Scroll untuk baca artikel
LampungLingkungan Hidup

Teror Lalat di GSB: Ada “Aroma Konflik Kepentingan” di Balik Limbah Kandang Ayam

×

Teror Lalat di GSB: Ada “Aroma Konflik Kepentingan” di Balik Limbah Kandang Ayam

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Lalat di Desa GSB

LAMPUNG TIMUR – Warga Desa Gunung Sugih Besar (GSB), Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, tengah menghadapi tamu tak diundang yang datang tanpa permisi, tak kenal waktu, dan jumlahnya seperti pasukan udara mini yakni lalat.

Serbuan lalat yang diduga berasal dari aktivitas peternakan ayam di wilayah tersebut kembali menjadi keluhan warga. Ironisnya, gangguan ini bukan cerita baru. Warga menyebutnya sebagai “tradisi tahunan” yang selalu hadir, seolah memiliki jadwal rutin sendiri.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Bedanya, tahun ini wabah lalat tidak hanya memicu keluhan soal lingkungan, tetapi juga memunculkan dugaan konflik kepentingan antara aparatur desa dengan pihak perusahaan peternakan.

Sejumlah warga menduga keluhan masyarakat tidak mendapat perhatian serius karena adanya keterlibatan aparatur desa dalam pengelolaan limbah dari perusahaan peternakan ayam di desa tersebut.

Sumber Wawai News menyebutkan limbah kotoran ayam dari kandang perusahaan diduga dikelola oleh oknum aparatur desa, termasuk kepala desa.

“Percuma warga mengeluhkan wabah lalat yang diduga bersumber dari perusahaan ayam PT CAP di desa. Katanya limbahnya sudah dikelola oleh aparatur desa sendiri,” ujar sumber tersebut.

BACA JUGA :  “Lebaran di Desa GSB Bakal Ditemani Lalat, Dugaan Limbah Kandang Ayam dan ‘Jatah’ Oknum Disorot”

Menurut informasi yang beredar di masyarakat, terdapat sekitar sembilan kandang ayam di wilayah itu dikelola oleh Kades. Kemudian beberapa di antaranya disebut-sebut limbahnya dikelola oleh aparatur desa lainnya.

“Informasinya ada sembilan kandang dikelola oleh Kades. sisanya ada diambil oleh aparatur desa. Jadi wajar kalau keluhan warga tidak digubris,” tambahnya.

Meski informasi tersebut belum terverifikasi secara resmi, dugaan tersebut mulai memicu kecurigaan di kalangan warga bahwa persoalan lalat bukan semata masalah lingkungan, tetapi juga menyangkut kepentingan ekonomi.

Gangguan lalat ini terasa semakin ironis karena terjadi di bulan Ramadan, saat umat Muslim menjalankan ibadah puasa.

Alih-alih menikmati suasana tenang dan bersih, sebagian warga justru harus berjuang menghadapi lalat yang beterbangan di dapur, ruang makan, hingga ruang ibadah.

Aktivitas sehari-hari pun terganggu, mulai dari makan, beristirahat, hingga beribadah.

“Kami mau tidur siang saja susah. Lalatnya banyak sekali,” tulis salah satu warga dalam grup Facebook Desa Gunung Sugih Besar.

BACA JUGA :  Lalat Menyerbu Lagi! DLH Kabupaten Lampung Timur, Diperintahkan Turun ke GSB

Keluhan tersebut langsung mendapat respons dari warga lain yang mengalami hal serupa.

Dalam unggahan yang viral di grup tersebut, seorang warga bahkan secara terbuka meminta aparat desa turun tangan mencari solusi.

“Assalamualaikum, saya minta solusi kepada RT, RW, Kadus dan aparat desa agar lalat ini bisa dimusnahkan dari Gunung Sugih Besar. Sangat mengganggu,” tulisnya.

Keluhan demi keluhan pun bermunculan di kolom komentar. Namun di dunia nyata, solusi masih terasa lebih sunyi dibanding riuhnya diskusi di media sosial.

Kekecewaan warga tidak hanya ditujukan kepada perusahaan peternakan, tetapi juga kepada aparatur desa yang dinilai lamban merespons masalah tersebut.

Seorang warga bahkan melontarkan sindiran satir.

“Kalau warga mengadu, aparat desa kadang seperti lalat juga. Datang, hinggap sebentar, lalu menghilang,” ujarnya sambil mengibas-ngibaskan sapu lidi ke udara.

Sindiran tersebut mencerminkan kekecewaan warga yang merasa persoalan ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa penyelesaian yang jelas.

BACA JUGA :  Ratusan Kader Banser Lampung Timur Ikuti Diklatsar di Margasekampung

Menurut warga, setiap tahun populasi lalat selalu meningkat ketika aktivitas peternakan ayam sedang tinggi.

Namun hingga kini belum ada langkah konkret yang mampu menekan dampak lingkungan dari aktivitas tersebut.

Keluhan warga akhirnya sampai ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Lampung.

Kepala Bidang Penaatan dan Pengembangan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Lampung, Yulia Mustika Sari, menyatakan pihaknya akan menindaklanjuti laporan tersebut setelah libur Lebaran.

“Insya Allah setelah Lebaran kami izin Kadis untuk menindaklanjuti,” tulisnya dalam pesan kepada wartawan Wawai News, Sabtu (14/3).

Bagi warga Gunung Sugih Besar, lalat kini bukan sekadar serangga kecil yang mengganggu.

Ia telah berubah menjadi simbol persoalan lingkungan yang belum kunjung mendapatkan solusi.

Di tengah Ramadan yang seharusnya membawa ketenangan, warga justru harus berhadapan dengan lalat yang beterbangan di rumah, dapur, hingga tempat ibadah.

Dan bagi sebagian warga, masalah ini bukan hanya soal lalat. Melainkan tentang kepedulian yang terasa semakin jarang hinggap di desa mereka.***