WawaiNEWS.ID – Di Republik Islam Iran, kekuasaan jarang berpindah tangan tanpa drama. Kali ini, panggung sejarah kembali terbuka setelah wafatnya Ali Khamenei dalam serangan udara yang memicu eskalasi konflik di Timur Tengah.
Tak butuh waktu lama, Majelis Ahli Iran lembaga ulama yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi mengumumkan penerusnya. Nama yang muncul bukan tokoh baru. Bukan pula ulama karismatik yang lama diprediksi.
Yang naik justru Mojtaba Khamenei, putra sang pemimpin yang selama ini dikenal sebagai “tokoh bayangan” di balik kekuasaan Iran.
Bagi banyak pengamat politik Timur Tengah, pengangkatan ini terasa seperti plot lama yang akhirnya dimainkan secara terbuka.
Selama bertahun-tahun, Mojtaba Khamenei bukanlah figur publik yang gemar tampil di depan kamera. Ia jarang berpidato, hampir tidak pernah memberi wawancara, dan tidak pernah memegang jabatan resmi dalam pemerintahan.
Namun dalam politik Iran, ketidakhadiran di depan publik sering kali justru berarti kekuatan di belakang layar.
Mojtaba dikenal luas sebagai orang yang mengendalikan akses ke ayahnya. Banyak diplomat dan politisi menyebutnya sebagai “penjaga gerbang” kekuasaan di Teheran figur yang menentukan siapa yang boleh mendekati pemimpin tertinggi.
Bahkan sebuah kabel diplomatik Amerika Serikat yang kemudian dibocorkan oleh WikiLeaks pada 2007 menyebut Mojtaba sebagai salah satu jalur paling efektif untuk memahami dinamika di sekitar Ali Khamenei.
Singkatnya, Ia mungkin tidak memegang jabatan formal, tetapi pengaruhnya merambat ke seluruh struktur kekuasaan Iran.
Ulama Menengah dengan Pengaruh Besar
Mojtaba lahir pada 1969 di Mashhad, kota suci Syiah di Iran.
Ia tumbuh dalam keluarga yang saat itu aktif melawan rezim Shah sebelum Revolusi Iran 1979 menggulingkan monarki yang didukung Barat.
Seperti banyak generasi revolusi lainnya, masa mudanya juga bersentuhan dengan konflik. Mojtaba disebut pernah terlibat dalam Perang Iran-Irak, perang brutal yang membentuk identitas politik generasi Iran pasca-revolusi.
Setelah itu, ia menempuh pendidikan agama di Qom, pusat teologi Syiah di Iran.
Secara formal, ia hanya memiliki gelar Hojjatoleslam, satu tingkat di bawah Ayatollah gelar yang dimiliki ayahnya dan juga pendiri Republik Islam, Ruhollah Khomeini.
Di sinilah kritik mulai muncul.
Banyak ulama dan pengamat menilai kredensial keagamaannya tidak cukup tinggi untuk memimpin negara teokrasi yang menempatkan ulama sebagai puncak otoritas politik.
Namun dalam politik Iran, kredensial formal sering kalah oleh jaringan kekuasaan.
Kedekatan dengan Garda Revolusi
Jika ada satu institusi yang paling menentukan stabilitas kekuasaan Iran, itu adalah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Dan di sinilah Mojtaba memiliki keunggulan.
Selama bertahun-tahun ia dikenal membangun hubungan erat dengan para komandan Garda Revolusi serta milisi Basij.
Kedekatan ini membuatnya memiliki basis dukungan kuat di kalangan aparat keamanan—terutama generasi muda yang lebih radikal.
Peneliti Iran dari organisasi kebijakan United Against Nuclear Iran, Kasra Aarabi, bahkan menyebut Mojtaba sebagai tokoh yang memiliki dukungan signifikan di dalam IRGC.
Dalam sistem politik Iran, dukungan dari Garda Revolusi sering kali lebih menentukan daripada popularitas publik.
Nama Mojtaba pertama kali mencuat dalam politik Iran saat pemilihan presiden 2005.
Banyak analis percaya ia memainkan peran penting dalam naiknya Mahmoud Ahmadinejad, tokoh garis keras yang kemudian menjadi presiden Iran.
Ia kembali disebut mendukung Ahmadinejad pada pemilu 2009, yang memicu gelombang protes besar di Iran. Demonstrasi tersebut akhirnya dibubarkan secara keras oleh aparat keamanan.
Peran Mojtaba juga menarik perhatian Washington.
Pada 2019, United States Department of the Treasury menjatuhkan sanksi terhadapnya. Pemerintah AS menilai ia bertindak sebagai perpanjangan tangan pemimpin tertinggi meskipun tidak memiliki jabatan resmi.
Pengangkatan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi juga memicu kritik yang tajam.
Republik Islam Iran lahir dari revolusi yang menggulingkan monarki Shah. Namun bagi para pengkritik, suksesi ini terasa seperti lahirnya dinasti baru di negara yang dahulu menolak dinasti.
Ironi sejarahnya sulit diabaikan.
Negara yang berdiri dengan slogan revolusi melawan kerajaan kini justru dituduh melahirkan “monarki religius versi baru.”
Pengangkatan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi juga memicu kritik yang tajam.
Republik Islam Iran lahir dari revolusi yang menggulingkan monarki Shah. Namun bagi para pengkritik, suksesi ini terasa seperti lahirnya dinasti baru di negara yang dahulu menolak dinasti.
Ironi sejarahnya sulit diabaikan. Negara yang berdiri dengan slogan revolusi melawan kerajaan kini justru dituduh melahirkan “monarki religius versi baru.”
Selama bertahun-tahun, Mojtaba Khamenei adalah figur yang bekerja di balik tirai kekuasaan.
Kini tirai itu terbuka. Ia bukan lagi sekadar putra pemimpin, bukan pula penjaga pintu istana politik Teheran. Ia kini menjadi orang yang memegang kunci utama Republik Islam Iran.
Dan seperti banyak kisah kekuasaan di Timur Tengah, pertanyaannya bukan hanya bagaimana ia naik ke puncak. Tetapi seberapa lama ia mampu bertahan di sana.***












