Scroll untuk baca artikel
Opini

Tradisi Mengucap “Minal Aidzin Wal Faizin”

×

Tradisi Mengucap “Minal Aidzin Wal Faizin”

Sebarkan artikel ini
Abdul Rohman Sukardi
Abdul Rohman Sukardi

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi

WAWAINEWS.ID — Setiap tahun, suasana Lebaran di Indonesia selalu identik dengan silaturahmi. Rumah-rumah terbuka, tangan-tangan saling berjabat, dan lisan saling mengucap doa: “Minal aidzin wal faizin.”

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Ungkapan itu hampir selalu diikuti kalimat “mohon maaf lahir dan batin,” lalu dibalas dengan “Taqabbalallohu minna wa minkum, taqabbal ya Karim.”

Bagi sebagian orang, kalimat-kalimat itu mungkin terdengar seperti tradisi biasa. Namun sesungguhnya, rangkaian ucapan tersebut memuat makna spiritual, sosial, dan kultural yang sangat dalam.

Lebaran bukan sekadar ritual tahunan atau formalitas budaya. Ia merupakan momentum penting untuk memperbaiki dua dimensi hubungan manusia: hubungan vertikal dengan Allah SWT dan hubungan horizontal dengan sesama manusia.

Secara bahasa, ungkapan “Minal aidzin wal faizin” bermakna semoga kita termasuk orang-orang yang kembali suci dan menjadi pemenang.

BACA JUGA :  Gelora Bung Karno, Gelora Anies

Makna ini berkaitan langsung dengan keberhasilan seorang Muslim menjalani ibadah Ramadan. Puasa yang dilakukan dengan iman dan harapan pahala diyakini dapat membersihkan dosa-dosa manusia.

Hal tersebut ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW: “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam perspektif spiritual, Ramadan menjadi proses penyucian diri. Manusia kembali kepada fitrah kesucian, sebagaimana bayi yang baru dilahirkan.

Karena itulah pada hari Idul Fitri kita saling mendoakan agar termasuk golongan orang-orang yang berhasil melewati Ramadan dengan kemenangan spiritual tersebut.

Namun Lebaran tidak berhenti pada dimensi vertikal saja. Di sinilah pentingnya kalimat “mohon maaf lahir dan batin.”

Islam mengajarkan bahwa dosa kepada Allah dapat dihapus melalui taubat yang tulus. Tetapi kesalahan terhadap sesama manusia tidak akan selesai tanpa saling memaafkan.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan: “Barangsiapa menzalimi saudaranya, hendaklah ia meminta maaf kepadanya sebelum datang hari kiamat.” (HR. Muslim)

BACA JUGA :  Wali Kota Bandar Lampung, Perpanjang Libur Sekolah Hingga Idul Fitri

Artinya, hubungan sosial manusia harus dibersihkan sebelum manusia menghadap Allah.

Bahkan dalam hadis lain disebutkan bahwa ketika dua orang Muslim berjabat tangan dengan tulus, dosa-dosa kecil mereka dapat berguguran sebelum tangan itu terlepas. Hadis ini menunjukkan bahwa tindakan sosial sederhana seperti berjabat tangan, memberi salam, atau tersenyum memiliki nilai spiritual yang besar.

Di sinilah makna mendalam dari tradisi Lebaran. Setelah mendoakan kemenangan spiritual melalui kalimat “Minal aidzin wal faizin,” seseorang kemudian merendahkan hati dengan mengakui kemungkinan kesalahannya kepada orang lain: “Mohon maaf lahir dan batin.”

Ucapan itu biasanya dibalas dengan kalimat: “Taqabbalallohu minna wa minkum, taqabbal ya Karim.”

Artinya: “Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan amal ibadahmu. Wahai Tuhan Yang Maha Mulia, terimalah.”

Balasan ini kembali menegaskan dimensi vertikal: saling mendoakan agar seluruh ibadah Ramadan diterima oleh Allah SWT.

BACA JUGA :  AMIN dan IMAN

Dengan demikian, rangkaian ucapan “Minal aidzin wal faizin,” “mohon maaf lahir dan batin,” serta “Taqabbalallohu minna wa minkum” bukan sekadar ungkapan budaya yang diwariskan turun-temurun. Ia memiliki fondasi teologis yang kuat sekaligus nilai sosial yang mendalam.

Tradisi ini memadukan spiritualitas dan kemanusiaan: membersihkan hati, memperbaiki hubungan sosial, serta meneguhkan kembali nilai-nilai persaudaraan dalam Islam.

Karena itu, Idul Fitri bukan hanya perayaan setelah sebulan berpuasa. Ia adalah momentum rekonsiliasi hati, saat manusia kembali kepada fitrahnya: saling memaafkan, saling mendoakan, dan mempererat silaturahmi.

Pada akhirnya, Lebaran mengingatkan kita bahwa kemenangan sejati bukan hanya menahan lapar dan dahaga selama Ramadan, tetapi juga kemampuan membersihkan hati dari dendam, kesalahan, dan ego.

Minal aidzin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin. ***