Scroll untuk baca artikel
Lintas Daerah

Tujuh Hari Digali, Longsor Pasirlangu Masih Simpan 20 Korban

×

Tujuh Hari Digali, Longsor Pasirlangu Masih Simpan 20 Korban

Sebarkan artikel ini
Hingga Rabu (28/1/2026), pukul 16.00 WIB, total korban meninggal dunia yang berhasil dievakuasi sebanyak 53 kantong jenazah. Sementara itu, korban yang masih dalam pencarian sebanyak 27 jiwa. - foto doc

BANDUNG BARAT — Longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) belum selesai bercerita. Setelah tujuh hari pencarian tanpa jeda, tim SAR gabungan memutuskan operasi pencarian tetap dilanjutkan, meski tanah masih tebal, hujan tak kompromi, dan waktu darurat bencana terus berdetak.

Keputusan ini diambil usai evaluasi intensif pencarian sejak Sabtu (24/1/2026) hingga Jumat (30/1/2026). Kepala Basarnas Mohammad Syafii menegaskan, target utama adalah menemukan seluruh korban sebelum masa status darurat bencana berakhir.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Status darurat sendiri ditetapkan Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail selama 14 hari, terhitung sejak 24 Januari 2026. Separuh waktu berlalu, separuh korban masih tertinggal di bawah timbunan tanah.

BACA JUGA :  Fenomenda Ikan Mati Massal di Jabar

Pada hari ketujuh pencarian, tim SAR kembali menemukan lima kantong jenazah, sehingga total 60 kantong jenazah berhasil dievakuasi dan diserahkan ke Tim DVI Polda Jawa Barat.

Namun dari jumlah tersebut, baru 44 korban yang teridentifikasi. Artinya, 20 jiwa masih tertimbun longsoran, menunggu ditemukan atau ditemukan kembali oleh keluarga dalam bentuk kepastian.

“Jumlah korban yang masih dicari sebanyak 20 jiwa,” kata Syafii di lokasi bencana, Jumat (30/1).

Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah kursi makan yang kosong, rumah yang tak lagi lengkap, dan nama yang masih dipanggil dalam doa.

Lebih dari 3.000 personel tim SAR gabungan dikerahkan dalam operasi ini. Lima helikopter, 17 alat berat, serta 22 drone bekerja bergantian siang dan malam.

BACA JUGA :  PAD Jadi Kunci Keberhasilan Pemerintahan, Perlu Inovasi Gali Sumber Pemasukan Baru

Meski pencarian fisik dihentikan sementara saat malam hari demi keselamatan, operasi SAR tetap berjalan 24 jam melalui evaluasi, pemetaan ulang, dan koordinasi lintas instansi.

“Tantangan utama adalah ketebalan longsor di beberapa titik mencapai lebih dari 10 meter, ditambah curah hujan tinggi. Alat berat hanya bisa bekerja di tepian sektor,” ujar Syafii.

Dengan kata lain, tanahnya tebal, langitnya basah, dan waktu terus mendesak. Kombinasi klasik bencana alam Indonesia.

Di sisi lain, Pemkab Bandung Barat mulai menata masa depan para penyintas. Berdasarkan pemetaan Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT) dari Badan Geologi Kementerian ESDM, warga yang berada di zona kuning telah diizinkan kembali ke rumah.

BACA JUGA :  Basarnas Lampung Perkuat SAR Longsor KBB, 41 Korban Teridentifikasi 25 Masih Dicari

Namun bagi warga di zona rawan, pilihan tak lagi banyak: relokasi.

“Pemerintah daerah akan mencari lahan relokasi berdasarkan rekomendasi Badan Geologi, memastikan lokasi tersebut aman untuk dihuni,” kata Bupati Jeje.

Hunian sementara dan hunian tetap disiapkan. Karena dalam bencana, rumah bukan lagi soal bangunan melainkan soal rasa aman.

Bupati Jeje juga mengimbau warga KBB untuk meningkatkan kewaspadaan. Curah hujan tinggi masih mengintai, dan tanah seperti ingatan tak selalu stabil.

“Jika ada tanda bahaya, segera evakuasi ke tempat aman,” ujarnya.

Di Pasirlangu, pencarian masih berlanjut. Alat berat masih menggali. Drone masih menyisir. Dan tanah masih menyimpan rahasia.