Scroll untuk baca artikel
Megapolitan

Tragedi Gunung Sampah Bantargebang: 13 Korban Tercatat, 5 Masih Hilang di Bawah Longsoran

×

Tragedi Gunung Sampah Bantargebang: 13 Korban Tercatat, 5 Masih Hilang di Bawah Longsoran

Sebarkan artikel ini
Potret lonsor di TPST Bantargebang di Kota Bekasi yang dikelola oleh DKI Jakarta, lima orang diduga masih tertimbun longsor, Senin (9/3) - foto doc warga

KOTA BEKASI – Gunung sampah di TPST Bantargebang kembali menunjukkan betapa berbahayanya tumpukan limbah raksasa yang selama ini menjadi “rumah terakhir” sampah ibu kota. Longsor yang terjadi pada Minggu (8/3/2026) kini tercatat menelan 13 korban, dengan sebagian di antaranya masih belum ditemukan.

Data terbaru dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menyebutkan empat orang selamat, empat orang meninggal dunia, dan lima lainnya masih dilaporkan hilang.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Lima orang yang masih dicari tersebut dilaporkan oleh pihak keluarga melalui pengaduan ke kepolisian. Mereka terdiri dari dua sopir truk dan tiga pemulung yang diduga berada di sekitar lokasi saat longsor terjadi.

BACA JUGA :  Ombudsman Jakarta Raya: Pembatasan Warga Selama PPKM Darurat Belum Maksimal

Proses pencarian korban bukan perkara mudah. Tim penyelamat harus menghadapi gunungan sampah yang tinggi, kondisi material yang labil, serta kandungan gas berbahaya dari dalam tumpukan sampah.

Kondisi tersebut membuat operasi penyelamatan menjadi sangat berisiko bagi para petugas di lapangan.

Untuk mempercepat proses pencarian, sebanyak 15 alat berat dikerahkan guna mengurai material longsoran yang menimbun area kejadian.

Meski demikian, tim penyelamat tetap harus berhati-hati karena pergerakan sampah dan gas metana dapat membahayakan kesehatan serta memicu longsor susulan.

Menanggapi insiden tersebut, Pemerintah Kota Bekasi langsung bergerak melakukan koordinasi dan mengerahkan bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bekasi.

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menegaskan bahwa keselamatan pekerja dan masyarakat sekitar menjadi prioritas utama.

BACA JUGA :  Gus Ari Minta Umat Islam Tidak Terpancing Politik Identitas

“Lokasinya memang di Bekasi, tetapi pengelolaannya berada di bawah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Yang terpenting sekarang adalah memastikan penanganan berjalan cepat dan kondisi di lapangan aman,” kata Tri, Senin (9/3/2026).

Pemkot Bekasi juga melakukan langkah antisipasi untuk mencegah tumpahan sampah yang berpotensi mengalir ke Kali Asem atau ke permukiman warga di sekitar lokasi.

Petugas disiagakan untuk memonitor kondisi aliran air dan lingkungan sekitar guna mencegah dampak lingkungan yang lebih luas.

Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan bahwa operasi pencarian harus dilakukan dengan protokol keselamatan ketat.

Kepala BNPB, Suharyanto, menyebutkan bahwa prakiraan cuaca dalam dua hari ke depan menunjukkan potensi hujan di wilayah Jabodetabek yang dapat meningkatkan risiko longsor susulan.

BACA JUGA :  Fraksi PAN Meradang, Surat Pengunduran Berujung Ambigu

“Stabilitas material longsor yang masih labil berisiko memicu pergerakan tanah susulan. Tim di lapangan harus menjalankan protokol keselamatan yang ketat agar tidak menambah korban jiwa,” ujarnya.

BNPB juga mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar tempat pembuangan sampah maupun daerah dengan kontur lereng untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi pergerakan tanah.

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, telah menginstruksikan tim gabungan dari Basarnas, TNI, dan Polri untuk melanjutkan pencarian korban selama 24 jam.

“Pencarian tidak boleh berhenti sampai semua korban berhasil ditemukan,” tegasnya.***