Scroll untuk baca artikel
Opini

Tantangan Dunia Islam: Memadukan Peradaban Spiritual dan Material

×

Tantangan Dunia Islam: Memadukan Peradaban Spiritual dan Material

Sebarkan artikel ini
Abdul Rohman Sukardi
Abdul Rohman Sukardi

Dalam pandangan Islam, ilmu pengetahuan bukan sekadar alat untuk menguasai alam, melainkan amanah yang harus digunakan demi kemaslahatan manusia dan keseimbangan kosmos. Hal ini tercermin dalam konsep khalīfah fī al-arḍ (Q.S. al-Baqarah: 30).

Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa krisis peradaban modern pada dasarnya adalah krisis adab hilangnya penempatan yang tepat antara ilmu, manusia, dan tujuan hidup (Islam and Secularism; Prolegomena to the Metaphysics of Islam).

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Sementara itu, Malik Bennabi melihat kemunduran Dunia Islam bukan sebagai krisis agama, melainkan krisis peradaban. Umat Islam gagal menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam sistem sosial, politik, dan teknologi yang efektif (The Conditions of the Renaissance; The Question of Culture). Dengan kata lain, Islam memiliki modal nilai yang kuat, tetapi sering gagal menginstitusikannya dalam bentuk peradaban material.

Potensi Besar yang Belum Aktual

Secara normatif, Dunia Islam memiliki kesiapan konseptual untuk memadukan dua kutub peradaban tersebut. Islam menawarkan kerangka etika komprehensif melalui konsep keadilan (‘adl), kemaslahatan (maṣlaḥah), tanggung jawab kekhalifahan, dan maqāṣid al-sharī‘ah. Kerangka ini disistematisasi oleh Abū Isḥāq al-Shāṭibī dalam al-Muwāfaqāt dan dikembangkan oleh pemikir kontemporer seperti Jasser Auda.

BACA JUGA :  Kelemahan Pemikiran Syech Taqiyudin

Namun kesiapan ini masih bersifat potensial, belum aktual. Dunia Islam masih tertinggal dalam penguasaan ilmu pengetahuan strategis, lemah dalam institusi riset, serta kerap terjebak konflik internal dan politisasi agama.

Sebagaimana diingatkan Ibn Khaldun dalam al-Muqaddimah, keberlanjutan peradaban ditentukan oleh keterkaitan antara moral, kekuasaan, dan tata kelola. Klaim moral tanpa keteladanan struktural hanya akan melahirkan stagnasi.

Relevansi Islam bagi Dunia Global

Pertanyaan krusial lainnya adalah apakah dunia yang semakin materialistik masih terbuka terhadap peradaban spiritual Islam. Secara sosiologis, jawabannya adalah ya, dengan satu syarat penting: Islam tampil sebagai sumber etika universal, bukan ideologi eksklusif.

Krisis iklim, ketimpangan ekonomi global, dan kecemasan akibat perkembangan teknologi mendorong banyak masyarakat dunia mencari nilai-nilai alternatif. Dalam konteks ini, prinsip Islam seperti keadilan distributif, larangan eksploitasi, solidaritas sosial, dan tanggung jawab ekologis memiliki daya tarik lintas budaya dan agama.

BACA JUGA :  Rinjani Ditutup?

Islam tidak harus “mengislamkan dunia”, tetapi dapat memberi arah moral bagi peradaban global. Sejarah mencatat, pada masa keemasan Islam, peradaban Islam menjadi pusat ilmu dan etika tanpa memaksa masyarakat lain memeluk Islam. Hal ini dikaji oleh Marshall Hodgson (The Venture of Islam) dan George Makdisi dalam studi tentang institusi keilmuan Islam klasik.

Agenda Transformasi Internal dan Eksternal

Dari perspektif internal, Dunia Islam membutuhkan reformasi pendidikan yang melahirkan ilmuwan beradab dan ulama yang melek sains. Fazlur Rahman menekankan pentingnya integrasi etika dan intelektualitas dalam pendidikan Islam (Islam and Modernity).

Institusi sosial seperti zakat dan wakaf juga perlu dimodernisasi agar berfungsi efektif sebagai instrumen keadilan sosial dalam konteks dunia modern.

Dari perspektif eksternal, Dunia Islam harus terlibat aktif dalam percakapan global tentang etika teknologi, pembangunan berkelanjutan, dan keadilan ekonomi. Kepemimpinan peradaban tidak identik dengan dominasi politik, melainkan kemampuan menawarkan visi dan praktik yang relevan. Dalam istilah Jürgen Habermas, Islam dapat berkontribusi pada rasionalitas komunikatif global dengan memberi orientasi nilai pada sistem modern yang kering secara moral (Theory of Communicative Action).

BACA JUGA :  Idiologi Gerakan Perubahan dan Kekuasaan

Penutup: Sintesis Peradaban

Tantangan Dunia Islam hari ini bukan memilih antara peradaban spiritual atau material, melainkan menyatukan keduanya dalam satu visi peradaban yang utuh. Dunia tidak kekurangan teknologi, tetapi kekurangan arah.

Islam, dengan warisan nilai dan sejarah peradabannya, memiliki peluang historis untuk mengisi kekosongan tersebut bukan melalui nostalgia masa lalu atau retorika moral, melainkan melalui transformasi nyata yang menjadikan kemajuan material sebagai sarana pengabdian kepada kemanusiaan.

Sebagaimana diringkas Malik Bennabi, peradaban lahir bukan dari kelimpahan benda, tetapi dari sintesis antara manusia, nilai, dan alat. Ketika Dunia Islam mampu membangun kembali sintesis itu, kepemimpinan peradaban bukan lagi sekadar harapan, melainkan keniscayaan sejarah.***