Scroll untuk baca artikel
Opini

Ronda Sahur: Lebih dari Sekadar Ritme Dini Hari

×

Ronda Sahur: Lebih dari Sekadar Ritme Dini Hari

Sebarkan artikel ini
membangunkan sahur
foto ilustrasi membangunkan sahur (foto republik)


Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 08 Maret 202

WawaiNEWS.ID – Bagi banyak kampung dan kota di Indonesia, Ramadan hampir selalu identik dengan satu suara khas yang memecah sunyi dini hari: ronda sahur. Dari dentuman beduk di Jawa, kentongan di Sumatera, hingga rombongan anak muda yang berkeliling menggunakan pengeras suara di kota-kota besar. Tradisi ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya memuat makna sosial yang jauh lebih dalam daripada sekadar membangunkan orang untuk makan sahur.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Di banyak tempat, ronda sahur telah menjadi ritme budaya Ramadan yang menyatukan masyarakat. Ia bukan hanya aktivitas membangunkan warga sebelum berpuasa, melainkan juga ruang ekspresi kebersamaan, kreativitas lokal, dan kebahagiaan kolektif yang tumbuh dari kehidupan komunitas.

Setiap daerah di Indonesia memiliki cara unik dalam meramaikan ronda sahur. Di pedesaan Jawa, suara beduk dan kentongan dipukul bersahut-sahutan dari masjid ke masjid. Di Sumatera, denting kentongan bambu menjadi tanda khas waktu sahur. Sementara di Sulawesi, suara terompet atau alat musik sederhana sering menghidupkan suasana dini hari.

Di wilayah Mataraman dan sebagian Jawa Timur Barat, generasi lama masih mengingat bagaimana ronda sahur dilakukan dengan musik bambu batang bambu dipukul berirama oleh para pemuda yang berjalan dari gang ke gang. Irama sederhana itu cukup untuk membangunkan warga sekaligus menciptakan suasana meriah.

BACA JUGA :  Setahun Arinal-Nunik, Lampu Kuning

Kini, sebagian tradisi itu bertransformasi. Banyak kelompok ronda sahur menggunakan sound system keliling, bahkan mengaransemen musik modern. Namun di balik perubahan bentuknya, semangat dasarnya tetap sama: kebersamaan.

Menariknya, ronda sahur sering berkembang menjadi ajang kreativitas spontan. Anak-anak muda tidak sekadar berkeliling membangunkan warga, tetapi juga menciptakan yel-yel, aransemen musik sederhana, hingga irama unik yang menjadi ciri khas kampung mereka.

Yang membuatnya istimewa adalah bahwa semua itu lahir bukan dari kompetisi formal atau hadiah. Kreativitas tersebut muncul dari kesadaran bersama untuk saling mengingatkan sahur.

Di sinilah nilai sosial ronda sahur terlihat jelas: kreativitas tumbuh dari tanggung jawab kolektif.

Fenomena yang kadang disebut sebagai “ngabuburit malam sahur” ini menunjukkan bagaimana energi komunal dapat menghasilkan keceriaan. Bukan sekadar kegaduhan, tetapi ekspresi kebersamaan yang memberi warna pada kehidupan sosial selama Ramadan.

Jika dilihat dari perspektif ilmu sosial, tradisi ronda sahur memiliki fungsi yang cukup penting bagi kehidupan komunitas.

BACA JUGA :  Presidenku Kehilangan Rasa Malu

Dalam kajian modal sosial yang dikemukakan oleh Robert D. Putnam dalam bukunya Bowling Alone (2000), interaksi rutin di dalam komunitas dapat memperkuat kepercayaan dan solidaritas antarwarga. Aktivitas sederhana seperti ronda sahur justru berperan dalam membangun social capital modal sosial yang menjadi fondasi kuat bagi masyarakat.

Sementara itu, teori Sociocultural Theory yang dikembangkan oleh Lev Vygotsky menekankan bahwa pembelajaran dan pembentukan identitas sosial terjadi melalui interaksi dalam komunitas.

Ronda sahur, dalam konteks ini, dapat dipahami sebagai ruang belajar sosial lintas generasi. Anak-anak belajar tentang tradisi, remaja belajar tentang tanggung jawab sosial, dan orang tua menjadi penjaga nilai kebersamaan.

Tradisi membangunkan sahur ternyata tidak hanya ada di Indonesia. Di berbagai negara Muslim, praktik serupa juga berkembang dengan warna budaya masing-masing.

Di Mesir, terdapat tradisi Musaharati, yaitu seseorang yang berjalan keliling sambil menabuh gendang dan memanggil warga untuk sahur. Di Turki, tradisi Ramazan Davulcusu juga menghadirkan penabuh drum yang berkeliling dari rumah ke rumah.

Keberadaan tradisi-tradisi ini menunjukkan bahwa ritual keagamaan sering kali berdialog dengan budaya lokal, menciptakan ekspresi yang unik di setiap masyarakat.

BACA JUGA :  Jokowi Sang Suci

Selain mempererat hubungan sosial, ronda sahur juga memberi dampak ekonomi bagi komunitas lokal.

Pedagang makanan sahur mendapatkan tambahan pembeli, penjual minuman hangat ramai dikunjungi, dan penyedia peralatan suara atau alat musik memperoleh peluang usaha. Di beberapa daerah, tradisi ini bahkan berkembang menjadi festival sahur yang menarik wisatawan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa aktivitas budaya sederhana dapat memicu perputaran ekonomi skala komunitas.

Pada akhirnya, ronda sahur membuktikan bahwa aktivitas kecil di waktu dini hari dapat memiliki makna yang besar bagi kehidupan sosial.

Dari musik bambu yang sederhana hingga sound system keliling yang modern, semuanya menjadi bagian dari satu ritme yang sama: ritme kebersamaan.

Ramadan di Indonesia bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia juga tentang merawat solidaritas, merayakan partisipasi komunitas, dan menumbuhkan energi kreatif yang lahir dari kesadaran bersama.

Dan ketika suara beduk, kentongan, atau musik ronda sahur kembali bergema di dini hari, sesungguhnya yang sedang dibangunkan bukan hanya orang yang hendak makan sahur tetapi juga semangat kebersamaan sebuah komunitas.