Scroll untuk baca artikel
Opini

Ramadhan Terasa Cepat: Ketika Waktu Berlari dan Manusia Terlambat Menyadarinya

×

Ramadhan Terasa Cepat: Ketika Waktu Berlari dan Manusia Terlambat Menyadarinya

Sebarkan artikel ini
Bacaan niat puasa Nisfu Syaban dan keutamaan melaksanakannya. (iStockphoto/Drazen Zigic)
ilustrasi puasa

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi

WawaiNEWS.ID – Belum lama publik memperdebatkan penentuan awal Ramadhan antara metode rukyatul hilal dan wujudul hilal. Namun tanpa terasa, Ramadhan 2026 kini telah memasuki pertengahan sepuluh hari terakhir. Bulan yang ditunggu setahun itu kembali terasa datang dan pergi begitu cepat.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Fenomena ini hampir selalu dirasakan setiap tahun. Banyak orang mengeluh dengan nada yang sama: baru beberapa hari berpuasa, tiba-tiba Ramadhan sudah hampir berakhir. Seolah-olah waktu di bulan suci ini berlari lebih cepat dibanding bulan-bulan lainnya.

Menariknya, rasa “cepatnya Ramadhan” dapat dipahami dari dua perspektif sekaligus: pandangan spiritual dalam tradisi Islam dan penjelasan ilmiah dari psikologi modern.

Dalam tradisi Islam, perubahan persepsi terhadap waktu sebenarnya telah disinggung oleh Muhammad Saw. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, beliau menjelaskan bahwa menjelang akhir zaman waktu akan terasa semakin singkat setahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, bahkan hari terasa seperti sekejap.

BACA JUGA :  Penderita Kanker, Bisa Berpuasa Asal Memgikuti Arahan

Sebagian ulama memahami hadis ini bukan semata-mata sebagai perubahan fisik waktu, melainkan perubahan dalam cara manusia merasakan dan mengelolanya. Waktu tidak benar-benar memendek, tetapi manusia semakin kehilangan kesadaran terhadap nilainya.

Ramadhan memperlihatkan fenomena ini secara jelas. Bulan yang penuh dengan aktivitas ibadah mulai dari sahur, bekerja, berbuka, tarawih, hingga tadarus membuat hari-hari terasa padat. Ketika hidup dipenuhi ritme spiritual yang intens, waktu terasa bergerak lebih cepat.

Ulama klasik seperti Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab Lataif al-Ma’arif menggambarkan bagaimana generasi saleh terdahulu mengisi Ramadhan dengan ibadah hampir sepanjang waktu. Bagi mereka, Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi momentum spiritual yang sangat berharga.

Ketika waktu dipenuhi dengan amal saleh, bulan itu terasa singkat karena setiap detiknya bernilai.

Namun ada dimensi lain yang sering luput dari perhatian: dimensi psikologis.

Dalam kajian psikologi modern tentang time perception, manusia tidak merasakan waktu secara objektif. Persepsi terhadap waktu sangat dipengaruhi oleh aktivitas, perhatian, dan emosi.

BACA JUGA :  Usia Gibran Usia Semangat

Ketika seseorang menjalani hari yang penuh kegiatan sahur, bekerja, berbuka bersama, hingga ibadah malam otak memproses hari tersebut sebagai rangkaian pengalaman yang padat. Akibatnya, satu bulan terasa berlalu lebih cepat daripada yang sebenarnya.

Sebaliknya, pengalaman berbeda sering dirasakan oleh anak-anak yang baru belajar berpuasa. Bagi mereka, satu hari terasa sangat panjang. Perhatian mereka tertuju pada rasa lapar, haus, dan menunggu waktu berbuka.

Inilah bukti bahwa waktu bukan sekadar persoalan jam dan kalender, tetapi juga soal fokus mental manusia.

Namun di balik semua penjelasan itu, ada pesan yang jauh lebih penting: cepatnya Ramadhan seharusnya menjadi peringatan, bukan sekadar keluhan.

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi tentang kesempatan memperbaiki diri. Ia adalah ruang spiritual yang datang hanya sekali dalam setahun.

BACA JUGA :  Kohesi Anies dan Partai Politik

Sayangnya, tidak sedikit orang yang justru menyadari nilainya ketika bulan itu hampir berakhir. Sepuluh hari terakhir datang seperti alarm yang terlambat disadari.

Padahal dalam tradisi Islam, justru pada fase akhir Ramadhan tersimpan peluang spiritual terbesar termasuk malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Karena itu, kesadaran bahwa Ramadhan terasa begitu cepat seharusnya memicu refleksi yang lebih dalam. Pertanyaannya bukan lagi mengapa Ramadhan terasa singkat, tetapi apa yang sudah kita lakukan selama bulan itu berlangsung.

Jika waktu terasa berlari, mungkin bukan Ramadhan yang terlalu cepat. Bisa jadi manusialah yang terlalu lambat menyadari nilai setiap detiknya.

Dan ketika bulan suci itu benar-benar pergi, yang tersisa bukan hanya kenangan tentang sahur dan berbuka tetapi juga pertanyaan sunyi:

sudahkah Ramadhan benar-benar mengubah diri kita?


Jakarta, ARS
Abdul Rohman Sukardi
Esais & Penulis Independen
Menulis isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik, dan Peradaban.***