KOTA BEKASI – Media sosial kembali membuktikan satu hal, lidah lebih tajam dari banjir, dan konten bisa lebih deras dari luapan Kali Bekasi. Sebuah video TikTok berdurasi 39 detik dari akun @komporbks1 viral setelah memuat pernyataan yang dinilai mengandung ujar kebencian, penghinaan kolektif, serta provokasi bernuansa etnis terhadap warga Bekasi Utara, wilayah yang selama ini akrab dengan banjir, tapi tidak pernah siap dihina.
Dalam video tersebut, seorang pria paruh baya berkaos merah, dikenal dengan sapaan Haji Kompor, melontarkan kalimat yang sontak menyulut emosi publik.
“Udah, jual tuh kampung sama orang Cina, biar pada ternak buaya di sana.”
Sebuah kalimat singkat, padat, dan bagi banyak orang, penuh muatan masalah. Mulai dari pelecehan terhadap korban banjir, penyederhanaan persoalan struktural, hingga sentimen etnis yang di negeri ini bukan perkara main-main.
Tak cukup sampai di situ, sang kreator juga “memberi solusi” ala konten viral, warga Bekasi Utara disarankan angkat kaki dari kampung halaman.
“Pindah ke Selatan, ke Jonggol, Melati, di sini murah-murah dan nggak bakal kebanjiran.” Solusi cepat, murah, dan tentu saja… jauh dari realitas sosial.
Dihapus dari Akun, Tak Pernah Hilang dari Ingatan
Video itu kini memang sudah dihapus dari akun @komporbks1. Namun, seperti banjir tahunan, jejak digital tak pernah benar-benar surut. Potongan video, tangkapan layar, hingga rekaman ulang masih beredar luas di berbagai platform dan grup percakapan warga.
Alih-alih meredakan situasi, penghapusan video justru memantik kecurigaan, jika hanya satire biasa, mengapa harus ditarik diam-diam?
Bagi warga Bekasi Utara, banjir bukan konten lucu. Ia adalah soal rumah terendam, anak sekolah terhambat, ekonomi lumpuh, dan kebijakan tata ruang yang terus dipertanyakan. Ketika penderitaan itu dipoles jadi komedi dengan bumbu etnis, amarah pun menjadi reaksi paling manusiawi.
Warga Naik Darah, Jalur Hukum Mulai Dipanaskan
Asep, warga Tambun Utara, tak menyembunyikan kegeramannya. Menurutnya, pernyataan dalam video tersebut sudah melampaui batas kritik.
“Ini bukan kritik sosial. Ini penghinaan terbuka. Kami kebanjiran tiap tahun, malah disuruh jual kampung, diseret ke isu etnis pula. Kami serius mempertimbangkan laporan polisi,” ujar Asep, Senin (19/1/2026).
Ia menilai konten tersebut berpotensi melanggar UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), khususnya pasal terkait penghinaan dan ujaran kebencian berbasis SARA yang disebarkan melalui media elektronik.
Perspektif Hukum, Satire Ada Batasnya
Pakar hukum siber mengingatkan, tidak semua opini aman berlindung di balik tameng “konten kreatif”. Sebuah unggahan dapat dikategorikan sebagai ujaran kebencian jika:
- Menyerang kehormatan kelompok tertentu
- Mengandung provokasi berbasis identitas
- Disampaikan di ruang publik digital dengan jangkauan luas
Dalam konteks ini, frasa “jual kampung ke orang Cina” bukan sekadar kalimat bercanda. Ia membawa beban sejarah, sensitivitas SARA, dan potensi konflik horizontal sesuatu yang hukum Indonesia pandang serius.
Satir atau Sekadar Kebablasan?
Konten kreator kerap berdalih “Ini cuma satire.” Namun publik hari ini lebih cerdas. Satire tanpa empati bukan kritik, melainkan ejekan. Humor yang menertawakan korban bencana bukan keberanian, tapi kealpaan nurani.
Ironisnya, banjir Bekasi Utara yang seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah soal tata ruang, alih fungsi lahan, dan mitigasi bencana, justru dipelintir menjadi bahan konten yang mengadu warga dengan warga.
Menunggu Aparat, Kritik Tak Dilarang, Menghina Ada Batas
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pemilik akun @komporbks1 maupun dari Haji Kompor. Sementara itu, desakan agar aparat penegak hukum turun tangan kian menguat.
Bukan untuk membungkam kritik, melainkan menegakkan batas antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial di ruang digital.
Di tengah banjir yang belum surut dan emosi yang terlanjur naik, satu pesan menjadi terang, penderitaan warga bukan bahan candaan, apalagi komoditas provokasi. Bekasi butuh solusi. Bukan kompor. ***













