KOTA BEKASI — Negeri ini terus sibuk merayakan pertumbuhan, sementara warganya tumbang satu per satu di jalanan. Setelah publik diguncang kabar seorang anak SD memilih mengakhiri hidup karena tak mampu membeli buku dan pulpen, Kota Bekasi kembali menyuguhkan potret lain dari wajah ekonomi Indonesia, seorang penjual es cincau keliling meregang nyawa di tengah usahanya mengais rezeki.
Bukan di rumah sakit, bukan di ruang istirahat. Ia jatuh di aspal, saat masih menggenggam hidup lewat dorongan sebuah gerobak.
Peristiwa itu terekam kamera pengawas di Perumahan Irigasi Danita, Kelurahan Bekasi Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Jumat (6/2).
Dalam rekaman, pria berkaus merah, bercelana jins, dan bertopi itu tampak mendorong gerobaknya seperti hari-hari biasa. Tak ada drama, tak ada kerumunan. Hanya rutinitas keras seorang pekerja informal yang tak punya pilihan selain terus berjalan.
Beberapa langkah kemudian, tubuhnya perlahan ambruk. Kakinya sempat bergerak seolah masih berusaha bertahan lalu diam. Jalanan kembali lengang, sementara satu nyawa pergi tanpa seremoni.
Korban diketahui berinisial EE alias I (50), pedagang es cincau keliling. Ironisnya, ia memiliki riwayat penyakit komplikasi. Namun seperti banyak warga lain, sakit bukan alasan untuk berhenti bekerja. Sebab berhenti bekerja berarti berhenti makan.
Kasi Humas Polsek Rawalumbu, Aiptu Kuwati Asih, membenarkan kejadian tersebut. Sekitar pukul 14.00 WIB, polisi menerima laporan warga terkait seorang pria yang tergeletak tak bernyawa di kawasan perumahan.
Personel SPKT bersama piket fungsi Polsek Rawalumbu yang dipimpin Iptu Nuh Suryadi segera mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan TKP. Hasilnya, korban ditemukan di dekat gerobaknya tanpa respons.
“Berdasarkan keterangan saksi dan pemeriksaan awal, korban tidak menunjukkan tanda-tanda kekerasan. Korban diduga meninggal dunia akibat sakit,” ujar Aiptu Kuwati sebagaimana dilansir Wawai News, Minggu (8/2).
Jenazah kemudian dievakuasi ke RSUD Kota Bekasi untuk pemeriksaan lanjutan.
Tak ada kriminalitas. Tak ada pelaku. Tak ada tersangka. Hanya sebuah sistem yang terus membiarkan orang sakit tetap bekerja sampai ajal menjemput.
Negara mungkin akan menyebut ini sebagai musibah. Statistik akan mencatatnya sebagai kematian wajar. Namun bagi publik yang masih memiliki nurani, peristiwa ini adalah alarm keras, tentang warga yang dipaksa kuat oleh keadaan, tentang jaring pengaman sosial yang bolong, dan tentang bagaimana kematian bisa datang di sela-sela mencari nafkah.
Di jalanan Bekasi, seorang penjual es cincau telah selesai bekerja untuk selamanya.













