KOTA BEKASI – Danau Duta Harapan disebut punya potensi besar sebagai destinasi wisata air. Namun saat disidak Wali Kota Bekasi Tri Adhianto pada malam hari, fakta di lapangan justru berkata lain: minim lampu, rawan, dan belum ramah publik.
Tri menilai penerangan adalah syarat dasar sebelum bicara wisata. Ia langsung memerintahkan pemasangan lampu tembak agar kawasan danau aman, nyaman, dan tak berubah fungsi di malam hari.
“Kalau mau jadi wisata, jangan gelap. Orang datang untuk rekreasi, bukan berjaga,” tegasnya.
Pemkot Bekasi menargetkan penataan kawasan danau dipadukan dengan UMKM agar selain aman, juga menggerakkan ekonomi warga sekitar.
Minimnya penerangan membuat kawasan yang seharusnya menjadi ruang publik justru berpotensi berubah fungsi. Tri tak ingin danau yang dirancang sebagai ruang rekreasi warga malah menjelma ruang abu-abu.
Tanpa banyak basa-basi, ia langsung memerintahkan Dinas Perhubungan memasang lampu tembak dari berbagai arah.
“Ini ruang publik. Jangan sampai gelapnya lebih dominan daripada fungsinya,” tegas Tri pesan singkat yang maknanya panjang.
Ironisnya, di tengah kondisi penerangan yang minim, aktivitas warga tetap berjalan. Ada yang memancing, ada pula dua pelajar yang duduk berbincang santai di tepi danau.
Potret ini justru memperlihatkan satu hal penting: danau ini hidup, tapi belum dirawat dengan serius.
Tri pun menegaskan visinya, Danau Duta Harapan akan diarahkan menjadi destinasi wisata air yang tertata, terang, aman, dan terintegrasi dengan UMKM agar tak hanya jadi tempat nongkrong, tapi juga penggerak ekonomi warga.
Dalam rangkaian sidak malam itu, Tri juga menyentil persoalan klasik kota, aliran kali di Jalan Lingkar Utara yang dipenuhi rumput liar serta spanduk yang semrawut. Camat dan lurah diminta bergerak cepat.
Pesannya jelas kalau ingin kota terlihat rapi dan wisata layak dijual, jangan tunggu siang untuk bekerja, dan jangan biarkan malam menyembunyikan masalah.***













