LAMPUNG TIMUR – Setelah potret buram pelajar Desa Kali Pasir, Kecamatan Way Bungur, harus berangkat sekolah dengan menyeberangi sungai menggunakan perahu kayu lapuk tanpa pengaman viral di media sosial, perhatian publik akhirnya bergerak dari sekadar empati menjadi tindakan nyata. Pemerintah pusat resmi mengambil alih pembangunan jembatan penghubung Desa Kali Pasir–Desa Tanjung Tirto, Kabupaten Lampung Timur.
Jembatan yang direncanakan memiliki panjang sekitar 100 meter tersebut akan dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan nilai lebih dari Rp80 miliar. Proyek ini sekaligus menjadi penanda bahwa keselamatan pelajar akhirnya naik status dari urusan daerah yang bertahun-tahun berputar di tempat, menjadi prioritas nasional.
Pengambilalihan proyek dilakukan setelah kondisi pelajar yang setiap hari harus “lulus lebih dulu dari ujian arus sungai” demi sampai ke sekolah mendapat perhatian langsung Presiden Prabowo Subianto. Selama bertahun-tahun, warga setempat termasuk anak-anak dipaksa berdamai dengan risiko keselamatan akibat absennya jembatan yang layak.
Sementara itu di daerah, pemerintah setempat terlihat sibuk meng-counter situasi. Namun fakta lapangan berbicara lebih keras daripada rilis: proyek jembatan Way Bungur diketahui mangkrak sejak 2022, dan hingga video viral mencuat, belum ada solusi permanen yang benar-benar menyentuh kebutuhan warga.
Kekinian, melalui rilis resminya, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur mengklaim terus berupaya meningkatkan konektivitas antarwilayah, salah satunya melalui rencana pembangunan jembatan gantung sementara di Kecamatan Way Bungur. Klaim tersebut disampaikan usai peninjauan lapangan di lokasi penyeberangan Kali Pasir, Senin (2/2/2026).
Peninjauan tersebut dihadiri Anggota DPR RI Hanan A. Rozak, Anggota DPRD Provinsi Lampung Aditiya, Wakil Ketua DPRD Lampung Timur Ariyan Putra Marga, Kepala Dinas PU Lampung Timur Primadiatha Ramadheni, perwakilan Balai BPJN, Camat Way Bungur, serta unsur Forkopimcam.
Kepala Dinas PU Lampung Timur, Primadiatha Ramadheni, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan inventarisasi kebutuhan jembatan gantung sejak awal 2025.
“Sejak Januari sampai Desember 2025, kami telah mengusulkan tujuh pembangunan jembatan gantung ke Kementerian Dalam Negeri dan juga ke TNI,” jelasnya.
Menurutnya, hampir seluruh usulan tersebut mulai menunjukkan progres dan mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Pemkab Lampung Timur, kata dia, kini tinggal menunggu proses lanjutan sambil menyiapkan data dan dokumen pendukung.
“Alhamdulillah, dari usulan yang kami sampaikan hampir terealisasi. Ini menunjukkan dukungan dari pusat, provinsi, hingga Balai BPJN,” ujarnya.
Namun, di balik optimisme tersebut, terselip realitas anggaran. Untuk membangun jembatan permanen, Pemkab Lampung Timur mengakui membutuhkan biaya besar, berkisar Rp70–80 miliar, angka yang dinilai berat jika hanya mengandalkan APBD.
“Oleh karena itu, jembatan gantung menjadi solusi darurat, sambil terus berkoordinasi dengan provinsi dan pusat,” katanya.
Pemkab juga mengklaim telah mengusulkan enam jembatan gantung tambahan pada tahun 2026 untuk mendukung akses pelajar ke sekolah serta warga menuju fasilitas kesehatan. Bahkan ditegaskan, seluruh upaya tersebut disebut bukan karena video viral.
Namun ironisnya, rilis resmi Diskominfo Lampung Timur yang diunggah di media sosial justru menuai banjir komentar publik. Nada skeptis, sinis, hingga nyeleneh mendominasi respons warganet—seolah menegaskan bahwa kepercayaan publik tak semudah disusun lewat kalimat rilis.
Beberapa komentar warganet di antaranya:
- “Usul-usul terus, niat bangun apa jual lahan?”
- “Kalau nggak viral, nggak ada peninjauan.”
- “Takutnya jembatan gantung jadi, yang permanen dilupakan.”
- “Buktikan, jangan cuma wacana.”
- “Viral dulu baru kerja, ini risiko rakyat.”
- “Contoh tuh Gubernur Jawa Barat, angkat telepon langsung beres.”
Anggota DPR RI Hanan A. Rozak menyatakan dukungannya terhadap pembangunan jembatan di Way Bungur. Ia menilai jembatan tersebut merupakan kebutuhan mendesak, terutama bagi pelajar dan warga yang mengakses layanan kesehatan.
“Saya akan mengawal dan mendorong agar pembangunan jembatan gantung ini segera terealisasi, sekaligus mendorong jembatan permanen melalui dukungan pendanaan pusat,” tegasnya.
Kini, publik Lampung Timur menunggu satu hal sederhana: agar Way Bungur tak lagi dikenal sebagai daerah yang menunggu viral untuk dibangun, melainkan sebagai wilayah yang belajar dari masa lalu bahwa keselamatan anak sekolah seharusnya tidak menunggu sorotan kamera.***









