Scroll untuk baca artikel
Agama

Ramadan 1447 H, Menag Minta Masjid Jadi Oase Kemanusiaan

×

Ramadan 1447 H, Menag Minta Masjid Jadi Oase Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini
Provinsi Lampung menorehkan sejarah baru dengan peresmian Masjid Raya Lampung Al Bakrie di Jalan Jenderal Sudirman No. 59. Masjid termegah dengan kapasitas 12.000 jemaah ini menjadi ikon baru sekaligus pusat peradaban Islam di Lampung.

JAKARTA — Menyambut bulan suci Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa puasa tidak cukup dimaknai sebatas menahan lapar dan dahaga. Ramadan, menurutnya, harus menjadi ruang latihan empati, tempat iman bertemu kemanusiaan tanpa sekat identitas.

Dalam pembinaan ASN di lingkungan Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Senin (9/2/2026), Menag memaparkan langkah-langkah praktis agar nilai-nilai Ramadan benar-benar hadir di ruang publik bukan hanya di mimbar, tetapi juga di jalanan yang dipenuhi pemudik.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Salah satu instruksi utama Menag adalah menggerakkan sekitar 6.000 masjid di jalur mudik nasional agar dibuka selebar-lebarnya selama arus mudik dan balik. Masjid, kata Menag, jangan hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga oase kemanusiaan bagi siapa saja yang singgah kelelahan.

BACA JUGA :  Begini, Tips Dokter Gizi Untuk Menu Buka dan Sahur

“Kami imbau masjid-masjid di jalur mudik itu dibuka. Bahkan kalau perlu, bukan sekadar membuka pintu, tapi juga memberi buka puasa bagi jamaah yang mampir,” ujar Menag.

Pesan ini sekaligus menjadi sindiran halus terhadap fenomena rumah ibadah yang megah secara bangunan, namun kerap “terkunci rapat” saat manusia justru paling membutuhkan tempat bernaung.

Pembinaan ASN tersebut dihadiri jajaran pimpinan Kemenag Sulsel serta tokoh agama lintas iman. Turut mendampingi Menag, Kepala Kanwil Kemenag Sulsel Ali Yafid.

BACA JUGA :  Nisfu Syaban 3 Februari 2026, Malam Penuh Ampunan dan Doa Mustajab

Dalam arahannya, Menag menekankan bahwa esensi agama adalah mencintai sesama manusia, bukan memperdebatkan identitas mereka. Prinsip kemanusiaan universal (humanity) harus menjadi fondasi utama dalam setiap aksi sosial, terlebih di bulan suci.

“Jangan lihat agamanya orang yang kelaparan dan kehausan. Agama apa pun, kalau lapar, beri makan. Allah memuliakan anak cucu Adam, bukan hanya satu golongan,” tegasnya.

Pernyataan ini menegaskan posisi agama sebagai energi moral, bukan alat pembeda kelas sosial maupun sekat mayoritas-minoritas. Bagi Menag, iman yang matang justru diuji ketika berhadapan dengan perbedaan.

Tak berhenti di situ, Menag juga mengingatkan pentingnya etika ruang publik selama Ramadan. Ia mengajak pemilik pusat perbelanjaan dan pengelola ruang umum untuk menyediakan fasilitas ibadah yang layak dan menciptakan suasana yang sejuk bagi umat yang menjalankan puasa.

BACA JUGA :  Pasokan Ikan untuk Ramadhan 2021, Aman

“Agama harus menjadi motivasi untuk mencintai orang lain, sekalipun berbeda agama. Itulah keberagamaan yang sejati,” ujarnya.

Menutup arahannya, Menag berharap Sulawesi Selatan dapat menjadi contoh nasional dalam merajut kearifan lokal dengan nilai-nilai universal agama.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat mewujudkan ajaran agama dengan cara yang santun, ramah, dan penuh kasih sayang karena di era keterbukaan global, wibawa agama bukan diukur dari kerasnya suara, melainkan dari lembutnya tindakan.***