LAMPUNG TIMUR — Malam di Lapangan BRN, Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, tak lagi sekadar gelap yang biasa. Ia berubah menjadi lautan cahaya iman, saat gema takbir membelah langit, menggugah hati, dan menyatukan langkah warga dalam satu irama, menyambut kemenangan dengan penuh syukur.
Takbir bukan sekadar dilantunkan ia dihidupkan. Mengalir dari lisan ke jiwa, dari jiwa ke kebersamaan. Di tengah riuh yang khidmat itu, terasa jelas bahwa malam takbiran bukan hanya seremoni tahunan, melainkan panggilan batin untuk kembali pada makna sejati Idul Fitri.
Kegiatan takbir keliling bertema “Gema Takbir Keliling Menyambut Hari Kemenangan dengan Penuh Kebahagiaan” resmi dilepas Kapolsek Sekampung Udik, Iptu Farhan. Turut hadir Kepala Desa Pugung Raharjo Esmoyo, Camat Sekampung Udik Putu Ardiana, tokoh agama, dan tokoh masyarakat bukan sekadar tamu, tapi saksi hidup dari denyut kebersamaan yang jarang bisa direkayasa.
Menariknya, di tengah narasi klasik “peserta menurun”, justru semangat warga menolak tunduk. Sekretaris Desa, Nurzaini, mengungkapkan antusiasme masyarakat justru melonjak hingga dua kali lipat.
Ini bukan sekadar angka ini tamparan halus bagi siapa pun yang mengira semangat kebersamaan warga desa mulai pudar.Sepanjang rute takbir keliling, jalanan bukan hanya dipenuhi manusia, tapi juga makna.
Senyum-senyum sederhana menjadi bahasa paling jujur dari persatuan. Anak-anak, orang tua, hingga pemuda larut dalam satu frekuensi merayakan tanpa sekat, tanpa kepentingan, tanpa pencitraan.
Di tengah dunia yang kerap gaduh oleh perbedaan dan kepentingan, malam itu Pugung Raharjo seakan memberi sindiran sunyi, bahwa harmoni tak butuh panggung besar, cukup hati yang lapang dan niat yang lurus.Lebih dalam lagi, gema takbir mengingatkan bahwa kemenangan bukanlah soal pakaian baru atau meja penuh hidangan.
Ia adalah keberhasilan menjaga nilai-nilai Al-Qur’an tetap hidup setelah Ramadan pergi sebuah ujian yang justru baru dimulai.Takbiran malam itu adalah doa yang berjalan. Tentang harapan akan rahmat Allah SWT, tentang persatuan yang tak retak, dan tentang kebersamaan yang tak lekang oleh waktu.
Di Pugung Raharjo, malam i tak hanya suara yang menggema. Ada rasa yang menyala. Ada iman yang diperbarui. Dan ada pesan yang ditinggalkan: bahwa kemenangan sejati adalah ketika manusia kembali menjadi manusia—saling menguatkan, saling mendoakan, dan tetap berjalan di jalan-Nya.













