Scroll untuk baca artikel
Sosial

Sekampung Udik: Salis (11) Yatim Piatu dalam Kondisi Memprihatinkan

×

Sekampung Udik: Salis (11) Yatim Piatu dalam Kondisi Memprihatinkan

Sebarkan artikel ini
Salis Syakhira Maritza Arifin. Tubuhnya kurus, berat badannya hanya sekitar 13 kilogram,saat dikunjungi politisi PKB, Minggu (11/1) - foto Jali

LAMPUNG TIMUR – Di balik deretan program bantuan sosial, ada kisah sunyi dari Sekampung Udik, Lampung Timur. Salis (11), seorang anak yatim piatu, menjalani hari-harinya dalam keterbatasan kesehatan dan ekonomi, jauh dari sorotan, namun sangat membutuhkan kepedulian bersama.

Namanya Salis Syakhira Maritza Arifin yatim piatu, sakit, dan nyaris tak terdengar suaranya di tengah hiruk-pikuk kebijakan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kisah ini datang dari sudut sunyi Desa Gunung Pasir Jaya, Kecamatan Sekampung Udik, seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang nyaris luput dari perhatian siapa pun. Kondisi ini, benar-benar bergantung pada belas kasih lingkungan sekitar.

Salis adalah anak yatim piatu. Delapan tahun lalu, ayahnya meninggal dunia. Sejak itu, ibunya berjuang seorang diri menjadi tulang punggung keluarga.

BACA JUGA :  Ini, Delapan Rekomendasi PKB Pilkada di Lampung 2020

Namun, takdir kembali merenggut sandaran hidup Salis. Empat puluh hari lalu, sang ibu menyusul pergi untuk selamanya, meninggalkan tiga anak perempuan dalam kondisi ekonomi dan psikologis yang rapuh.

Kini, Salis hanya tinggal berdua dengan kakak perempuannya, Sarayda Asnaya Zahra Arifin (15), yang masih duduk di bangku kelas II SMA. Kakak tertua mereka terpaksa merantau ke Jakarta demi mencari nafkah.

Di usia yang seharusnya dipenuhi perlindungan orang tua, Salis justru harus belajar bertahan hidup mengurus diri sendiri, di rumah sederhana yang jauh dari kata layak.

Kondisi Salis semakin memprihatinkan. Ia diduga mengidap tuberkulosis (TBC) dan tengah menjalani perawatan jalan di salah satu rumah sakit di Kota Metro.

Seorang kerabat keluarga mengungkapkan bahwa sejak ibunya meninggal, kondisi kesehatan Salis terus menurun.

BACA JUGA :  Rumah Janda di Pugung Kebakaran, Pemadaman dengan Alat Seadanya!

“Sejak ibunya wafat, kondisi Salis drop. Badannya makin kurus, makannya sulit, dan belum terlihat banyak perbaikan,” ujarnya lirih.

Minimnya asupan gizi, keterbatasan ekonomi, serta kehilangan figur orang tua membuat tumbuh kembang Salis berada di titik yang mengkhawatirkan. Ia masih duduk di kelas IV Sekolah Dasar, namun tubuhnya seakan tak sanggup menanggung beratnya hidup.

Kisah Salis akhirnya sampai ke telinga salah satu politisi di Lampung Timur yang coba hadir melihat langsung kondisi Salis di desa Gunung Pasir Jaya, pada Minggu (11/1).

Sesampainya di lokasi, apa yang dilihat jauh lebih menyayat daripada cerita yang didengar.

Untuk diketahui bahwa negara telah menyiapkan berbagai program bantuan di bidang pendidikan dan kesehatan bagi keluarga kurang mampu.

BACA JUGA :  DUH! Oknum Kakon di Tanggamus Potong Beras Bansos 10 Kg untuk Ratusan KPM Sebelum Pencoblosan Pemilu 2024

Di rumah sederhana itu, Salis masih terbaring lemah. Matanya menatap kosong, seolah menunggu keajaiban yang entah datang dari mana. Di usia belia, ia telah kehilangan segalanya ayah, ibu, dan masa kecil yang seharusnya penuh tawa.

Kini, Salis tidak hanya membutuhkan simpati. Ia membutuhkan kehadiran nyata negara, perhatian serius dari semua pihak, dan kepedulian sosial yang tidak berhenti pada empati semata.

Karena di balik tubuh kecilnya yang kurus, ada seorang anak yang masih ingin hidup, sembuh, dan bermimpi.

Jika negara diukur dari bagaimana ia melindungi anak-anak paling lemah, maka kisah Salis (11) di Sekampung Udik, Lampung Timur, adalah cermin yang retak. Tubuhnya kurus, orang tuanya telah tiada, dan hidupnya kini bergantung pada kepedulian yang datang terlambat.***