KOTA BEKASI – Kota Bekasi, tampak seperti “kota proyek” menjelang akhir 2025. Di mana-mana ada galian, betonisasi, perbaikan jalan semuanya kejar tayang seperti deadline skripsi. Ironisnya, justru saat publik menemukan sederet pelanggaran, respons Kepala Dinas BMSDA, Idi, hanya sebatas balasan WhatsApp:
“Nanti kami bikin rilis.” Jawaban normatif yang entah menenangkan atau justru memicu tekanan darah, sebagaimana dilansir Wawai news dari Buser Matamaja Grup, Selasa 25 November 2025.
Sebagai Kepala Dinas dan Pengguna Anggaran (PA), sudah sewajarnya Idi memberikan evaluasi yang jelas. Minimal, turun ke lokasi atau menegur kontraktor yang kelewat santai.
Tetapi yang terjadi justru sebaliknya: pembiaran berjamaah. Pengawasan menghilang, pekerja sibuk merokok, sementara proyek bernilai miliaran rupiah dikerjakan seperti renovasi halaman rumah.
Sejumlah lokasi Jatisampurna, Pondok Melati, Rawalumbu, hingga Jatiasih menjadi saksi nyata proses pekerjaan yang berjalan “liar”, seperti drama tanpa sutradara.
Tidak ada SOP yang terlihat, tidak ada pengawasan nyata, dan para pelaksana lebih sering terlihat duduk di warung daripada di samping alat berat.
Mandor pun tampak “multitasking” menangani beberapa proyek sekaligus. Hebat memang, tapi hasilnya tentu tidak seindah angka miliaran rupiah di dalam kontrak.
Kasus Pondok Melati: Proyek Rp3,7 Miliar, Mandornya di Pojok Warung
Salah satu proyek yang disorot berada di Pondok Melati, dikerjakan oleh CV Olivia Margaret, dengan nilai anggaran Rp 3.740.498.338,00 dari PAD 2025. Programnya: penyelenggaraan jalan, sub kegiatan rekonstruksi jalan teorinya megah, praktiknya banyak catatan.
Temuan di lapangan antara lain:
- Pemasangan U-ditch terlalu kecil (70×60 cm) dan perlu ditambah hebel di atasnya. Ini bukan improvisasi artistik melainkan pelanggaran teknis.
- Tambahan material itu menunjukkan kelalaian terhadap gambar kerja konstruksi.
- Ukuran U-ditch tidak sesuai dengan posisi drainase. Salah desain atau salah pilih ukuran, keduanya tetap tanggung jawab dinas.
Saat dimintai keterangan, Jecki, penanggung jawab lapangan dari CV Olivia Margaret, hanya duduk terdiam di pojok warung. Entah sedang merenungkan masa depan proyek atau masa depan kariernya.
Butuh Pengawasan, Bukan Janji Rilis
Dengan nilai anggaran miliaran rupiah, kualitas pekerjaan seharusnya menjadi prioritas. Bekasi butuh hasil kerja yang rapi, bukan perbaikan darurat setelah proyek selesai. Sayangnya, tanpa pengawasan yang kuat dari BMSDA, hasilnya bisa ditebak asal jadi dan jauh dari harapan warga.
Sekarang yang ditunggu bukan lagi jawaban “nanti kami bikin rilis”, tetapi tindakan nyata. Karena proyek jalan bukan konten media sosial: tidak cukup hanya dijanjikan, harus benar-benar diperbaiki.***











