Presiden Trump bahkan menyatakan industri pertahanan AS akan melipatgandakan produksi senjata untuk mendukung operasi militer tersebut.
Sementara itu, pesawat pembom B-1 Lancer telah dikerahkan ke pangkalan militer AS di Inggris untuk memperkuat kemampuan serangan jarak jauh.
Dampak Kemanusiaan
Sejak perang dimulai pada 28 Februari, konflik telah menimbulkan korban jiwa di berbagai negara:
- 1.332 orang tewas di Iran
- 217 orang tewas di Lebanon
- 11 orang tewas di Israel
- 6 personel militer AS tewas
Menurut UNHCR, sedikitnya 330.000 orang telah mengungsi di kawasan Timur Tengah akibat konflik tersebut.
Perang yang Semakin Mahal
Selain korban manusia, konflik ini juga mengguncang ekonomi global.
Harga minyak melonjak tajam karena ketidakpastian pengiriman di Selat Hormuz, sementara jalur penerbangan di kawasan Teluk banyak ditutup.
Bandara Bandara Internasional Hamad di Qatar sempat menghentikan operasi sebelum akhirnya membuka kembali jalur darurat terbatas.
Maskapai Qatar Airways bahkan harus menjalankan penerbangan repatriasi khusus ke sejumlah kota Eropa.
Dukungan Politik di Washington
Di dalam negeri AS, baik Senat Amerika Serikat maupun Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat menolak resolusi bipartisan yang bertujuan menghentikan perang.
Keputusan itu secara efektif memberi lampu hijau bagi pemerintahan Trump untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran.
Sementara dunia masih menunggu satu pertanyaan besar:
apakah perang ini akan berhenti di Iran atau justru menjadikan seluruh Timur Tengah sebagai medan tempur berikutnya.***










