JAKARTA – Semua orang ingin surga. Tak ada yang berdoa minta neraka. Kita salat, puasa, zakat, sedekah semuanya demi satu tujuan, ridha Allah SWT. Tapi ada kabar yang bikin hati tercekat. Ternyata, ada golongan ahli ibadah yang justru bangkrut di akhirat.
Bukan bangkrut karena tak punya harta. Tapi bangkrut karena kehabisan pahala.
Ibadah 70 Tahun, Tertahan Karena Lidi
Dikisahkan oleh Wahab bin Munabbih dan dinukil dalam buku Laa Taghtarr (Jangan Terbuai) karya Ahmad Izzan, seorang pemuda bertobat dari seluruh maksiatnya. Ia lalu beribadah tanpa henti selama 70 tahun. Puasa tak pernah putus. Tidur hampir tak pernah. Hidupnya diisi sujud dan zikir.
Namun setelah wafat, dalam sebuah mimpi, ia mengabarkan bahwa dirinya belum bisa masuk surga.
Semua dosanya telah diampuni Allah SWT kecuali satu.
Ia pernah mengambil sebatang lidi untuk tusuk gigi tanpa izin pemiliknya.
Satu hal kecil. Sepele di mata manusia. Tapi tidak sepele di sisi Allah.
Betapa sering kita meremehkan hal kecil. Meminjam tanpa izin. Mengambil yang bukan hak. Menganggap enteng ucapan yang melukai.
Padahal, bisa jadi itulah yang menahan kita di gerbang surga.
Bangkrut Versi Akhirat
Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”
Mereka menjawab, orang yang tak punya harta.
Beliau bersabda bahwa orang bangkrut adalah yang datang di hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat. Namun semasa hidupnya ia mencaci, memfitnah, memakan harta orang lain, menyakiti, bahkan menzalimi sesama. Maka pahala-pahalanya diberikan kepada orang-orang yang pernah ia zalimi. Hingga habis. Lalu dosa mereka dipikulkan kepadanya.
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan tercatat dalam Sahih Muslim serta Sunan at-Tirmidzi.
Datang dengan pahala. Pulang dengan dosa.
Itulah bangkrut yang sebenarnya.
Amal yang Habis Karena Riya
Dalam kitab-kitab ulama seperti karya Al-Hafizh Taqiyuddin Al-Jurjani dan nasihat yang dinukil oleh Ibnu Rajab, dijelaskan bahwa amal bisa hangus bukan hanya karena zalim, tapi juga karena riya.
Ibadah yang dilakukan agar dipuji manusia.
Sedekah yang diumumkan agar terlihat dermawan.
Salat yang diperpanjang agar disebut khusyuk.
Riya itu seperti rayap. Tak terlihat, tapi menggerogoti dari dalam.
Kita mungkin merasa suci. Tapi jika niat tak lurus, amal bisa tak bernilai.
Hati-Hati Dengan yang Kecil
Kisah lain menyebut seorang juru timbang yang disiksa karena membiarkan takaran kurang akibat debu yang menempel. Ia menganggapnya remeh. Tapi Allah tidak.
Dari sini kita belajar: dalam Islam, hak manusia itu berat. Bahkan lebih berat dari banyaknya rakaat.
Rajin ibadah itu mulia.
Tapi menjaga lisan, menjaga amanah, menjaga hak orang lain itu penentu.
Jangan Hanya Saleh di Sajadah
Ahli ibadah yang bangkrut adalah mereka yang rajin sujud tapi ringan menzalimi. Yang hafal doa, tapi tak mampu menahan amarah. Yang panjang rukuknya, tapi pendek sabarnya.
Surga tidak hanya dibuka oleh banyaknya ibadah, tetapi juga oleh bersihnya hati dan selamatnya orang lain dari kezaliman kita.
Maka sebelum kita sibuk menambah pahala, mari pastikan kita tidak sedang menggerusnya.
Karena bisa jadi, yang menahan kita bukan dosa besar.
Tapi satu lidi kecil yang kita anggap tak berarti.***













