAM 1998, ia membantah, tetapi tidak membangun konfrontasi terbuka yang berpotensi memperdalam polarisasi sosial.

Di sinilah paradoks itu muncul: keberanian eksternal dan kehati-hatian internal. Sebagian melihatnya sebagai strategi meredam konflik domestik, sebagian lain menilai sebagai kompromi politik. Apa pun tafsirnya, fakta menunjukkan pendekatan luar dan dalam negeri tidak selalu identik.

Gaza dan Ujian Moral Diplomasi

Dalam isu Gaza, Indonesia mengambil posisi vokal di forum internasional, termasuk di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dorongan terhadap gencatan senjata antara Hamas dan Israel diproyeksikan sebagai tekanan moral global.

Memang, konflik belum sepenuhnya berakhir. Pelanggaran masih terjadi. Namun intensitas kehancuran tidak lagi berada pada titik terburuk beberapa bulan sebelumnya. Apakah itu sepenuhnya hasil diplomasi Indonesia? Tentu tidak sesederhana itu. Tetapi partisipasi aktif dalam tekanan global memberi Indonesia pengalaman strategis dalam memainkan peran mediator.

BACA JUGA :  Ibrahim–Musa–Isa Bukan Justifikasi Ayat Perang

Keberanian menawarkan diri sebagai juru damai dalam eskalasi yang melibatkan kekuatan besar menunjukkan sikap proaktif. Jika berhasil, itu akan menjadi lompatan diplomatik. Jika belum, tetap menjadi pembelajaran geopolitik yang mahal nilainya.

Indonesia Bukan Superpower, Tapi Bukan Penonton

Harus diakui, Indonesia bukan negara adidaya. Namun masuk dalam percaturan elit global saja sudah merupakan kemajuan signifikan. Di situlah pintu negosiasi kepentingan nasional terbuka: investasi, stabilitas kawasan, hingga perlindungan kedaulatan di tengah eskalasi global.

Pada akhirnya, efektivitas peran global tidak hanya diukur dari sorotan kamera atau jumlah kunjungan kenegaraan, tetapi dari seberapa jauh ia memperkuat fondasi domestik ekonomi yang tumbuh, pertahanan yang tangguh, dan masyarakat yang bersatu.

Sejarah tidak hanya mencatat hasil akhir, tetapi juga keberanian untuk hadir dan mengambil peran. Dalam pusaran elit global, keberanian itu telah ditunjukkan. Tantangannya kini adalah memastikan keberanian tersebut berujung pada konsolidasi kekuatan nasional yang nyata dan berkelanjutan.***