Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Ramadhan 2026: Sekolah Tak Sekadar Puasa, Negara Turun Tangan Bentuk Karakter

×

Ramadhan 2026: Sekolah Tak Sekadar Puasa, Negara Turun Tangan Bentuk Karakter

Sebarkan artikel ini
Secara nasional, kelompok pendidikan malah mencatat inflasi (y-on-y) 1,43 persen. Tiga subkelompok naik semua, hanya pendidikan menengah yang sedikit turun 0,40 persen

JAKARTA – Pemerintah pusat resmi menetapkan skema pembelajaran selama Ramadhan 2026. Melalui hasil Rapat Tingkat Menteri (RTM), pola belajar siswa dirancang tidak lagi sekadar mengejar nilai rapor, tetapi juga nilai hidup: iman, empati, dan disiplin sosial.

Skema pembelajaran Ramadhan 2026 akan terbagi ke dalam tiga fase utama: pembelajaran di luar sekolah, pembelajaran tatap muka terbatas, serta libur Idulfitri. Pemerintah ingin memastikan bahwa Ramadhan tidak berubah menjadi “bulan kosong akademik”, namun juga tidak menjadi bulan tekanan berlebih bagi siswa.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan bahwa Ramadhan adalah ruang strategis pendidikan karakter, bukan sekadar jeda kalender pendidikan.

“Ramadhan adalah momentum pendidikan karakter. Pembelajaran kita arahkan untuk memperkuat nilai keagamaan sesuai agama dan keyakinan murid, sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial dan kebiasaan positif,” ujar Pratikno dalam keterangan resminya.

BACA JUGA :  Jelang Ramadhan, Kemendag Jamin Kestabilan Harga Bapok

Pemerintah pusat menyiapkan kerangka besar, sementara pemerintah daerah diberi ruang untuk menyusun aturan teknis sesuai konteks wilayah. Dengan kata lain, pusat memberi kompas, daerah yang mengemudikan asal tidak ugal-ugalan.

Belajar Bukan Cuma di Kelas, Tapi Juga di Nilai Kehidupan

Selama Ramadhan, pembelajaran tidak hanya berfokus pada akademik. Siswa Muslim diarahkan mengikuti kegiatan keagamaan seperti tadarus Al-Qur’an, pesantren kilat, kajian keislaman, serta aktivitas lain yang berorientasi pada penguatan iman dan takwa.

“Siswa Muslim akan mengikuti kegiatan keagamaan yang memperkuat spiritualitas mereka,” kata Pratikno.

Sementara itu, siswa non-Muslim tetap difasilitasi mengikuti kegiatan keagamaan sesuai keyakinan masing-masing. Pemerintah menegaskan, Ramadhan di sekolah bukan soal mayoritas-minoritas, melainkan soal saling menghormati dan tumbuh bersama.

Tak hanya urusan ibadah, Ramadhan juga diarahkan menjadi laboratorium kepedulian sosial. Pemerintah mendorong sekolah menggelar kegiatan seperti berbagi takjil, penyaluran zakat dan donasi, hingga kompetisi keagamaan seperti lomba azan dan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).

BACA JUGA :  Warga Tolak Anaknya Masuk Paket B, Disdik Dituding Lari dari Tanggungjawab

Pratikno menyebut konsep “Ramadhan ramah anak” harus benar-benar diisi dengan aktivitas bermakna, bukan sekadar mengganti jam pelajaran dengan tugas daring tanpa arah.

“Ramadhan ramah anak harus diisi dengan aktivitas yang membangun karakter, termasuk gerakan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, gerakan satu jam tanpa gawai, dan kegiatan positif lainnya,” tegasnya.

Jadwal Resmi Pembelajaran Ramadhan 2026

Pemerintah juga telah menetapkan jadwal pembelajaran dan libur sekolah selama Ramadhan 2026 sebagai berikut:

  • Libur awal puasa: 18–20 Februari 2026
  • Pembelajaran tatap muka: 23 Februari–16 Maret 2026
  • Libur pasca-Ramadhan/Idulfitri: 23–27 Maret 2026

Jadwal ini diharapkan memberi keseimbangan antara kebutuhan spiritual, akademik, dan psikologis peserta didik agar Ramadhan tidak menjadi bulan “sekolah setengah hati”.

Hilal di Bawah Ufuk, Awal Ramadhan Menanti Rukyat

Sejalan dengan kebijakan pendidikan Ramadhan, Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) turut merilis data hisab awal Ramadhan 1447 H.

BACA JUGA :  256 Calon Kepsek di Jabar Lolos Seleksi

Berdasarkan data hilal pada 29 Sya’ban 1447 H yang bertepatan dengan Selasa Kliwon, 17 Februari 2026, posisi hilal masih berada di bawah ufuk di seluruh wilayah Indonesia.

Tinggi hilal terbesar tercatat di Kota Sabang, Aceh, dengan tinggi hilal mar’ie -1 derajat 41 menit, sementara terendah di Jayapura, Papua, dengan -3 derajat 12 menit.

Di Jakarta, tepatnya di markaz Gedung PBNU, Kramat Raya, tinggi hilal tercatat -1 derajat 44 menit 39 detik, dengan ijtimak terjadi pada pukul 19:02:02 WIB.

Perhitungan ini dilakukan menggunakan metode falak hisab tahqiqi tadqiki ashri kontemporer khas Nahdlatul Ulama, menandakan awal Ramadhan masih menunggu hasil rukyat resmi.

Dengan skema ini, Ramadhan 2026 bukan sekadar soal kapan libur dan kapan masuk sekolah, tetapi tentang bagaimana negara mencoba memastikan puasa tak hanya menahan lapar, melainkan juga mendidik karakter generasi masa depan.***