BATAM — Kawasan Jodoh Boulevard, yang selama ini identik dengan semrawut tata ruang dan ekonomi informal yang bertahan seadanya, mulai dilirik sebagai aset strategis. Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Helvi Yuni Moraza membawa pesan tegas dari pemerintah pusat, Jodoh tidak akan dihapus dari peta ekonomi Batam, melainkan ditata ulang dan dinaikkan kelas.
Dalam kunjungan kerjanya ke Batam, Helvi menyatakan komitmen Kementerian UMKM mendukung rencana BP Batam dan Pemerintah Kota Batam yang menargetkan kawasan Jodoh sebagai bagian dari ekosistem investasi nasional dan destinasi wisata belanja unggulan. Bagi pemerintah, Jodoh bukan sekadar pasar rakyat, melainkan simpul ekonomi yang selama ini bekerja keras tanpa dukungan sistem.
“Konsep yang dipaparkan BP Batam dan Pemko Batam sangat jelas: Batam ingin menjadi pusat investasi sekaligus kota wisata belanja. Di titik inilah UMKM tidak boleh hanya jadi penonton,” kata Helvi saat meninjau kawasan Jodoh Boulevard, didampingi Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam Mouris Limanto dan Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam Fary Djemy Francis.
Helvi menegaskan, Kementerian UMKM mengambil posisi sebagai mesin penggerak ekonomi lokal, bukan sekadar pemberi stempel persetujuan. Pendampingan usaha, akses pembiayaan, peningkatan kapasitas, hingga perluasan pasar sedang disiapkan agar pedagang Jodoh mampu bersaing dalam wajah baru kawasan tersebut.
“Modernisasi tidak boleh memutus akar sejarah. Jodoh punya nilai heritage dan ikatan sosial yang kuat. Ini harus dirawat, bukan disingkirkan,” ujarnya.
Revitalisasi Tanpa Penggusuran: Janji atau Desain Baru?
Menjawab kekhawatiran pedagang kecil yang kerap muncul setiap kali kata “revitalisasi” disebut, Helvi secara terbuka menepis isu penggusuran. Menurutnya, penataan kawasan justru ditujukan untuk memperbaiki kualitas ruang dan ekonomi, bukan mengosongkan lapak.
“Pedagang tetap berjualan di sini. Bedanya, dengan standar yang lebih tertata, bersih, profesional, dan layak sebagai kawasan wisata belanja,” tegasnya.
Ia menyebut penataan Jodoh Boulevard sebagai upaya mengubah ekonomi bertahan hidup menjadi ekonomi berdaya saing. Lapak yang selama ini berdiri apa adanya, akan diarahkan masuk dalam sistem yang lebih terstruktur tanpa kehilangan karakter lokalnya.
Untuk memastikan transisi berjalan mulus, pemerintah pusat akan membentuk tim teknis lintas lembaga yang melibatkan perbankan Himbara, BP Batam, serta Pemerintah Daerah.
Tim ini akan merancang skema pembiayaan, penataan lokasi, hingga mekanisme pendampingan usaha agar UMKM tidak terjebak biaya perubahan yang justru mematikan usaha.
Pemerintah juga menggandeng asosiasi pedagang untuk membuka ruang dialog. Para pelaku usaha akan diajak duduk bersama membahas konsep penataan, zonasi, hingga dukungan modal agar revitalisasi tidak berubah menjadi proyek elitis yang hanya ramah investor.
“Presiden memberi mandat jelas: UMKM harus dinaik-kelaskan. Bukan dipindahkan, apalagi disingkirkan,” ujar Helvi.
Revitalisasi Jodoh Boulevard kini menjadi ujian kebijakan apakah penataan kota mampu berjalan seiring dengan keadilan ekonomi.
Jika berhasil, Jodoh bukan hanya kembali sebagai ikon wisata belanja Batam, tetapi juga contoh bahwa modernisasi tidak harus mengorbankan pelaku usaha kecil.
Jika gagal, ia hanya akan menambah daftar kawasan yang rapi di foto, namun kehilangan denyut ekonomi warganya.***






