Scroll untuk baca artikel
Hukum & Kriminal

2 TNI Ikut Jadi Tersangka Kasus Kematian Tragis Kacab Bank di Jakarta, Begini Motifnya

×

2 TNI Ikut Jadi Tersangka Kasus Kematian Tragis Kacab Bank di Jakarta, Begini Motifnya

Sebarkan artikel ini
Dua anggota TNI AD Sersan Kepala (Serka) N dan Kopral Dua (Kopda) FH ditetapkan sebagai tersangka penculikan dan pembunuhan M Ilham Pradipta (MIP) kepala cabang sebuah bank di Jakarta Pusat, Selasa 16 September 2025 - foto doc

JAKARTA – Dimulai dari rekening bank yang lama tak disentuh, berakhir di persawahan wilayah Kabupaten Bekasi, dengan satu nyawa melayang. Motifnya, rekening dormant alias rekening mati. Tapi korban nyatanya lebih dulu mati dengan tragis.

Polda Metro Jaya akhirnya mengungkap motif sebenarnya di balik penculikan dan pembunuhan M. Ilham Pradipta (MIP), kepala kantor cabang pembantu (KCP) sebuah bank di Jakarta Pusat.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kasus ini, awalnya diduga hanya penculikan biasa, ternyata belakangan terbongkar, bahwa kasus ini beraroma “kriminal korporat yang sok canggih”.

“Para pelaku ingin memindahkan dana dari rekening dormant ke rekening penampungan yang sudah disiapkan,” ujar Kombes Wira Satya Triputra, Selasa (16/9), dalam konferensi pers.

BACA JUGA :  Direksi Perumda PDAM Tirta Bhagasasi Dilaporkan ke Kejaksaan Negeri Bekasi Terkait Dugaan Penggelapan

Dalangnya adalah C alias K, orang yang konon punya “akses” ke data rekening-rekening mati, rekening bank yang sudah tak aktif selama minimal tiga bulan. Mungkin di dunia mereka, ini disebut “harta karun digital”.

Tapi sayangnya, cara menggali hartanya bukan dengan sekop, melainkan dengan tim IT dan kekerasan berdarah.

C kemudian bertemu dengan Dwi Hartono (DH), yang dikenal publik sebagai “crazy rich Jambi”, meski kini lebih pantas menyandang gelar “crazy crime Jambi”. Bersama-sama mereka menyusun rencana hidupkan kembali rekening dormant dan keringkan ke rekening penampungan mereka.

Sayangnya, untuk mengeksekusi rencana “ajaib” itu, mereka butuh kepala cabang bank yang bisa diajak kerja sama.

BACA JUGA :  Sadis! Pengakuan Pelaku Mutilasi Wanita yang Badan dan Kepala Ditemukan Terpisah di Jakarta

Masuklah nama Ilham, kepala cabang bank yang ternyata tak tertarik bermain kotor. Dan di situlah semuanya menjadi kelam.

“C mengajak DH mencari kepala cabang yang bisa diajak kerja sama. Karena tak berhasil, akhirnya malah dijadikan target,” ujar Kombes Wira.

Ilham diculik di parkiran pusat perbelanjaan di kawasan Ciracas, Jakarta Timur, Rabu (20/8). Sehari kemudian, jasadnya ditemukan di area persawahan Kecamatan Serang Baru, Bekasi.

Polisi menyebut korban tewas karena kekerasan benda tumpul dan diduga mengalami hipoksia kekurangan oksigen sebelum akhirnya meninggal.

Entah bagaimana para pelaku bisa mengira bahwa orang yang menolak membantu skema kriminal bisa “diamankan” tanpa jejak.

Polisi menangkap 15 tersangka dalam jaringan ini, termasuk si “crazy rich” Dwi Hartono yang ironisnya memiliki usaha bimbingan belajar online. Entah apa yang diajarkan dalam bimbelnya, tapi tampaknya pelajaran moral dan etika bukan bagian dari kurikulum.

BACA JUGA :  Polda Lampung Musnahkan Narkoba Senilai Rp10,7 Miliar, 94 Ribu Jiwa Terselamatkan

Salah satu tersangka bahkan sudah menyiapkan tim IT, lengkap dengan data nasabah, jalur rekening penampungan, dan strategi pemindahan dana ala skema cybercrime.

Kisah ini menyentil kita semua: bahwa uang, bahkan yang sudah mati di dalam sistem, bisa membuat orang kehilangan akal. Dan ketika “investor gelap” sudah mulai main tangan dan main kasar demi membobol bank lewat belakang, kita bukan hanya butuh pengawasan keuangan ketat, tapi juga deteksi dini terhadap kebodohan yang terorganisir.***