Scroll untuk baca artikel
Opini

Kebangkitan Nusantara = Kebangkitan Muslim Nusantara

×

Kebangkitan Nusantara = Kebangkitan Muslim Nusantara

Sebarkan artikel ini
Abdul Rohman Sukardi
Abdul Rohman Sukardi

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi

WAWAINEWS.ID – Kerinduan atas kebangkitan Nusantara kerap dikaitkan kejayaan Sriwijaya, Majapahit, ataupun Mataram kuno bukan sekadar nostalgia romantis. Kerinduan itu merupakan pencarian esensi energi peradaban yang pernah menjadikan kepulauan ini aktor penting sejarah regional dan global.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Untuk membaca dinamika kebangkitan peradaban, teori-teori besar seperti Arnold Toynbee (challenge and response), Ibn Khaldun (ʿasabiyyah, solidaritas sosial, dan siklus peradaban), serta Samuel Huntington (civilizational identity) memberi kerangka konseptual yang kuat.

Berdasarkan warisan sejarah dan teori tersebut, kebangkitan Nusantara dapat dirumuskan melalui tiga pilar. Kesadaran sebagai peradaban independen. Fondasi spiritual ber-Tuhan. Pembangunan subsistem ilmu–ekonomi–kenegaraan.

Pertama: kesadaran Nusantara sebagai entitas peradaban independen.

Teori peradaban mengajarkan kebangkitan selalu dimulai dari kesadaran diri kolektif. Huntington menyebutnya sebagai civilizational confidence. Kepercayaan bahwa suatu masyarakat merupakan peradaban utuh. Bukan pinggiran dari peradaban lain.

Toynbee pun menegaskan: suatu peradaban bangkit ketika mampu menjawab tantangan secara kreatif. Bukan pasif.

Sejarah menunjukkan Nusantara memiliki karakter peradaban independen yang matang. Sriwijaya (abad 7–14) bukan hanya kerajaan maritim. Tetapi pusat pembelajaran internasional. Itu disebut dalam catatan I-Tsing.

Majapahit (abad 13–15) membangun struktur politik kepulauan dan menyusun konsepsi geopolitik “Nusantara”. Kemudian diwariskan dalam tradisi negara-bangsa modern.

Masyarakat pesisir Nusantara menguasai navigasi, pembuatan kapal, dan jaringan perdagangan luas hingga Afrika Timur dan Teluk Persia. Dibuktikan temuan arkeologis dan catatan saudagar Arab–Cina.

BACA JUGA :  Kepri Resmi Miliki Pusat Pengembangan Ekonomi Kreatif yang Ikonik di Kota Gurindam

Istilah Nusantara sendiri muncul sejak era Kertanegara dari Singhasari. Dipertegas Sumpah Palapa Gajah Mada. Istilah ini mencerminkan kesadaran geopolitik dan kultural. Bahwa wilayah kepulauan besar di antara dua samudera dan dua benua ini adalah satu entitas peradaban.

Kesadaran sebagai peradaban maritim yang independen bukan sekadar “wilayah pasif” atau “halaman belakang” kekuatan lain adalah fondasi kebangkitan kembali. Maka segala bentuk cara pandang minor terhadap Nusantara sebagai peradaban, akan memicu perlawanan.

Kedua: Filosofi Peradaban – Tradisi Nusantara sebagai Bangsa Ber-Tuhan

Ibn Khaldun menekankan peradaban hanya bertahan jika memiliki fondasi moral dan spiritual yang kuat sebagai perekat ʿasabiyyah (solidaritas sosial). Dalam sejarah Nusantara, hampir semua kerajaan besar bertumpu pada nilai ketuhanan baik Hindu-Buddha, Islam, maupun tradisi lokal. Tuhan selalu ditempatkan sebagai sumber moralitas, kesucian hukum, dan legitimasi politik.

Pada level kontemporer, penelitian tentang state capacity dan nation-building (misalnya oleh Fukuyama dan Acemoglu) menunjukkan masyarakat dengan shared moral framework kerangka nilai bersama cenderung memiliki solidaritas lebih kuat.

Memiliki tingkat kepercayaan sosial tinggi, lebih mudah membangun institusi negara yang efektif. Lebih tahan terhadap krisis sosial-politik.

Nilai ketuhanan dalam tradisi Nusantara melahirkan etos: kejujuran, tanggung jawab, kesetiaan, gotong royong, dan penghormatan pada hukum. Nilai-nilai inilah yang membuat masyarakat kepulauan berhasil membangun jaringan dagang luas sekaligus stabilitas sosial yang cukup panjang.

BACA JUGA :  Kirab Budaya Klenteng Bu An Kiong, Jadi Penanda Keberagaman Bukan Sekadar Slogan di Bekasi

Ketiga: subsistem sebagai tiang peradaban Ilmu, Ekonomi, dan Kenegaraan

Seni, budaya, dan ritual Nusantara tari, arsitektur, tradisi lisan, batik, gamelan sering dianggap inti kebangkitan. Padahal teori peradaban menjelaskan atribut budaya hanyalah ekspresi luar. Inti peradaban adalah institusi: ilmu pengetahuan, ekonomi, hukum, dan birokrasi.

Toynbee menegaskan sebuah peradaban runtuh bukan karena hilangnya seni, tapi karena melemahnya creative minority. Ialah kelompok intelektual, ulama, teknokrat, dan negarawan yang bertugas menjaga arah peradaban.

Karena itu, kebangkitan Nusantara menuntut pembaruan subsistem. Berupa pusat-pusat riset dan inovasi, ekonomi maritim dan agrikultur modern, ekonomi kreatif berbasis identitas budaya, birokrasi bersih dan efektif. Juga sistem pendidikan yang menghasilkan ilmuwan dan teknolog. Begitu pula tata kelola negara yang berkeadilan.

Seni dan tradisi tetap penting mereka adalah identitas, tetapi bukan tiang peradaban. Tiangnya adalah ilmu, ekonomi produksi, dan sistem politik yang kokoh.

Keempat: kebangkitan Nusantara sejalan dengan kebangkitan Muslim Nusantara.

Demografi saat ini menempatkan 87% penduduk Indonesia sebagai Muslim (BPS 2024). Artinya, setiap gagasan kebangkitan Nusantara secara otomatis terkait kebangkitan Muslim Nusantara.

Ditandai karakter moderasi (wasathiyah), kosmopolitanisme maritim, adaptasi kreatif antarbudaya, warisan ulama besar dari Aceh, Jawa, Minangkabau, Makassar, Ternate Tidore.

Pola keagamaan garis keras, eksklusif, memaksakan homogenitas selalu resisten. Tersisih dari denyut utama masyarakat.

Dalam konteks global, umat Islam Nusantara berpotensi menjadi aktor penting. Berupa diplomasi internasional berbasis moderasi, industri halal dan keuangan syariah, sains dan teknologi, pendidikan Islam modern, kontribusi budaya global (tasawuf, seni, sastra, arsitektur).

BACA JUGA :  Prioritas Legislasi Berdasar Konstitusi

Dengan demikian, revival Nusantara sama artinya revival Islam Nusantara. bukan dalam pengertian ritual semata. Tetapi sebagai energi moral, intelektual, dan sosial-spiritual yang menghidupkan kembali kemampuan bangsa membangun peradaban.

Salah satu tantangan terbesar gerakan kebangkitan Nusantara hari ini adalah jebakan romantisisme budaya. Mengira kebangkitan bisa dicapai hanya dengan menghidupkan simbol-simbol lama: tari, pakaian, upacara adat, atau mitos kepahlawanan.

Simbol memang penting sebagai identitas, tetapi jika tidak diikuti reformasi struktural, maka semua itu hanya menjadi “teknik merawat impian”. Kebangkitan tidak lahir dari simbol, tetapi dari institusi kuat dan etos kerja kolektif.

Dengan membaca sejarah dan teori secara utuh, dapat ditegaskan kesadaran sebagai peradaban independen memberi pondasi mental dan geopolitik. Fondasi spiritual ber-Tuhan memberikan etos moral dan sosial penopang integritas dan solidaritas. Institusi ilmu, ekonomi, dan kenegaraan merupakan tiang kebangkitan sesungguhnya.

Mayoritas Muslim Nusantara menjadikan kebangkitan peradaban hari ini sebagai kebangkitan peradaban Islam khas kepulauan. Moderat, ramah, kosmopolitan.

Kebangkitan Nusantara bukan sekadar merayakan seni dan tradisi. Melainkan membangun peradaban: Ilmu, moralitas, solidaritas, institusi, dan daya saing global. Spiritualitas dan identitas budaya sebagai energinya.

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com).