Scroll untuk baca artikel
Opini

Sukarno dan Puan Maharani: Refleksi atas Kekuasaan Oligarki di Indonesia

×

Sukarno dan Puan Maharani: Refleksi atas Kekuasaan Oligarki di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Sukarno dan Puan Maharani - foto net

Ketika Sukarno berkuasa, Sukarno menjadikan Sosialisme sebagai arah pembangunan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Sukarno membatasi non pribumi masuk berbisnis ke desa-desa untuk memperkuat ekonomi pribumi.

Atau dalam bahasa Mahathir Mohamad di Malaysia sebagai affirmative policy, ketika dia mencontoh cara Sukarno membagi “kue ekonomi” nasional.

BACA JUGA :  Tahun Baru Masehi: Sejarah dan Pergeseran Makna Perayaan

Sukarno juga membangun pengusaha pribumi dalam tataran nasional, seperti TD. Pardede, Das’ad, Hasjim Ning, Muhammad Gobel, Hadji Kalla, Ahmad Bakrie, Soedarpo, dan lain sebagainya, dalam kebijakan Program Benteng.

Kebijakan Bung Karno ini untuk mengkoreksi dominasi Belanda, Eropa dan Tionghoa selama ratusan tahun mendominasi perdagangan di nusantara.

Selain itu, tentu saja Bung Karno ingin menjadikan Bangsa Indonesia menjadi tuan di negeri sendiri, bukan bangsa budak.

BACA JUGA :  Siasat Menjegal, Kaum Begundal dan Binal

Cita-cita Bung Karno untuk memerdekakan Indonesia, merdeka tanah airnya dan merdeka bangsanya merupakan isi pledoi Bung Karno di Laanrad, pengadilan kolonial di Bandung. Bung Karno meminta “Zelf Bestuur”, meminta Indonesia mengurus sendiri bangsanya.